Selasa, 05 Februari 2013

Paradoks Nilai


Obrolan saya dengan seorang sahabat di sebuah warkop kaki lima beberapa waktu lalu dikejutkan oleh sebuah peristiwa pilu yang merangsang saya untuk menuliskannya di sini. Di tengah obrolan ngalor-ngidul, ke sana ke mari, yang seru, kami dibuat terpengarah oleh suatu kejadian yang berlangsung cepat. Sekitar 50 meter dari tempat kami nongkrong di warkop, nampak seorang pelajar berjalan ke arah kami duduk. Sekonyong-konyong, dari arah sebuah gang, segerombolan pelajar lain berlari mengejar pelajar yang sedang berjalan sendirian ini. Dalam hitungan detik, pelajar naas ini menjadi bulan-bulanan: babak belur dikeroyok oleh lima pelajar lain. Setelah puas dan tuntas menggebuki pelajar soliter ini, mereka melarikan diri secepat kilat. Secara spontan kami menyelamatkan korban pengeroyokan ini, sedangkan beberapa orang dewasa lain yang melihat kejadian ini mengejar gerombolan pengeroyok.

Meskipun ini merupakan insiden yang serta merta tidak dapat digeneralisir, kejadian ini menimbulkan pertanyaan besar dalam benak saya. Sebegitu kuatkah perilaku kekerasan di kalangan remaja Indonesia (pelajar dan mahasiswa)? Beberapa saat lalu bahkan terjadi tawuran antarmahasiswa di salah satu universitas negeri ternama di Ujung Pandang. Belum lagi tawuran antarpelajar yang hampir setiap hari terjadi di Jakarta. Ada apa dengan kaum terdidik kita? Mengapa kekerasan menjadi pilihan utama dalam interaksi sosial mereka?

Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk mengurai penyebab terjadinya perilaku kekerasan di kalangan terpelajar. Ada begitu banyak faktor yang menyebabkan remaja melakukan tindak kekerasan. Kesalahan juga tidak seluruhnya dapat ditimpakan kepada mereka karena banyak kekerasan yang dipicu oleh perilaku orang dewasa yang tak terpuji. Terlalu membosankan untuk menguraikan penyebab timbulnya perilaku yang meresahkan ini di sini. Lagi pula, sudah begitu banyak artikel senada ditulis di berbagai media dan forum lain. Saya hanya sekedar menyoroti satu faktor: paradoks nilai antara di sekolah atau kuliah dan di masyarakat. Nilai-nilai untuk menghargai, peduli, toleran, sopan, rela, dan melayani hanya menjadi ajaran luhur di sekolah namun telah menjadi mutiara-mutiara yang hilang dalam sistem interaksi sosial masyarakat kita.

Paradoks pertama adalah ketidaksesuaian antara nilai yang diajarkan di dunia pendidikan dengan nilai yang diimplementasikan dalam dunia nyata di masyarakat. Guru mengajar mereka untuk jujur, bertanggung jawab, peduli, dan rela membantu. Sayangnya ajaran ini tidak tercermin dalam masyarakat kita. Setiap saat kaum muda terdidik ini dihadapkan dengan paradoks nilai lewat media cetak maupun elektronik. Televisi, surat kabar, dan radio sering memperlihatkan pejabat publik yang berbohong, koruptor yang dihormati dan dipuji, aparat yang minta suap, dan kebobrokan peradilan yang dilakukan oleh hakim, polisi, jaksa, dan pengacara yang kolutif yang bertolak belakang dengan nilai-nilai luhur diajarkan. Parahnya, kebobrokan yang kasat mata ini terkesan dibiarkan oleh negara yang telah diberi wewenang oleh rakyat untuk mengambil tindakan tegas namun tidak pernah dilaksanakan.

Paradoks kedua adalah tidak adanya role model (suri tauladan) yang dapat dijadikan benchmark bagi perilaku generasi terdidik kita. Minimnya keteladanan membuat mereka tidak memiliki patron yang dapat mereka jadikan acuan untuk berperilaku. Yang lebih sering terjadi adalah contoh-contoh buruk yang diekspos di media. Bagaimana politisi busuk mengakali anggaran, koruptor yang mendapat fasilitas mewah di rutan, para petinggi polri berrekening gendut, rekayasa perkara di pengadilan, kolusi dan korupsi para anggota parlemen, pejabat negara yang hedonis, dan seabrek perilaku buruk lain yang meracuni idealisme mereka. Anehnya, model-model buruk ini malah menjadi selebriti dan mengaburkan model yang baik. Di sisi lain, ketimpangan ekonomi, mahalnya biaya kesehatan dan pendidikan, buruknya pelayanan dan fasilitas umum, dan keluhan rakyat yang lain tidak pernah mendapat tanggapan yang memadai oleh negara. Untuk hal-hal semacam ini, negara hanya memberi janji yang jarang sekali ditepati. Para pejabat atau calon pejabat memberi janji-janji palsu yang mereka obral saat pemilu.


Pelajar dan mahasiswa adalah golongan terdidik yang kritis. Mereka tahu bahwa apa yang diajarkan di sekolah bertolak belakang dengan apa yang terjadi di masyarakat. Ketimpangan antara nilai dan realita ini menciptakan jurang yang menggelisahkan. Akibatnya, banyak yang frustasi. Apalagi mereka yang berasal dari golongan bawah yang tidak memiliki akses ekonomi. Ketidakpastian akan masa depan membuat mereka apatis. Situasi yang tidak menunjukkan tanda-tanda optimis semacam ini membuat mereka mudah melampiaskan kekecewaan dan frustasi lewat perilaku kekerasan. Perasaan senasib dan sepenanggungan menjadikan perilaku kekerasan ini semakin masif dan intensif.  Hanya lewat kekerasan berkelompok inilah mereka merasa memiliki kuasa, harga diri, dan eksistensi. Meskipun hal ini adalah perilaku yang sangat tidak terpuji.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...