Kamis, 14 Februari 2013

“Perintah partai adalah nomor satu.”


Judul esai ini adalah pernyataan yang saya kutip secara persis dari seorang politikus Partai Demokrat Max Sopacua yang dimuat di Kompas online Selasa, 12 Februari 2013. Politikus ini mengomentari pertanyaan wartawan sehubungan dengan perlakuan khusus yang diterima Edhi Baskoro Yudhoyono alias Ibas, Sekjen PD, ketika membubuhkan tanda tangan kehadiran di Rapat Paripurna DPR namun segera kabur meninggalkan Senayan. Lebih lengkapnya, komentar Max berbunyi, "Bahwa DPR, fraksi adalah perpanjangan tangan dari partai. Kalau perintah partai adalah nomor satu. Kalau tidak ada partai, tidak ada rakyat." Secara tersirat, pernyataan Max ini mengungkap tiga sinyalemen yang telah lama diyakini masyarakat.

Sinyalemen pertama adalah politikus hanya kepanjangan tangan partai, bukan rakyat. Gamblang sudah bahwa politikus bekerja demi kepentingan rakyat adalah bualan semata. Secara terang benderang, melalui pernyataan politikus kawakan PD ini, rakyat semakin percaya bahwa politikus bekerja untuk kepentingan partai dan diri mereka sendiri. Bukti nyata telah terpampang di mata. Rakyat tahu persis banyak politikus yang sekarang bercokol di Senayan dulunya adalah penghuni kontrakan atau kos-kosan dan mobilitas mereka mengandalkan angkutan umum. Setelah terpilih menjadi “wakil rakyat”, kualitas hidup mereka meningkat secara drastis kalau tidak mau disebut mencengangkan. Rumah dan mobil mewah, rekening gendut, dan gaya hidup glamor menjadi tanda dan gejala yang semakin menjauhkan mereka dari rakyat yang mereka wakili. Bagaimana mereka dapat memperoleh kemakmuran yang sedemikian menggiurkan ini hanya dalam satu-dua tahun saja? Bila kepentingan rakyat yang mereka utamakan, fenomena OKB para anggota parlemen ini tidak mungkin terjadi.

Sinyalemen lain yang tersirat dari pernyataan Max Sopacua ini adalah bahwa para politikus semakin jumawa dengan kedudukan mereka. Bayangkan logika berpikir Max yang medioker dan terbolak-balik, “Kalau tidak ada partai, tidak ada rakyat.” Bukankah logika yang benar adalah hal yang sebaliknya? Apakah mereka bisa berada di Senayan jika tidak ada rakyat (rakyat yang terlanjur memilih karena bualan dan janji manis mereka)? Dapatkah mereka menduduki kursi wakil rakyat yang terhormat? Bahkan seorang Max yang telah cukup lama malang-melintang dalam dunia perpolitikan di negara kita saja masih berpikiran dangkal semacam ini. Pernyataan Max ini sekaligus juga mengerdilkan peran rakyat dalam memajukan negara. Seakan-akan hanya partai dan para politikuslah yang berjasa bagi kemajuan bangsa dan negara.

Sinyalemen terakhir dan yang paling membahayakan bagi kepentingan rakyat adalah partai adalah segala-galanya, nomor satu. Bagaimana dengan rakyat yang telah memilih mereka? Nomor dua? Boro-boro dijadikan urutan berikutnya. Sudah tentu prioritas lanjutannya adalah diri sendiri, keluarga, gundik, kerabat, dan kroni mereka. Kepentingan rakyat hanya dikedepankan saat mereka tampil di muka umum dan diwawancarai wartawan. Itu pun hanya terucap di mulut mereka yang busuk. Lihat saja aksi Ibas yang membubuhkan tanda tangan kehadiran di Rapat Paripurna dan langsung kabur tanpa hadir secara fisik di gedung DPR. Alasannya karena ia harus menghadiri pertemuan partai yang lebih mendesak dan penting. Setiap orang yang pernah kuliah pasti tahu meskipun seorang mahasiswa titip tanda tangan di daftar kehadiran, dosen pasti akan mencoretnya kalau ia tidak berada di kelas. Aturannya sangat sederhana dan akuntabel. Aturan Senayan sungguh membingungkan. Anggota dianggap hadir asal sudah membubuhkan tanda tangannya di daftar kehadiran. Logika apa yang digunakan? Lalu, kapan rakyat akan dapat menggantungkan harapan dan mandatnya bila semakin banyak anggota parlemen yang “hadir” tetapi bolos?

Pernyataan Max memang bukan hal yang menggemparkan dan tidak juga akan meruntuhkan sebuah partai politik. Herannya pernyataan yang jumawa, medioker, dan mengerdilkan rakyat ini tidak ditanggapi oleh para politikus lain di Senayan. Barangkali mereka semua memang sejalan dengan pemikiran Max. Makna tersirat yang terkandung di dalamnya sudah sama-sama diamini oleh semua partai dan para politikus yang mendapat kedudukan di Senayan. Bila memang demikian keadaannya, rakyat jangan terlalu berharap akan kehidupan yang lebih adil, makmur, dan sejahtera.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...