Selasa, 20 November 2012

Contoh Esai Argumentasi

Kali ini kita akan fokuskan perhatian pada esai argumentasi. Sesuai dengan namanya, esai ini berisi opini tentang suatu persoalan yang sedang hangat dibicarakan dalam masyarakat dan penulis menyampaikan argumen atas persoalan tersebut berdasarkan pengetahuan dan pandangan yang dia anut. Opini dan argumen yang disampaikan harus didukung dengan data-data yang handal dan disampaikan secara logis dan komprehensif. Esai ini bertujuan untuk memberikan wawasan kepada pembaca tentang persoalan yang dibahas yang ditinjau dari kaca mata atau pandangan penulis. Berikut adalah contoh esai argumentasi.

 Haruskah Ada Pembedaan Olah Raga bagi Pria dan Wanita?

Rasanya tidak mungkin untuk meremehkan peran olah raga bagi kesehatan dan dalam hidup kita, khususnya bila hal ini dikaitkan dengan kaum muda. Olah raga jauh lebih penting dari sekedar hobi yang menyehatkan. Sebagaimana telah dibuktikan dalam sebuah riset, keikutsertaan secara aktif dalam olah raga memberikan pengaruh positif bagi kehidupan sosial remaja, meningkatkan self-esteem dan bahkan prestasi akademik (Sitkowski, 2008). Tak perlu juga diragukan bahwa aktifitas olah raga sangat bermanfaat baik bagi pria maupun wanita. Akan tetapi, sulit dipercaya bahwa 50 tahun lalu, wanita memiliki kesempatan yang sangat terbatas untuk melakukan aktifitas olah raga di sekolah dan juga universitas. Keadaan berubah setelah adanya amandemen undang-undang olah raga yang menyatakan bahwa wanita memiliki hak yang sama dengan pria untuk berpartisipasi dalam olah raga di semua tingkatan pendidikan dan mendapat sokongan finansial yang sama dengan pria.

Apa artinya hal ini bagi kita sekarang? Apakah itu berarti bahwa setiap wanita berhak untuk menjalankan semua jenis olah raga? Tentu tidak demikian. Namun, hal ini berarti bahwa setiap orang tanpa memandang jenis kelamin memiliki kesempatan yang sama untuk memainkan olah raga apa pun yang ditawarkan oleh institusi pendidikan. Persoalannya, haruskah olah raga dibedakan bagi pria dan wanita? Ada tiga alasan pokok mengapa pandangan ini harus ditentang.

Pertama, dilihat dari perspektif psikologis, baik pria maupun wanita sama-sama mampu untuk melakukan semua jenis olah raga. Semakin sedikit olah raga yang dipertandingkan di Olimpiade yang hanya diperuntukkan bagi pria atau wanita saja. Wanita dapat bertinju atau mengambil bagian dalam lomba balap mobil, persis seperti pria dapat juga berpartisipasi dalam synchronized swimming atau senam ritmik. Kalaupun beberapa olah raga tertentu lebih populer di antara kaum hawa atau adam, itu tidak berarti bahwa lawan jenis tidak dapat memainkan olah raga tersebut. Lagi pula, undang-undang menyatakan bila tidak terdapat tim baseball wanita di sebuah sekolah menengah, seorang murid wanita boleh menjadi pemain untuk tim putra sekolahnya, meskipun siswa pria tidak dapat melakukan hal yang sama untuk tim perempuan karena pemain putra sudah banyak diwakili dalam dunia olah raga. Poin utama di sini adalah bahwa kecenderungan dan opini publik tentang olah raga selalu berubah sesuai zaman dan kecenderungan umumnya adalah menjadikan semua jenis olah raga dapat dimainkan oleh kedua jenis kelamin karena tidak ada alasan-alasan objektif yang menyebutkan bahwa olah raga tertentu harus dimainkan oleh jenis kelamin tertentu.

Kedua, anggapan yang sifatnya stereotipikal bahwa pria, bila dibandingkan dengan wanita, jauh lebih tertarik dengan olah raga hanyalah propaganda murahan yang didasarkan atas mitos yang salah kaprah. Tidak ada satu penelitian pun yang mengamini anggapan ini. Kenyataannya, wanita sama tertariknya dengan pria dalam hal olah raga di usia muda mereka. Namun karena pengaruh sosial, nilai-nilai tradisional, dan tekanan dari teman sebaya, wanita akhirnya menjadi menarik diri dari aktifitas dan pertandingan olah raga. Sebagai akibatnya, wanita menjadi terbiasa untuk lebih bersikap tenang dan kurang berhasrat untuk memainkan olah raga secara aktif.  Faktor-faktor lain yang sangat mempengaruhi pilihan seorang wanita untuk menghabiskan waktu senggang mereka adalah, tentu saja, didikan dan contoh orang tua serta kesempatan yang ada dalam masyarakat. Sebagai acuan, semakin maju sebuah masyarakat, baik secara ekonomi maupun sosial, semakin tipis adanya pembedaan olah raga yang disebabkan oleh perbedaan dalam jenis kelamin.

Pada saat yang bersamaan, jelas keliru kalau menganggap bahwa motivasi pria dan wanita untuk berolah raga dan kemampuan fisik mereka adalah sama. Ada banyak alasan yang masuk akal mengapa kejuaraan, turnamen, dan asosiasi olah raga dipertandingkan secara terpisah. Seorang petenis wanita akan memiliki kesempatan kecil untuk mengalahkan pemain pria yang berada di peringkat yang sama karena pria umumnya dapat memukul bola jauh lebih keras dari pada wanita.  Ini tidak ada kaitannya dengan latihan atau usaha. Ini semata-mata karena secara alamiah tubuh kita berbeda antara pria dan wanita dan mengabaikan perbedaan ini merupakan kekeliruan yang buruk. Alasan lainnya adalah motivasi. Sebagaimana ditunjukkan dalam penelitian, umumnya secara alami wanita lebih termotivasi oleh peningkatan diri dan tujuan-tujuan yang dikaitkan dengan keberhasilan tim, sedangkan pria lebih tertarik dengan gagasan untuk memenangkan tantangan atau suatu pertandingan ketimbang hal-hal lainnya.  Sekali lagi, pandangan ini dilihat dari kenyataan statistik secara umum yang tentu saja bisa berbeda dengan kasus-kasus individual. Namun pandangan-pandangan ini patut dipertimbangkan ketika membicarakan perbedaan dalam bidang atletik antara pria dan wanita dan cara bagaimana pria dan wanita seharusnya dilatih.


Sebagai simpulan, olah raga sangat bermanfaat dan karenanya tidak ada seorang manusia pun di dunia ini yang dibatasi untuk melakukannya dalam masyarakat moderen entah karena alasan ras, umur, jenis kelamin, atau pun karakter seseorang. Olah raga memungkinkan anak-anak dan kaum muda kita untuk menjadi percaya diri, memperluas lingkaran pertemanan dan pergaulan, dan juga mengenalkan mereka pada kegiatan positif yang bisa jadi nantinya menjadi pekerjaan atau kesenangan seumur hidup. Membedakan pria atau wanita untuk memainkan berbagai jenis olah raga jelas keliru.  Alasan-alassan objektif mengapa orang memilih olah raga yang satu dibanding yang lainnya adalah karena kesukaan personal, kemampuan fisik individual, dan fasilitas infrastruktur yang ada di lingkungan di mana mereka tinggal.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...