Kamis, 03 Januari 2013

Jalan-Jalan di Taman

Tinggal di kota tidak mudah, bahkan bagi mereka yang dilahirkan di lingkungan industri dengan jalan raya yang selalu padat, dengan pusat-pusat perbelanjaan yang besar, angkutan perkotaan yang simpang siur, dan pabrik-pabrik yang mencemari lingkungan. Saya lahir dan besar di Dallas. Jadi saya tahu persis bagaimana lalu lintas yang padat dan jalan raya yang saling bersimpangan dan bertumpuk-tumpuk. Meskipun demikian, sebelum saya pindah ke New York, saya sepertinya kurang siap untuk hidup di kota yang dijuluki the Big Apple ini.  Saya suka New York, tetapi kadang-kadang saya berpikir kota ini terlalu berlebihan sehingga saya harus mengasingkin diri dari kebisingan kota untuk membebaskan pikiran dari segala rutinitas yang mengkhawatirkan, untuk menghilangkan kepenatan pikiraan dan mengingatkan diri saya bahwa saya masih harus menempuh perjalanan panjang menuju keberhasilan dengan menggapai impian-impian saya meskipun saya tahu betapa sulit dan menantang untuk mencapainya.

Setiap manusia perlu beristirahat dari gaya hidup kota New York yang selalu berpacu, setidak-tidaknya sekali dalam beberapa waktu. Ketika saya menanyakan diri saya di mana tempat terbaik di New York untuk melepas kepenatan, saya tak perlu berpikir lebih dari dua detik. Tempat favorit saya di New York adalah Taman Van Cortlandt yang memiliki jalur pejalan kaki panjang yang saya suka jelajahi dengan bersepeda sambil melewati hutan dengan pepohonan lebat dan semak liar sehingga Anda percaya bahwa Anda telah terlepas dari cengkeraman kota dan merasa berada di tengah-tengah hutan yang sebenarnya.  Saya suka lembah-lembah hijaunya yang lapang yang mengingatkan saya akan bukit-bukit Skotlandia yang anggun yang kadang dapat Anda lihat di filem-filem dengan biri-biri putih dan totol-totol dan pepohonan yang banyak cabang dan kesepian. Saya juga suka aliran sungai Tibbets Brook yang bergolak cukup deras sehingga nampak kontras dengan danau Van Cortlandt yang tenang dan mendamaikan.

Minggu lalu saya melakukan pelarian tahunan saya ke taman ini. Saya sendirian, kali ini tidak membawa sepeda, hanya membawa kamera dan indra ke enam yang saya perlukan untuk menikmati hari dan terbebas dari kerja, kesibukan, dan kerumunan.  Pertama-tama, saya menuju lapangan Parade Ground, menonton sepasang pemain cricket lari bolak-balik dalam kostum putih mereka yang berpendar terkena cahaya matahari seperti permata. Persis seperti biri-biri di bukit-bukit Skotlandia, hanya lebih putih dan lebih cepat. Tak ingin terbakar dalam sinar matahari pagi yang terang, saya segera menuju tujuan saya—lembah reremputan di hutan pepohonan oak. Saya telah mengetahui lokasi ini sebelumnya dan berjanji akan mengunjungi lokasi ini lagi.

Ketika saya bergerak melalui hutan taman yang lebat, saya harus menyingkirkan ranting-ranting yang merintangi jalan sambil berusaha untuk tidak merusak daun-daunnya yang lebar dan datar. Berhasrat untuk menjadi lebih dekat dengan alam, saya memutuskan untuk tidak mengambil jalur pejalan kaki tetapi melewati hutan. Seolah-olah tidak ada tanda peradaban di sekeliling saya. Saya suka pohon-pohon oak dengan cabang-cabang mereka yang lebar, kuat, berlumut dan daun yang bulat dan lembut.  Udara masih basah karena hujan subuh sebelumnya. Sementara itu di setiap tempat terbuka, udara telah kering dan panas seolah-olah tidak hujan sama sekali. Bayangan hutan masih menyimpan kelembaban yang samar dengan aroma lumut basah dan daun musim sebelumnya yang masih berada di tanah. Saya suka udara taman yang lembab bercampur dengan oksigen dan penuh kesegaran alami.

Ketika saya melewati hutan, beberapa kali saya menjumpai tempat-tempat terbuka kecil yang tidak memiliki pepohonan. Tempat-tempat terbuka ini diterangi oleh cahaya matahari musim panas, persis seperti pulau-pulau kecil yang membahagiakan. Di tempat-tempat terbuka ini, matahari tidak terlalu panas tetapi cukup untuk membuat wajah dan lengan saya kecoklatan dalam kehangatan yang nyaman. Ketika hari menjadi terlalu panas, saya dapat masuk kembali ke dalam rerimbunan hutan yang menyegarkan atau berteduh di bawah pohon-pohon oak tua yang murah hati. Saya berhenti beberapa kali, mengeluarkan kamera, dan memotret permainan cahaya dan bayangan yang dipertontonkan oleh keindahan sederhana alam yang sering tidak kita sadari.

Setengah jam kemudian saya sampai di tempat tujuan. Lembah itu terletak persis di tengah-tengah taman di antara hutan dan danau, dikelilingi dengan kelembutan alam terlindung dari kebisingan. Ada beberapa orang yang sudah duduk di reremputan sambil berpiknik, membaca, atau sekedar berbaring dan melamun. Meskipun saya tidak sendiri di lembah ini, saya sungguh mensyukuri fakta ini: saya bisa mengamati orang berbaur dan meleburkan diri dengan alam dalam gambar yang utopis dari kesunyian yang sempurna. (Sumber: http://academichelp.net/samples/essays/descriptive/walk-in-the-park.html)

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...