Senin, 11 Februari 2013

Pulang: Perjalanan Reflektif Seorang Penghianat


Apa yang Anda rasakan bila berkesempatan untuk pulang kampung setelah tujuh tahun merantau tanpa pernah memberi kabar kepada keluarga selama perantauan itu? Tentu Anda akan merasakan kerinduan yang sangat terhadap orang-orang terkasih yang telah Anda tinggalkan. Namun, di saat yang sama, Anda juga akan merasakan kebimbangan. Akankah keluarga Anda menyambut kepulangan ini dengan hangat? Apakah segala hal tetap sama seperti saat sebelum Anda pergi? Apakah semua anggota keluarga masih hidup? Apakah kerabat dan sahabat masih ada dan tinggal di tempat yang sama?

Rangkaian pertanyaan demikian juga berkecamuk di benak Tamin, tokoh protagonis dalam novel Pulang karya Toha Mochtar yang terbit 1957. Secara ringkas, novel ini berkisah tentang Tamin, mantan serdadu Heiho, yang dikirim Jepang ke Burma untuk memerangi sekutu. Setelah Jepang takluk kepada Sekutu, Tamin kembali ke Indonesia yang sudah merdeka tetapi bekerja sebagai tentara bayaran Sekutu untuk memerangi para pejuang revolusi yang gigih mengusir Sekutu dan Belanda dari Indonesia. Setelah peperangan selesai, Tamin pun pulang kembali ke desanya yang digambarkan oleh Toha sebagai sebuah desa kecil di kaki Gunung Wilis, sebuah tempat di daerah Jawa Timur. Kepulangan Tamin didorong oleh kerinduannya yang memuncak untuk bertemu dengan kedua orangtuanya yang telah renta dan adik perempuan yang disayanginya, Sumi.

Selain alasan sentimentil ini, kembalinya Tamin ke kampung halaman juga didorong oleh keinginannya untuk menjadi petani untuk mengelola sawah orangtuanya dan hidup secara sederhana di desa yang damai dengan tenteram. Sejak kakinya kembali menapaki tanah tumpah kelahirannya itu, Tamin telah membayangkan dirinya akan bergumul dengan lumpur yang subur dan gembur yang akan menyibukkan hari-hari ke depan dan memeras habis keringatnya. Muluskah impiannya untuk menjadi petani dan hidup sederhana di desa kelahirannya ini?

Konflik novel diawali dengan protagonis Tamin yang hidup dalam kebimbangan, keraguan, dan ketakutan. Meskipun dorongan untuk kembali bertemu dengan keluarganya begitu kuat, Tamin bimbang kalau-kalau rumah dan keluarganya sudah tidak seperti dulu saat dia meninggalkan mereka. “… apa yang bisa terjadi selama tujuh tahun ini?” dan “Apa gerangan yang bisa diberikan oleh waktu sepanjang itu kepada adinya, Sumi, satu-satunya yang tercinta di bumi ini?” (hal. 7). Dua pertanyaan retoris ini menjadi bukti kebimbangan Tamin saat hendak melangkahkan kaki ke halaman rumahnya yang sama sekali tak berubah. Namun kebimbangan ini terkubur oleh rasa kangen yang kuat. “Apakah yang dapat lebih menggelorakan hati daripada mengalami pertemuan dengan keluarga kembali?” demikian pikir Tamin sebagaimana dilukiskan dalam cerita (hal. 7).

Benar bahwa perjalanan pulang kampung Tamin membawa kebahagiaan. Kerinduannya akan kedua orangtua dan adiknya terobati. Keinginannya untuk kembali bergulat dengan sawah pun dapat terrealisasi. Namun, pengalaman Tamin sebagai heiho dan prajurit bayaran menjadi duri dalam daging yang akhirnya menggerogoti konflik batin Tamin.

Konflik batin ini dipicu oleh obrolan Tamin dengan ibunya saat ia menanyakan kabar teman-teman sebayanya. Dari cerita ibunya diketahui sahabatnya Pardan gugur dalam perang Surabaya melawan Nica. Sedangkan Gamik, sahabat lain yang berpostur kerdil dan kurang diperhitungkan kekuatan fisiknya, gugur dalam pencegatan melawan serdadu Belanda di samping sawah desanya (hal. 23). Kisah kepahlawan dua pemuda sahabatnya ini tentu saja menampar nurani Tamin. Sementara ia memerangi para pejuang kemerdekaan dan mendapat keuntungan finansial untuk hal tersebut, banyak pemuda sebayanya rela gugur demi kejayaan bangsa.

Kepada ibu dan anggota keluarganya, Tamin dapat menyembunyikan gejokan batin ini. Setiap kali mereka memintanya untuk menceritakan pengalaman selama perantauan tujuh tahunnya, ia mengelak dan selalu mengatakan bahwa kisah perantauannya tidak ada yang istimewa. Namun kepada orang-orang desa yang memaksanya berbagi cerita dan pengalaman selama perantauan, ia tak kuasa menolak permintaan mereka. Peristiwa ini terjadi di suatu perkumpulan para bapak-bapak di pendapa kelurahan saat mereka bermusyawarah untuk memugar makam Gamik sebagai bentuk penghormatan kepadanya yang telah gugur dan secara resmi menobatkan Gamik sebagai pahlawan (hal. 65-67).

Musyawarah desa itu berujung bencana bagi Tamin. Sepengetahuan warga desa, perantauan Tamin adalah untuk berjuang mengusir penjajah. Tersudut oleh anggapan yang telah tertanam di benak mereka, Tamin terpaksa mengarang cerita. Kepada mereka, Tamin merekayasa cerita bahwa ia tergabung dalam rombongan heiho terakhir yang tertahan di Tanjung Priok dan batal berangkat ke Burma. Akhirnya bergabung ke Laskar Rakyat dan bersumpah tak hendak pulang sebelum perjuangan berakhir. Dengan hati tersayat, ia terpaksa berbohong bahwa ia bertempur sampai di Gunung Putri dan Gunung Cupu di Tasik (hal. 69).

Cerita heroik ini menghasilkan decak kagum kepada pendengarnya, namun membuat dada Tamin kosong. Tamin sepenuhnya sadar bahwa dirinya telah mengenakan topeng kepalsuan. Pengkhianatannya terhadap bangsa dan tanah airnya telah ditutupi dengan rekayasa imajiner yang begitu sempurnya. Bualan Tamin ini terus menggelinding di kalangan warga desa dan akhirnya berubah menjadi bola salju yang siap menerjang. Setiap kali ada perkumpulan, warga desa ingin mendengar kehebatan kisah Tamin. Dengan sangat terpaksa, Tamin pun harus mengulang cerita yang sama sehingga hampir seluruh warga desa berpikir bahwa Tamin pun tak kalah hebat dengan Gamik. Setiap kali pujian dan kekaguman disampaiakan, bukan kesenangan yang Tamin dapatkan melainkan penyesalan dan pengkhianatan yang semakin membebani jiwanya.

Klimak konflik terjadi manakala keluarganya mendengar cerita kehebatan perjuangan Tamin dari warga desa, bukan dari mulut Tamin sendiri. “Cerita itu indah sekali, Kang. Mengapa engkau tidak menceritakan itu kepada kami dahulu?” tanya Sumi, adiknya (hal. 85). Mendengar pertanyaan ini, hati Tamin bak tertusuk samurai. Dia meminta adiknya untuk tidak memaksanya menceritakan rekayasa bualannya. Tentu saja adiknya tetap memaksanya untuk bercerita karena kisah itu dapat menjadi kebanggaan keluarga. Karena tak kuasa menahan beban batin yang telah memuncak, Tamin pun menampar adik yang dikasihinya ini dengan sekuat tenaga hingga pingsan.

Setelah peristiwa tersebut, Tamin merasakan kehampaan hidup yang luar biasa. Dia menganggap dirinya sebagai penghianat yang tak layak mendapatkan pujian. Kepalsuan hidup telah mewarnai dirinya hingga akhirnya ia pun meninggalkan desanya, meninggalkan impiannya untuk menjadi petani dan hidup sederhana dengan tentram. Ia merasa berdosa dan telah mengkhianati hati nuraninya. Meninggalkan desanya merupkan cara terbaik untuk menghapus jejak pengkhianatan meskipun untuk hal ini ia harus mengubur segala impian sederhananya.

Pulang adalah novel yang sangat sederhana dengan plot yang sangat linear. Jalan cerita disusun secara kronologis dan disajikan dengan narasi yang cukup memikat. Novel ini hanya memiliki 104 halaman, sebuah novel yang sangat pendek untuk ukuran zaman sekarang. Kepulangan Tamin mencerminkan refleksi perjalanan hidup keseluruhan Tamin. Kepulangan reflektif ini memberikan pembelajaran yang menarik bagi pembaca, terutama terkait dengan kejujuran. Benar adagium yang selama ini berlaku dalam masyarakat kita bahwa kebohongan yang ditutup dengan kebohongan lain hanya akan membawa bencana.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...