Senin, 14 Januari 2013

Sayangilah Bumi

Di awal tahun 2013 sebuah perusahaan multinasional mengadakan lomba mengarang yang unik bagi pelajar dari semua tingkatan di seluruh Indonesia. Keunikan lomba mengarang ini adalah bahwa setiap karangan yang dikirim ke panitia lomba berarti sumbangan Rp 10,000 bagi dunia pendidikan di Indonesia. Karena itu, lomba ini tidak hanya mendorong minat pelajar untuk menulis, tetapi juga membangkitkan kesadaran sosial untuk berbagi dengan teman sebaya mereka yang tidak mampu bersekolah karena faktor biaya. Dengan tema “Sayangilah Bumi” para pelajar ditantang untuk menuliskan perasaan dan pendapat mereka tentang bumi dan turut serta dalam upaya menyelamatkan kehidupan di bumi yang kian memprihatinkan.
Terkait dengan tema tersebut, pertanyaannya adalah benarkah manusia sudah tidak lagi menyayangi bumi? Betulkah berbagai bencana alam yang kian sering terjadi akhir-akhir ini dikarenakan ketidakpedulian manusia akan kondisi bumi? Banyak orang barangkali akan mengiyakan jawaban atas dua pertanyaan ini. Secara kasat mata manusia memang semakin serakah dalam mengeksploitasi bumi secara berlebihan dengan dalih demi kemakmuran dan kesejahteraan. Penebangan hutan, penggalian bahan tambang, penangkapan ikan yang berlebihan, dan penipisan lapisan ozon akibat pelepasan zat-zat berbahaya di atmosfir kita adalah sedikit contoh betapa manusia kurang atau tidak menyayangi bumi. Dalih lain yang juga dikedepankan adalah pembangunan. Kalau pun pembangunan berdampak pada kerusakan bumi, itu merupakan harga yang harus dibayar. Sebuah konsekuensi yang mahal dengan mengorbankan bumi, sang ibu yang senantiasa menerima dan berkorban demi lima milyar anaknya yang rakus.
Adakah cara yang dapat manusia tempuh untuk tetap hidup sejahtera tanpa membuat bumi kita menangis? Berikut adalah 10 cara praktis yang dapat manusia lakukan untuk membuat bumi tersenyum.
1. Gunakan lampu jenis flurosen alias Fluorescent Lights (CFLs).
Lampu ini memang lebih mahal ketimbang lampu bohlam biasa, tetapi berdaya-tahan 10 kali lipat lebih lama dan yang pasti lebih hemat energi. Studi membuktikan bahwa lampu CFL menyerap energi 75 persen lebih sedikit daripada bola lampu kuning terang benderang biasa. Dalam setahun CFL mampu mengurangi produksi karbon dioksida hingga 500 pon. Ini setara dengan polusi yang dihasilkan 17 mobil di jalan raya selama satu tahun!
2. Hemat listrik di rumah.
Petuah klasik yang tak pernah ketinggalan zaman. Justru kian lama petuah ini kian dibutuhkan realisasinya, bukan sekadar teori. Padamkan lampu di siang hari. Matikan AC saat ruangan tak dihuni. Asal tahu saja rata-rata setiap rumah menghasilkan emisi gas rumah kaca dua kali lipat dari yang diproduksi sebuah mobil. Jadi jangan karena tidak mengeluarkan asap hitam dari knalpot mobil Anda maka Anda sudah merasa sebagai pahlawan lingkungan.
3. Jangan gunakan plastik.
Sebisa mungkin hindari pemakaian plastik. Tas plastik memang banyak dipakai pasar swalayan maupun tradisional dalam mengemas belanjaan. Ada baiknya kita membawa tas kain atau kertas sendiri dari rumah dan menolak dengan halus tas plastik dari penjual. Mengapa? Plastik bukan bahan yang dapat hancur dengan sendirinya di pembuangan sampah. Sejumlah kandungan dalam bahan tersebut justru merusak kesuburan hayati tanah.
4. Maksimalkan penggunaan komputer.
Memang di era kini sudah jarang orang berkirim surat melalui pos. Tapi jangan salah, masih banyak perkantoran maupun pribadi yang lebih suka menyimpan dokumen atau surat-surat secara tradisional, yakni dengan dicetak di atas kertas. Memang ada beberapa surat berharga yang tak bisa tergantikan dengan surat elektronik. Namun selama sebuah dokumen dapat disimpan secara elektronik di komputer, usahakan lakukan itu. Asal tahu saja, kertas yang kita pakai telah sukses menggunduli hutan akibat perusahaan kertas telah menebang pohon-pohon sebagai bahan dasarnya.
5. Beli produk lokal.
Hentikan membeli produk pangan impor. Dengan mengonsumsi apa yang ada di dekat kita, kita berperan dalam mengurangi polusi dan pemborosan energi. Mengapa harus mengimpor daging sapi dari Australia jika sapi lokal tak kalah lezatnya. Bayangkan berapa energi dihabiskan dan polusi dihasilkan dari sekadar mendatangkan sosis Eropa atau keju Belanda ke meja makan Anda. Sebagai informasi, anggur dari Napa Valley harus mengarungi jarak sejauh 2.143 mil demi berada di pasar swalayan Chicago.
6. Praktikan prinsip 3 R.
Reduce, Reuse, Recycle. Kurangi konsumsi, gunakan kembali barang bekas yang masih bisa dimanfaatkan, dan daur ulang bahan tertentu. Mengucapkannya memang mudah, tapi tidak menjalankannya. Hanya sekali memulai, kita akan terbiasa.
7. Pelan-pelan singkirkan energi tak terbarukan.
Agak sulit memang jika tak didukung dengan ketersediaan produk dan infrastruktur. Tapi bukan berarti tak mungkin. Kalau ada pilihan dimana kita bisa menikmati listrik dengan sumber sinar matahatri atau angin, mengapa tidak? Lebih bersih dan hemat energi.
8. Bunuh produk penghisap listrik.
Tanpa disadari, kita terus menerus membeli dan mengngunakan produk yang menghamburkan energi. Televisi (TV) adalah salah satunya. Tanpa sadar sebuah keluarga kerap menyalakan TV tanpa henti 24 jam walau tidak ditonton. Begitu juga komputer, DVD player dan charger ponsel yang terus terhubung ke colokan listrik.
9. Kurangi pemakaian bahan kimia.
Bahan kimia bukanlah bahan alami. Seperti bahan buatan lainnya, bahan ini tak dapat lebur dengan sendirinya dan meninggalkan efek buruk pada kehidupan. Pestisida, obat nyamuk dan sejumlah bahan pembersih ruangan mengandung aneka komponen kimia yang tanpa sadar ikut kita hirup seumur hidup kita. Bahan pangan sayur dan buah pun ikut membawanya ke dalam tubuh kita. Cara mengatasinya? Maksimalkan konsumsi bahan-bahan alami, termasuk sayuran organik.
10. Hijaukan rumah!
Banyak di antara kita yang mengaku cinta lingkungan, cinta penghijauan, namun faktanya nyaris tak pernah menanam apa pun di halaman rumahnya. Oke jika Anda tak punya halaman rumah. Setidaknya usahakan Anda memberi kesempatan bagi tumbuhan untuk hidup di sekitar. Tanaman gantung atau hidroponik cukup membantu bagi Anda yang tinggal di apartemen, rumah susun atau kos.
Semoga kesepulah cara sederhana ini dapat meningkatkan kesadaran kita untuk menjadikan bumi tempat yang lebih baik untuk kita tinggali. Yang kita perlukan adalah komitmen dan kepedulian nyata dari setiap insan manusia untuk bumi, sang ibu sejati yang telah setia menghidupi milyaran manusia sejak awal mulanya kehidupan.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...