Selasa, 01 Januari 2013

Keluarga! Keluarga!


Desember 2012 adalah bulan yang diwarnai banyak perayaan dan pesta. Pada saat yang sama, banyak kejadian yang mengenyak rasa kemanusiaan. Salah satunya, pembantaian 20 bocah dan 6 orang dewasa oleh seorang remaja bernama Adam Lanza. Lebih gila lagi, pembantaian dilakukan setelah dia membunuh ibunya sendiri.

Di Indonesia juga terjadi horror. Tawuran pelajar, misalnya, bikin saya shock. Kok, bisa anak remaja pergi ke sekolah membawa senjata, rantai, golok, kelewang? Ini lebih mengerikan sebab selain terjadi di halaman rumah sendiri, pelakunya juga semakin muda. Timbul pertanyaan dari mana asalnya semua perilaku ini? Anak-anak ini belajar dari siapa? Atau jangan-jangan mereka memang tidak pernah diajar untuk menjadi manusia sosial yang santun dan berbudi perkerti baik?

Anak-anak jelas bukan penjelmaan. Anak-anak lahir dari ibu dan ayahnya, tumbuh dalam keluarga, dan mendapat sumber pendidikan utama, terutama dari orangtua. Sejak kapan? Sejak anak-anak tumbuh di dalam rahim ibunya. Perasaan yang menyelimuti ibu selama mengandung akan diadopsi oleh si janin. Ibu yang gelisah menularkan kegelisahannya kepada si bayi dan melahirkan bayi yang gelisah pula.

Setelah dilahirkan, semua perlakukan yang dialami si bayi pada sepanjang awal kehidupannya akan menjadi dasar terbentuknya emotional well-being, mental sehat dan karakter yang baik. Intinya, pola asuh yang diterima anak-anak, terutama pada usia muda, menorehkan warna-warni kehidupan yang akan ia bawa sampai dewasa.

Sayangnya, pada zaman sekarang, peran orangtua yang luar biasa penting itu sering diabaikan lantaran mereka sibuk mengejar karier dan mencari uang demi mencapai hidup layak. Anak-anak pun dibiarkan tumbuh sendirian. Padahal, anak butuh ditemani, didampingi, dicintai dalam wujud perilaku nyata oleh orangtuanya. Kehadiran fisik, sentuhan kasih sayang, akan membangun kebertautan hati. Dan, ini mengisi roh anak.

Fungsi dan peran orangtua sebagai pendidik tidak bisa begitu saja disubstitusikan kepada orang lain. Ironisnya, ada kecenderungan kehadiran orangtua yang minim digantikan dengan fasilitas dan benda. Jika anak-anak secara konsisten lebih diberi barang ketimbang pengalaman berelasi yang riil, mereka jadi cenderung menolak kesempatan yang ada untuk belajar tentang orang lain, termasuk untuk mengenal serta menghargai kebutuhan dan perasaan orang lain. Anak cenderung mengembangkan sikap self-oriented, selfish, dan tidak mampu berempati.


Anak-anak yang diabaikan akan tumbuh menjadi pribadi yang minder, penakut, dan depresi. Anak-anak yang kerap dipukuli, dikasari, akan tumbuh menjadi pribadi yang peka terhadap kemarahan, dan rusak. Anak yang merasa tidak dicintai akan tumbuh menjadi pribadi yang rapuh, pencemas, insecure, neurotic. Jadi, kesehatan jiwa itu sumbernya dari rumah, dalam keluarga. Sepanjang perjalanan profesional saya, saya menemukan, sumber penderitaan ataupun kebahagiaan sejati adalah rumah dan keluarga. Mulai hari ini dan selanjutnya, mari kita fokus pada keluarga dan mencintai keluarga. (Sumber: Ratih Ibrahim, Kompas Cetak, Insprirasi, 27 Desember 2012)

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...