Senin, 04 Februari 2013

Penerimaan: Sajak Sentimentil Chairil Anwar


Meski menyebut dirinya “binatang jalang”, Chairil Anwar tampaknya tak berdaya dan tunduk ketika dirinya terlibat dalam sentimen asmara. Kesan ini dapat dirasakan secara kuat ketika kita membaca sajak Penerimaan yang diciptakannya pada Maret 1943. Sebagai penyair yang pola hidupnya “berantakan” dan penuh kebebasan, Chairil menunjukkan kelembutan yang sentimentil melalui puisi ini. Bahkan ia rela takluk atas cinta yang dirasakannya. Untuk jelasnya, mari kita simak puisi ini secara utuh.

Penerimaan

 Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi

 Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.
Menelisik persoalan asmara ini menjadi hal yang menarik karena Chairil memang terhitung sebagai penyair yang “pelit” dalam mengungkap perasaan yang terkait dengan urusan asmara. Tak ada satu pun sajaknya yang mengungkap soal cinta secara blak-blakan. Ia selalu menyamarkan urusan asmara ini melalui pilihan kata yang hati-hati. Begitu juga dalam sajak Penerimaan ini. Meskipun sajak ini berbicara cinta, tak satu pun kata cinta atau pun asmara dipilih oleh penyairnya. Pilihan kata dalam sajak ini memberi kesan seperti seorang yang malu-malu kucing mengakui bahwa dia cinta mati dengan mantan kekasih. Dalam bahasa sekarang, ia tak bisa berpaling ke lain hati meskipun mantan kekasihnya pernah mengkhianati cinta itu.

Secara umum, sajak pendek sembilan baris ini menggambarkan betapa dalam cinta sang penyair kepada mantan kekasihnya. Dengan penuh sentimentil, Chairil rela menerima mantannya kembali “dengan sepenuh hati” (baris 2) meskipun si mantan “bukan yang dulu lagi” (baris 4) dan telah membagi cintanya dengan pria lain (“bak kemang sari sudah berbagi”). Bahkan untuk menegaskan maksud dan perasaan yang tak bisa berpaling ke lain hati  ini, Chairil menulis “masih tetap sendiri” (baris 3).

Pada baris tujuh hingga Sembilan, Chairil memberikan syarat bagi mantannya untuk kembali kepadanya. Sentimen cinta untuk mantan kekasihnya ini bukan diberikan secara cuma-cuma. Chairil memberi syarat kepada mantannya untuk kembali kepadanya, yaitu “untukku sendiri tapi” (baris 8) dan “sedang dengan cermin aku enggan berbagi” (baris 9). Baris terakhir ini menegaskan bahwa Chairil tidak mau berbagi cinta dengan orang lain. Ini semakin menegaskan betapa sentimentilnya Chairil dalam persolan cinta.

Walaupun Chairil berusaha menutup-nutupi segala hal yang dirasakannya, Chairil mencoba untuk tegas dalam urusan cinta. “Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani” (baris 6) adalah bukti bahwa ia meminta komitmen dan ketegasan dari mantan kekasihnya. Kalau mau kembali, katakan apa adanya. Dia mengharapkan ketegasan mantan kekasih terhadap perasaan dan hatinya. Tentangan mata dan yang mencerminkan asmara dan hati yang murni jelas menggambarkan betapa mereka benar-benar berkomitmen untuk kembali merajut dan bertaut sepenuhnya.


Akhirnya, sajak ini menggambarkan sosok Chairil yang siap menerima sang kekasih dengan sepenuh hati tanpa memerdulikan segala hal yang pernah dilakukan mantan kekasihnya. Bagi Chairil jauh lebih penting menatap masa depan ketimbang mengungkit masa lalu yang hanya akan menimbulkan konflik. Dalam kaitannya dengan hal ini, kesentimentilan Chairil dibungkus dengan logika yang masuk akal. Apa pun maksud yang hendak disampaikannya, sajak Penerimaan ini jelas memberikan sentuhan emosi mendalam yang sangat terasa bagi pembaca meskipun ungkapan cinta dalam pilihan katanya tetap memberi kesan keraguan dalam urusan asmara.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...