Selasa, 26 Februari 2013

Pria Hamil


Saya terpengarah membaca sebuah berita di wolipop.detik.com 19 Februari lalu. Diberitakan seorang pria di AS melakukan eksperimen untuk tahu bagaimana rasanya jadi wanita hamil. Dia pun memakai baju seberat 15 kg yang bisa membesar di area perut dan payudara. Benjamin Percy, demikian nama pria ini, menuliskan pengalaman hamil tersebut pada majalah GQ edisi Maret 2013. Pria asal Oregon ini mengenakan kostum yang disebutnya Empathy Belly. Baju tersebut bisa mensimulasikan lebih dari 20 efek kehamilan mulai dari sakit punggung hingga keinginan untuk buang air kecil terus-menerus.

Baju yang dipakai Benjamin terbuat dari nilon. Baju tersebut dilengkapi tali pengikat di bahu dan punggung. Baju itu juga dihiasi payudara dan perut palsu yang diisi sekantong gel. Ada kantong lainnya di baju tersebut untuk membuat Benjamin merasakan minggu ke minggu kehamilan. Pria 33 tahun itu mengenakan baju tersebut setiap hari selama lebih dari dua bulan. Dia memakainya dalam setiap kesempatan entah itu mengerjakan tugas rumah tangga atau berpergian bersama istri dan anaknya.

Berbagai gejala kehamilan yang tidak menyenangkan dirasakan Benjamin, mulai dari keringatnya semakin banyak hingga gatal-gatal. Dia pun jadi pusat perhatian ketika jalan-jalan. Para wanita biasanya akan memegang perutnya dan memujinya. Namun tidak dengan anaknya. Sang putra menyuruhnya melepas kostum itu karena memalukan.

Pengalaman Benjamin memberikan kita banyak hal berharga yang dapat kita petik bersama. Adalah benar 100 persen bahwa kehamilan seorang wanita merupakan proses alami biasa. Kehamilan adalah kodrat wanita dan kodrat ini tidak dapat dialihkan kepada pria. Secanggih apa pun kemajuan ilmu dan tehnologi sekarang ini tidak dapat merekayasa seorang pria agar dapat hamil dan melahirkan. Namunn demikian, eksperiman Benjamin menyadarkan para pria bahwa kehamilan adalah tugas kemanusian yang berat bagi wanita. Selama sembilan bulan, wanita mengalami perubahan fisik dan psikis yang kompleks. Tubuh yang semula langsing dan seksi menjadi gendut dan tak enak dipandang mata. Emosi menjadi labil dan moody. Perubahan-perubahan ini membuat wanita sangat tidak nyaman.

Yang berikutnya, para pria seharusnya semakin mengapresiasi atau menghargai wanita hamil secara lebih baik. Sungguh sangat memprihatinkan bahwa masih terdapat sikap ketidakpedulian para pria yang ditunjukkan kepada wanita hamil. Kita sering menyaksikan wanita hamil di angkutan umum yang berdiri berhimpitan dengan penumpang lain, sementara ada banyak pria lain duduk nyaman bahkan sambil ngorok. Beban berat yang sedang mereka sangga diperparah dengan kondisi angkutan yang kurang manusiawi dengan supir yang sering ngerem mendadak, asap rokok yang mengepul, dan dorongan para penumpang lain. Bayangkan bagaimana wanita hamil di angkutan umum yang terhuyung-huyung untuk menjaga keseimbangan akibat beban kehamilan yang dikandungnya.

Pelajaran ketiga, eksperiman Benjamin dapat meningkatkan empati kita kepada perempuan hamil. Saya tidak tahu apakah di negara kita sudah ada semacam gerakan sosial kemasyarakatan yang mengampanyekan empati untuk wanita hamil. Empati ini dapat diwujudkan dalam berbagai aksi sederhana. Memang pemerintah pernah mengampanyekan program “Suami Siaga”, namun gerakan ini kurang melibatkan masyarakat secara keseluruhan. Kiranya perlu saatnya untuk menyadarkan betapa pentingnya kita menjaga keselamatan dan memberikan rasa aman kepada wanita hamil agar mereka dapat melalui proses alami ini dengan suasana yang menyenangkan dan mendapat perhatian yang semestinya. Bila setiap wanita hamil mendapat empati yang layak, mereka akan merasa sangat terbantu sehingga kekhawatiran, kecemasan, kelelahan fisik dan psikologis yang mereka rasakan selama kehamilan sedikit banyak dapat diminimalkan.

Menjadi hamil adalah kodrat wanita. Namun, kodrat ini tidak dapat diartikan sebagai tugas dan kewajiban wanita semata. Pria yang juga andil dalam kehamilan ini tidak dapat cuci tangan. Ia juga berkewajiban untuk membuat wanita merasa nyaman dan aman dengan kehamilannya. Secara lebih luas, masyarakat pun turut bertanggung jawab dan perlu dilibatkan dalam upaya menghasilkan generasi bangsa. Bila para wanita hamil di Indonesia mendapatkan perhatian, kepedulian, dan empati yang semestinya, mereka akan melahirkan generasi yang tangguh, sehat, dan cerdas. Semoga pengalaman Benjamin Percy menyadarkan kita semua akan tanggung jawab kemanusiaan yang luhur ini.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...