Rabu, 28 November 2012

Contoh Esai Literatur

Esai literatur lain dengan tinjauan (resensi). Esai literatur melakukan rekonstruksi atas makna dari sebuah karya sastra. Jenis esai seperti ini jelas lebih rumit ketimbang sekedar tinjauan meskipun keduanya bermaksud untuk mengevaluasi karya sastra. Esai literatur lebih condong berisi komentar atau opini penulis atas sebuah atau beberapa karya sastra dengan memfokuskan pada aspek atau persoalan tertentu. Esai literatur menitikberatkan pembahasan pada unsur-unsur yang membangun karya sastra seperti: alur, karakter dan karaketerisasi, tema, gaya penulisan, nada dan suasana, dan keunggulan khusus dari dari karya yang dibahas. Isinya membahas bagaimana karya ini menjelaskan atau menyinggung suatu persoalan tertentu dengan memakai sudut pandang tertentu dan bagaimana detil-detil karya ini mendukung sudut pandang tersebut. Berikut adalah salah satu contoh esai literatur.

Alienasi Tokoh Utama dalam
Drama Hedda Gabler dan Novel Madame Bovary


Watak manusia terbentuk melalui proses interaksi dengan sesama dan lingkungannya. Proses interaksi inilah yang merangsang kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Sayang, seiring berkembangnya zaman, interaksi sosial tersebut kian terlupakan. Kodrat manusia sebagai makhluk sosial kian terdegradasi sehingga menumbuhkan sikap individualis dalam diri manusia. Tanpa disadari individualisme mendorong masyarakat menuju sebuah bentuk alienasi atau keterasingan dalam lingkungan sosial. Proses yang sama terjadi pada tokoh utama Hedda dalam drama Hedda Gabler karya Hendrik Ibsen dan Emma dalam novel Madame Bovary karya Gustave Flaubert. Kedua tokoh perempuan ini merupakan tokoh sentral dalam kedua karya ini dan merepresentasikan perasaan terisolir sehingga mereka harus menipu diri sendiri.
            Secara teoritis, alienasi adalah tindakan manusia yang tidak berdasarkan pada kebebasan otonomi individunya melainkan sebuah aktivitas yang berdasarkan kekuatan-kekuatan di luar dirinya  (Rosyadi, 2000). Apabila teori ini dikaitkan dengan dunia sastra, kekuatan-kekuatan di luar diri tokoh dapat menjadi konflik yang dialami seorang tokoh sebagai akibat dari kesenjangan sosial dengan tokoh lain atau dengan masyarakat. Kesenjangan sosial ini memunculkan beberapa bentuk keterasingan yang dialami oleh Hedda dan Emma. Bila dicermati, dalam kedua karya klasik ini, alienasi yang dialami Hedda dan Emma dapat dicermati melalui tiga hal: ketidakberdayaan, ketiadaan makna hidup, dan keterasingan diri.
Ketidakberdayaan merupakan kondisi ketika seseorang tidak mampu melawan kekuatan eksternal. Kekuatan ini memaksa seseorang untuk melakukan penyesuaian karakter agar sesuai dengan tuntutan kebutuhan dari kekuatan eksternal tersebut. Secara perlahan-lahan, penyesuaian ini dapat mengasingkan tokoh dari kepribadiannya yang asli atau dari seorang manusia yang nyata. Dalam Hedda Gabler, ketidakberdayaan Hedda disebabkan oleh kekangan norma-norma sosial yang berlaku. Norma kesopanan yang berlaku memaksa Hedda untuk bersikap sensitif dan lembut terhadap orang lain, terutama orang yang lebih tua. Hal ini terlihat dari kekhawatiran Hedda terhadap perasaan bibi suaminya, Nyonya Tesman, saat tanpa sengaja Hedda menyinggung topi miliknya,
HEDDA (beranjak dari pintu kaca) : “Menurutmu apa dia betul-betul tersinggung karena urusan topi itu?” (Ibsen, I, 297)
Dialog antara Hedda dan suaminya menunjukkan karakter sensitif yang sekaligus menekankan sisi feminin Hedda. Kenyataannya, ketika pembaca memasuki pertengahan babak dari kisah Hedda Gabler, pembaca akan menyadari sosok manipulatif dalam diri Hedda sebagaimana tercermin melalui perkataanya sendiri,
HEDDA : “Betul, ada sesuatu. Aku ingin, sekali saja selama hidupku memiliki daya kekuatan terhadap nasib seorang manusia.” (Ibsen, II, 357)
Manipulasi terkait erat dengan maskulinitas pria, bahkan seorang pria yang dominan. Karakter yang bersebrangan ini menekankan bagaimana Hedda harus berpura-pura menjadi orang yang sama sekali bukan dirinya. Norma kesopanan telah membatasi ruang gerak kepribadian Hedda yang maskulin dan memaksa Hedda untuk menjadi sosok yang feminin. Perubahan sosok yang dilakukan Hedda untuk menjadi wanita feminin memperlihatkan ketidakberdayaan Hedda untuk melawan nilai-nilai masyarakat yang ada. Ia menyerah kepada latar sosial yang mengelilinginya.
            Di sisi lain, ketidakberdayaan juga dialami tokoh utama Emma dalam novel Madame Bovary yang disebabkan oleh kecenderungan konsumtifnya. Emma memiliki obsesi untuk menjadi bagian dari kaum borjuis. Obsesi ini terlihat dari antusiasmenya yang tinggi ketika diajak ke sebuah pesta dansa. Sayangnya, latar belakang finansial yang seadanya tidak mampu mewujudkan obsesinya. Emma berpikir bahwa nuansa elegan kaum atas merupakan bagian dari romantisme dambaannya. Bahkan pada perselingkuhannya dengan Rodolphe dan Leon terlihat jelas betapa konsumtifnya Emma. Saat berselingkuh dengan Rodolphe, ia menghadiahi Rodolphe berbagai benda mewah. Saat berselingkuh dengan Leon, ia menguras uang suaminya dengan bergaya hidup mewah. Bahkan untuk mengimbangi gaya hidup mewahnya, ia rela berhutang kepada rentenir. Hakikatnya, barang konsumsi bertujuan untuk mempermudah kehidupan manusia. Namun, pada kasus Emma, barang konsumsi telah menjadi satu bentuk kepuasan fantasi yang dirangsang oleh nafsu belaka. Gaya hidup konsumtif Emma yang tidak sejajar dengan kemampuan finansialnya akhirnya menjerumuskan Emma. Sayang, tak ada satupun manusia yang dapat membantu Emma sehingga ia merasa terasing. Fantasi Emma akan gaya hidup konsumtif kelas atas merupakan bentuk fantasi yang telah mengasingkan dirinya dari dunia nyata. Emma seolah-olah hidup dalam dunia khayalan yang membelitnya. Ia tidak mampu menahan dirinya dari godaan fantasi singkat.
            Interaksi sosial mengajarkan manusia untuk memahami makna hubungannya dengan orang lain. Namun, di era modern, makna hubungan antar manusia hanya dianggap sebagai objek untuk meraih ambisinya. Pengobjekan manusia ini mengerdilkan makna manusia lain. Ketika manusia berpola pikir seperti ini, mereka telah mengalami ketiadaan makna akan kehidupan. Dalam Hedda Gabler, ketiadaan makna akan hidup tercermin melalui absennya cinta. Hedda memanfaatkan suaminya Tesman untuk meraih kesuksesesan dan kestabilan dalam kasta sosial. Sebagai seorang terpelajar, Tesman jelas akan memiliki karir yang cemerlang di masa depan. Karir ini akan menjamin kelangsungan hidup Hedda dan memudahkannya sampai pada status sosial yang dihormati. Pernikahannya dengan Tesman dipakai sebagai loncatan Hedda untuk mempertahankan derajat sosialnya. Hedda menganggap Tesman sebagai objek semata tanpa cinta yang tulus. Hedda telah mati rasa terhadap cinta demi ambisinya. Di pihak lain, Tesman terlalu sibuk dengan dunia ilmu pengetahuannya sendiri tanpa memikirkan Hedda. Akibatnya, tak sedikit pun Tesman memahami Hedda. Hidup tanpa dipahami merupakan siksaan batin yang tak terkira. Hedda bukan perempuan yang menikahi cintanya, melainkan menikahi ambisinya. Meskipun sudah bersuami, pembaca akan menyadari kekosongan dalam diri Hedda.  Pernikahan Hedda justru menjebaknya dalam kesendirian yang mendalam. 
Seperti halnya Hedda, Emma turut mengalami ketiadaan makna akan cinta. Emma memiliki mimpi. Ia mendambakan kisah percintaan yang kental dengan romantisme sebagaimna ia temukan dalam buku-buku romansa yang sering ia baca. Untuk mencapai mimpi ini, Emma memanfaatkan suaminya Charles, seorang dokter yang bersahaja. Pernikahannya dengan Charles digunakan Emma sebagai sarana untuk menggapai mimpinya seperti tercermin dalam tokoh-tokoh fairy tales yang ia baca. Tetapi, mimpi dan kenyataan adalah dua hal yang sangat berbeda. Sosok Charles yang membosankan perlahan mengikis rasa cinta dalam diri Emma. Hilangnya rasa cinta Emma terlihat dari penjelasan narator, “…Emma justru merasa makin jauh dari Charles karena merasakan suara hati kecilnya yang makin berbeda.” (Flaubert, 69). Karakter Charles yang tidak mampu mengisi kekosongan dalam diri Emma menjadi faktor pendorong Emma untuk berselingkuh dengan Leon dan Rodolphe.
Di awal perselingkuhannya, Emma selalu merasakan sensasi baru yang menggairahkan dan mendekatkan dirinya dengan dunia khayalannya. Namun lama-kelamaan ia merasa bosan. Hal ini menunjukkan bahwa Emma sudah kehilangan orientasi diri dan memiliki konsep makna cinta yang keliru. Perselingkuhan dengan dua pria ini hanya memuaskan keinginan sesaatnya, namun tidak pernah melegakan batinnya. Dan ketika semuanya berakhir, Emma menjadi pribadi yang berantakan dan putus asa. Hal ini menegaskan bahwa sebenarnya Emma selalu merasa sendiri dalam dunianya.
            Bentuk alienasi yang terakhir adalah keterasingan diri. Keterasingan diri terjadi mana kala kita menganggap bahwa orang lain adalah hal negatif bagi diri kita. Pola pikir yang selalu negatif terhadap orang lain meningkatkan rasa waspada kita dan mengurangi keterbukaan kita dengan orang lain. Padahal, yang dibutuhkan dalam perkembangan kepribadian seseorang adalah keterbukaan terhadap satu sama lain dan belajar dari yang lain. Keterasingan terhadap dirinya sendiri terjadi pada Hedda. Ketakutan dan keengganannya untuk mengungkapkan perasaan terkungkungnya dengan suaminya menunjukkan betapa tertutup pribadi Hedda. Perlahan, rasa curiga dan waspada terhadap orang lain tumbuh semakin kuat. Sentimen kecurigaan  yang berlebih ini justru menekan Hedda sendiri. Bahkan tekanan tersebut bertambah ketika Hedda memiliki konflik dengan Brack, seorang hakim  yang menjadi tetangga dan teman Hedda. Konflik dengan Brack terjadi karena Brack mengetahui kasus kematian mantan kekasih Hedda yang bernama Ejlert. Akhirnya Brack berhasil menyudutkan posisi Hedda dan membuat Hedda tidak memiliki pilihan.
BRACK : “Ya, untunglah bahwa sebenarnya tidak ada bahaya, selama aku tidak berkata apa-apa.” (Ibsen, IV, 402)
Kutipan di atas mengindikasikan bahwa Brack akan tutup bila keinginan Brack dipenuhi. Di awal drama, Brack telah menunjukkan rasa ketertarikan pada Hedda, dan dari kutipan di atas keinginan Brack hanya satu: cinta Hedda. Syarat yang diajukan Brack menjelma menjadi ketakutan Hedda. Ia mengkhawatirkan timbulnya skandal yang pasti akan menjadi bumerang bagi Hedda. Dalam situasi yang demikian kacau, akhirnya Hedda kembali menjadi terasing. Ia tidak mampu menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi. Ia sendirian. Ia harus memutuskan segalanya sendiri. Perasaan sendiri dan terasing yang begitu dahsyat membuat pertimbangan rasio Hedda menjadi buntu. Akhirnya, ia memutuskan untuk menutup kisah hidupnya dengan bunuh diri.
            Lain dengan Hedda, keterasingan diri yang Emma rasakan didasari oleh krisis finansial yang melandanya. Dalam permasalahan Emma, anggapan negatif terhadap orang lain tidak muncul sebelum adanya aksi, namun datang bagai sebuah refleksi. Refleksi atas kegagalannya berhubungan dengan pria-pria yang ia ajak selingkuh. Perselingkuhannya dengan Leon gagal karena tuntutan borjuisme Emma yang menyulitkan Leon. Dengan Rodolphe pun kandas karena sejak awal Rodolphe hanya tertarik dengan tubuh Emma. Lalu ketika hutang Emma berlipat dan Emma bingung untuk melunasinya, ia meminta tolong kepada kedua pria selingkuhannya, namun nihil hasilnya. Akibatnya, keterasinganlah yang dirasakan Hedda. “Segala yang ada dalam dirinya, yang ada di sekelilingnya, bagai meninggalkannya.” (Flaubert, 436). Kutipan ini  jelas menunjukkan kesendirian Emma. Ia mulai beranggapan negatif terhadap orang lain. Hal ini sangat berlawanan dengan pola pikir Emma di awal cerita yang cenderung polos. Petualangan, perselingkuhan, dan gaya hidup Emma mengubar karakter Emma dari perempuan optimis menjadi perempuan pesimis. Keterbatasan finansial telah menyadarkan Emma akan keterasingan dirinya.
Sebagai simpulan, Hedda dan Emma pada dasarnya adalah dua sosok dengan konsep keterasingan yang tidak jauh berbeda. Yang membedakan kedua tokoh ini adalah proses bagaimana kekuatan eksternal mempengaruhi pembentukan kepribadian mereka. Mereka berdua adalah korban dari alienasi pada awal modernisasi Eropa di akhir abad 19. Modernisasi memaksa manusia untuk bersikap semakin individualis dan berorientasi pada keuntungan diri sendiri. Hal ini mendegradasi moral dan nilai manusia sebagai makhluk sosial. Hedda Gabler dan Madame Bovary merupakan sarana bagi penulisnya untuk menunjukkan keprihatinannya terhadap perubahan nilai ini. Meskipun dunia saat ini memiliki rentang waktu panjang dengan dunia Hedda dan Emma, keterasingan mereka dapat dijadikan refleksi bagi masyarakat masa kini yang semakin lupa akan pentingnya berinteraksi dengan sesamanya.

Referensi

Flaubert, Gustave. Madame Bovary. Serambi Ilmu Semesta, 2010.
Ibsen, Henrik. Hedda Gabler. General Books LLC, 2010.
Rosyadi, Khoirul. "Alienasi Dalam Masyarakat Modern." Cinta & keterasingan . Cet.   1. ed. Yogyakarta: LKIS, 2000. 20.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...