Rabu, 14 November 2012

Contoh Esai Persuasi


Dalam tulisan berjudul Jenis-Jenis Esai bagian kedua, kita membahas salah satu jenis esai yang digolongkan sebagai persuasi. Esai persuasi tidak hanya memerlukan pembuktian yang meyakinkan tetapi juga penjelasan yang logis dengan landasan yang kuat atas gagasan yang disampaikan. Tujuan utama persuasi adalah meyakinkan pembaca bahwa pandangan penulis adalah benar. Untuk menulis esai persuasi dengan baik, penulis harus menyiapkan gagasan terlebih dahulu secara seksama dan melakukan keberpihakan atas suatu persoalan, menyikapi suatu kasus, mengantisipasi argumen, dan mencari cara bagaimana mematahkan argumen yang bertentangan. Berikut adalah salah satu contoh esai persuasi.


Mengapa Manusia Harus Bersahabat dengan Alam?

Di abad ke-21 ini, manusia sering melupakan betapa pentingnya memiliki koneksi yang baik dan harmonis dengan alam. Entah kita sadari atau tidak, di tengah-tengah kemajuan tehnologi dan temuan-temuan ilmiah yang membuat kita semakin percaya bahwa manusia adalah makhluk istimewa di muka bumi, kita semua adalah bagian kecil dari fauna yang tinggal di planet biru ini. Tak perlu menyebut ketika dulu saat capaian-capaian penting umat manusia masih berupa temuan roda bulat, atau peralatan khusus untuk pertanian, manusia saat itu sangat bergantung pada alam dan sangat peduli dengan perubahan alam. Saat ini, dengan temuan dan revolusi di bidang tehnologi yang membentuk sejarah umat manusia di masa lalu, kita nampaknya melalaikan alam dan semakin hari semakin menjauhkan diri dari alam. Namun hubungan-hubungan yang dulunya pernah terjadi tidak lenyap begitu saja. Ada dua alasan penting mengapa kita seharusnya berpaling kembali ke alam dan bersinergi dengannya di masa kini dan masa depan.

Pertama, sejarah telah mengajarkan umat manusia bahwa alam adalah rumah semesta kita, sama persis seperti rumah bagi hewan dan tumbuhan (dengan pengecualian untuk hewan yang dipelihara di kebon binatang dan tumbuhan yang dibudidayakan di rumah kaca). Alam dapat menunjukkan kepada kita keindahan yang sebenarnya tanpa modifikasi dan kepalsuan secara tidak berlebihan dan apa adanya.  Lagi pula, tidakkah agak ironis melihat orang pergi ke galeri dan pameran hanya untuk melihat lukisan warna-warni bunga, hutan perawan, bukit hijau dan sungai kecil dengan airnya yang mengalir deras? Bukankah hal-hal sederhana semacam ini dapat dengan mudah mereka lihat dalam kehidupan nyata sehari-hari seandainya mereka mau meluangkan waktu untuk pergi ke daerah pedesaan atau pinggiran kota yang membetengi tempat tinggal mereka? Atau fakta bahwa orang membeli rekaman yang memperdengarkan bunyi-bunyi yang menenangkan dari alam seperti apa yang orang dengar saat malam berada di hutan—nyanyian burung hantu, bunyi jengkerik, ataupun bunyi dahan dan gerumbulan semak ditiup angin. Apa yang sebenarnya kita lakukan adalah kita mencoba menipu pikiran kita dan membuat diri kita percaya bahwa kita memang berada di hutan dan hidup berdampingan dengan burung hantu, jengkerik, dan semak belukar. Kenyataannya, kita terjebak dalam rumah atau apartemen sempit kita yang dipenuhi dengan perkakas rumah tangga dan barang-barang bertehnologi tinggi.

Kedua, di zaman yang serba berisik dan kacau dengan banjir informasi yang tak terbendung ini, kebutuhan untuk berhenti sejenak dari kehidupan yang gila dan melaju begitu cepat setiap harinya ini menjadi jauh lebih penting dibandingkan zaman-zaman sebelumnya. Menemukan keheningan dan kedamaian di bumi yang tidak pernah lekang dari persaingan, ketegangan, dan perilaku terburu-buru merupakan tantangan tersendiri. Orang menemui dokter untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan akibat depresi, insomnia, dan kekhawatiran yang berlebihan. Orang minta resep dan obat, padahal apa yang seharusnya kita lakukan adalah  kembali berpaling ke alam untuk mendapatkan pengobatan yang mujarab. Apa yang dapat lebih melegakan dan membebaskan kita dari stress kalau tidak secangkir the herbal dengan madu segar sambil duduk di atas sebuah gelondongan kayu besar di pedesaan dan melihat danau kecil yang alami atau hutan kecil yang menghijau atau gunung yang membiru? Ini adalah obat yang paling murah, paling sederhana, dan paling gampang dilaksanakan yang setiap dari kita dapat lakukan. Sering kita menertawakan orang “aneh” yang suka memeluk pohon di taman atau yang suka berjalan telanjang kaki di rerumputan. Justru orang-orang seperti inilah yang tidak melupakan hal yang sangat penting; hal yang kebanyakan orang telah lupakan demi berpacu meraih kemajuan dan kemakmuran: kunci untuk menjadi tetap sehat, untuk tetap dapat mengelola emosi dan tahan terhadap stress, untuk selalu menggauli alam dan membiarkan dirinya sesaat mengesampingkan semua urusan dan beristirahat.


Alam adalah keseimbangan dan harmoni—hal yang sering kita kesampingkan karena himpitan dan kesempitan hidup di kota yang sibuk. Kadang kita melarikan diri, namun pelarian diri kita begitu jarang dan dilakukan secara sporadis sehingga tidak begitu berdampak dalam hidup kita dalam upaya membangun relasi kita dengan alam. Orang seharusnya secara sungguh-sungguh memikirkan untuk mengubah rutinitas mereka dan pergi ke luar kota untuk mengenal alam secara lebih teratur. Kapan kali terakhir Anda berjalan-jalan di situ terdekat, atau memancing, atau menghabiskan akhir pecan di luar ruangan dan melakukan olah raga yang penuh aktifitas? Kapan kali terakhir Anda mendaki gunung atau mengajak keluarga dan teman untuk piknik di taman terdekat? Kita seharusnya berusaha memindahkan kegiatan bersenang-senang akhir minggu, liburan, perayaan, pesta, dan pertemuan keluarga dari rumah, pub dan restoran ke tepi danau, gunung, taman, hutan, kolam, sungai, dan lembah. Indonesia memiliki alam yang begitu indah, kaya dan beragam. Inilah kemurahan alam yang sayangnya sering kita lupakan.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...