Sabtu, 29 Desember 2012

Belajar dari Kisah Natal


Cerita Natal punya pesan-pesan yang sangat sederhana, jelas, dan praktis, termasuk bagi mereka yang hidupnya sangat dekat dengan dunia politik. Namun, karena sederhana, pesan yang gamblang itu sering terlupakan, bahkan kerap dianggap remeh. Padahal, jika dimaknai, diyakini, dan dijalankan, pesan itu punya kekuatan mengubah sikap “orang politik.” Perubahan itu adalah sikap yang sebelumnya hanya melayani kepentingan diri sendiri menjadi sikap yang melayani kepentingan rakyat.

Pesan Natal yang inspiratif itu dapat ditimba dari cerita Natal yang diawali kisah Yusuf dan Maria tunangannya yang tiba-tiba mengandung. Kita bisa membayangkan bagaimana kebingungan Yusuf waktu itu sehingga ia sempat mempertimbangkan menceraikan Maria secara diam-diam. Tetapi karena keyakinannya, Yusuf memberanikan diri untuk tetap mengambil Maria sebagai istrinya. Karena keyakinannya, Yusuf berani mengambil pilihan yang tidak “populis” dan berisiko.

Hal kedua adalah empati dan pengorbanan. Cerita Natal menggambarkan kesediaan Yang Kuasa untuk hadir di tengah-tengah manusia, dan ikut merasakan segala sesuatu yang dirasakan manusia; baik suka maupun duka. Jika Yang Kuasa saja bersedia berempati dan berkorban untuk kita yang hina, bukankah kita seharusnya melakukan hal yang sama dengan saudara-saudara kita yang kurang beruntung?

Hal yang ketiga adalah harapan. Sepanjang cerita Natal, ada Yang Kuasa yang terus campur tangan dalam setiap segmen kehidupan. Yang pasti, di tengah segala kebuntuan yang dihadapi negeri ini dan kebobrokan yang ada, Natal mengingatkan kita bahwa Yang Kuasa selalu mau campur tangan. Natal mengingatkan kepada kita, tanpa campur tangan Yang Kuasa, manusia tak mampu mencari jalan keluar sendiri, bahkan lebih jauh dari turun tangan, seperti kata Andar Ismail dalam bukunya, Tuhan mengajak manusia “berjabat tangan,” memberikan hak istimewa untuk manusia ikut ambil bagian dalam rencana kerja-Nya.

Hal keempat adalah keadilan. Cerita kelahiran Yesus tidak berdiri sendiri. Ia merupakan satu kesatuan dengan cerita hidup Yesus. Kedatangan dan kelahiran Yesus baru bisa  berarti ketika kita melihat karya-Nya di dunia. Sepanjang perjalanan-Nya, satu benang merah yang tidak pernah hilang adalah keadilan; keadilan untuk umat manusia, keadilan untuk yang tertindas, keadilan untuk yang sakit, keadilan untuk yang tidak mampu, keadilan untuk yang diinjak, keadilan untuk anak kecil, keadilan untuk pemungut cukai, dan lainnya.

Selamat Natal saudara-saudaraku sebangasa. Semoga pesan Natal tentang keyakinan, keberanian, empati, pengorbanan, harapan, dan keadilan dapat kita renungkan bersama. Apa pun latar belakang kepercayaan kita, semoga kita semua bisa belajar dari cerita Natal dan menjadikannya inspirasi untuk bagaimana kita hidup dan berkarya ke depan. (Sumber: Basuki Tjahaja Purnama, Kompas Cetak, Inspirasi, 26 Desember 2012)

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...