Selasa, 13 November 2012

Contoh Esai Ekspositori


Seperti yang telah dibahas dalam bagian pertama tulisan berjudul Jenis-Jenis Esai, kali ini kita akan mengamati secara lebih detil tentang esai ekspositori. Fungsi utama esai ekspositori adalah untuk menjelaskan/menginformasikan atau untuk memperkenalkan pembaca dengan sesuatu hal.  Esai ini dapat digunakan untuk melukiskan sesuatu, menghadirkan informasi, atau menjelaskan suatu persoalan secara gamblang dan terperinci. Berikut adalah salah satu contoh esai ekspositori.

 Problem Obesitas di Amerika

Obesitas atau kegemukan adalah istilah medis yang digunakan untuk mendeskripsikan keadaan seseorang yang memiliki kelebihan berat badan sekurang-kurangnya 20% dari acuan yang telah ditetapkan dalam kategori obesitas (Simon, 2011). Perdebatan apakah obesitas merupakan ukuran relatif dan seharusnya tidak digunakan sebagai sebuah stigma untuk menyebut orang yang kelebihan berat badan telah lama berkembang di masyarakat. Meskipun demikian, fakta menunjukkan adanya kecenderungan bahwa seseorang dianggap memiliki kualitas hidup yang lebih buruk bila ia lebih gemuk dari ukuran normal sesuai dengan umur dan jenis kelamin, kesehatan dan kemakmuran seseorang. Obesitas barangkali tidak dapat dianggap sebagai penyakit serius karena obesitas tidak menular sebagaimana flu, kanker, atau penyakit yang sulit disembuhkan seperti AIDs. Namun, telah terbukti bahwa obesitas terkait secara signifikan dengan beragam kemungkinan yang memicu timbulnya penyakit jantung, depresi, diabetes, dan penuaan prematur serta penyakit lain yang terkait dengan syaraf otak.  Lagi pula, obesitas menurunkan kualitas hidup karena orang gemuk sulit menjalankan aktifitas harian, sulit berperilaku enerjik dan aktif, sulit berolah raga dengan mudah, dan khawatir saat menikmati beragam makanan. Kerena itu, ketika membicarakan persoalan obesitas di Amerika, yang saat ini menjadi problem sangat serius, kita perlu mempertimbangkan penyebab dan faktor yang memicu persoalan ini agar kita dapat menyusun program kesehatan yang efektif untuk menangani persoalan ini di AS.

Banyak orang berpendapat bahwa obesitas terkait dengan keturunan, dan pemerintah dan lembaga-lembaga kesehatan di masyarakat (LSM) kurang peduli dengan persoalan ini. Memang ada benarnya bahwa bagi sebagian orang, mereka lahir dengan kemungkinan yang lebih tinggi untuk memiliki berat badan berlebih dan akhirnya mengidap obesitas. Sekalipun demikian, anggapan ini tidak dapat dianggap sebagai problem Amerika belaka sebab obesitas juga tersebar secara hampir merata di ras dan etnik yang berbeda. Data statistik menunjukkan bahwa sekitar 20% penduduk dunia mengalami obesitas. Namun jumlah ini secara signifikan lebih tinggi dalam masyarakat Amerika. Karena itu, kita perlu melihat faktor-faktor yang dapat menjelaskan mengapa problem obesitas lebih serius di Amerika ketimbang di Jerman, Australia, atau Brasil. Salah satu faktor yang tak dapat diragukan lagi adalah kebiasaan makan.

Orang Amerika memiliki kebisaan makan yang tidak sehat, suka mengonsumsi makanan cepat saji dan minuman bersoda yang berkadar gula tinggi. Kentang goreng, pizza, burger, dan kola dingin merupakan asupan makanan yang paling sering disantap. Dengan menyantap makanan dan minuman semacam ini secara terus-menerus, anak-anak, remaja, dan orang dewasa Amerika memiliki metabolisme tubuh yang 12 kali lebih lambat sebagaimana dibuktikan dalam riset yang dilakukan Harris dan Jenkins di 2008. Ini berarti volume makanan yang sama akan dicerna 12 kali lebih lambat oleh remaja Amerika ketimbang oleh remaja Rusia atau Afrika yang memiliki kebiasaan makan yang lebih sehat. Lagi pula, beragam masalah kesehatan seperti sakit perut, dysbacteriosis, cholecystitis dan diabetes, yang secara langsung terkait dengan kebiasaan makan seseorang, semuanya berpengaruh negatif terhadap berat badan seseorang dan jumlah lemak dalam tubuh. Karena itu, ketika berupaya untuk menurunkan tingkat obesitas, kita perlu mulai dengan mengubah secara total kebiasaan makan dan menghindari konsumsi makanan cepat saji dan minuman dengan kandungan gula tinggi.

Poin lain yang perlu dipertimbangkan ketika membicarakan kebiasaan makan orang Amerika adalah kurangnya buah dan sayuran dalam rasio diet harian mereka. Kita beranggapan bahwa segelas jus jeruk yang dibuat dari sari konsentrat jeruk dengan pemanis buatan, atau beberapa potong anggur sebagai taburan cupcake untuk pencuci mulut, atau semangkuk salad bayam untuk makan malam sudah mencukupi keperluan akan pemenuhan vitamin dan mineral bagi tubuh. Sebenarnya, diet semacam ini jauh dari apa yang seharusnya diperlukan tubuh.  Lima jenis buah berbeda dan lima sayuran berbeda sehari adalah syarat minimal untuk membangun hidup sehat (Parker et al., 2011). Kunci hidup sehat adalah mengonsumsi makanan beragam dan produk-produk makanan yang segar. Di AS, hanya sedikit supermarket yang menyediakan dan menjual buah dan sayuran segar yang ditanam secara alami.  Di banyak kasus, justru jaringan supermarket lah yang mendistribusikan produk-produk non alami bagi masyarakat Amerika. Buah dan sayur dari supermarket seperti Wall-Mart atau Safeway tidak banyak mengandung nutrisi yang diperlukan sebagaimana buah dan sayur yang ditanam secara alami atau di kebun kita sendiri yang dipanen persis sebelum kita konsumsi dan tumbuh tanpa pestisida dan pupuk buatan. Sayangnya, menanam buah dan sayur di kebun sendiri bukan hal yang kebanyakan dari kita lakukan atau kehendaki. Kalau demikian, apakah ada solusi akan hal ini? Makanan organik. Makanan jenis ini dipandang sebagai makanan mahal meskipun jauh lebih menyehatkan dari pada makanan yang ditawarkan di supermarket. Ketika kesehatan menjadi pertimbangan utama, pencegahan dan kehati-hatian merupakan tindakan yang lebih murah dari pada pengobatan. Karena itu, solusi yang paling sesuai bagi setiap keluarga Amerika adalah membelanjakan lebih banyak uang mereka untuk buah dan sayur organik yang lebih segar dan menyehatkan dari pada kudapan-kudapan yang kurang sehat seperti keripik, kue kering, dan donat.

Faktor penting lain yang sering kita lupakan ketika mencari tahu mengapa tingkat obesitas di Amerika begitu tinggi adalah ukuran atau porsi makanan yang dikonsumsi. Berbagai penelitian komparatif membuktikan bahwa rata-rata porsi makan yang dikonsumsi orang Amerika jauh lebih banyak ketimbang porsi makan orang di negara-negara lain. Misalnya, satu porsi pasta yang disajikan di restoran Amereka dapat dijadikan menjadi 3,6 porsi di restoran Jepang, 3,2 porsi di Cina, 3,1 porsi di Prancis, 2,8 porsi di Rusia, 2,3 porsi di Polandia, dan 2,2 porsi di Italia (The Davis Report, 2011). Apakah sesungguhnya orang Amerika makan lebih banyak ketimbang orang di negara-negara lain? Tampaknya demikian kalau kita melihat statistik ini. Sebenarnya, orang Amerka bukan orang dengan badan tertinggi atau teraktif di dunia, namun karena beberapa alasan orang Amerika mengonsumsi dua kali lebih banyak ketimbang orang Belanda yang lebih sering bersepeda ketimbang orang Amerika yang lebih suka mengendarai mobil, atau dua kali lebih banyak ketimbang orang Rusia yang lebih suka jalan kaki sepanjang 2,9 mil sehari ketimbang orang Amerika yang hanya setengah mil per hari. Orang Amerika terbiasa makan lebih banyak ketimbang yang diperlukan tubuh karena kebiasaan semenjak masa kanak-kanak dan hal ini perlu diubah. Kali lain kita ke restoran dengan memesan semangkuk penuh salad dengan menu utama sepiring besar spaghetti dan segelas teh, kita perlu mengingatkan diri kita bahwa perut kita hanya seukuran kepalan laki-laki dewasa yang bisa saja menggelembung sebesar kepala kita kalau dijejali dengan begitu banyak makanan.

Kita akui atau tidak, obesitas merupakan problem bagi masyarakat Amerika. Obesitas ini menimbulkan begitu banyak masalah kesehatan sehingga kualitas hidup orang Amerika lebih buruk dibanding beberapa dekade lalu. Sebagian orang berpendapat bahwa  mereka mencoba untuk menjalani kehidupan yang aktif seperti berolah-raga dan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan komunitas, namun mereka masih mengalami problem obesitas. Inilah persoalan yang menimpa sebagian besar masyarakat Amerika yang lupa bahwa sejalan dengan berubahnya gaya hidup, pergi ke tempat kebugaran dan lari pagi, mereka perlu mengubah kebiasan makan dengan cara mengonsumsi lebih banyak makanan alami yang segar dan menyehatkan, berhenti makan junk food, mengurangi porsi makan sampai setengahnya, dan mulai mengonsumsi dengan cerdas.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...