Sabtu, 23 Februari 2013

Suwung


Sebagian besar orang Jawa paham benar dengan makna kata “suwung” yang menjadi judul esai ini. Ada makna paradoksal yang terkandung dalam kata ini. Meskipun sulit menjelaskannya, karena kata ini tergolong dalam kata benda abstrak, saya mencoba mengajak Anda untuk membayangkan sebuah garis imajiner yang berada lurus ke depan dalam benak Anda. Nah, makna “suwung” menduduki tiga titik yang berbeda pada  garis imaginatif tersebut.

Pada titik yang paling dekat dengan imajinasi pikir kita, “suwung” dapat disamakan artinya dengan gila, kurang waras, “gendheng” atau orang Jawa lebih suka mengatakan “kenthir”. Pada titik ini, orang yang disebut suwung adalah orang yang menderita gangguan kejiwaan dan mengalami hilang ingatan. Dia tidak tahu siapa dirinya, apa keinginannya, atau untuk apa dia hidup. Pendek kata, kesadaran akan diri dan lingkungannya tidak terdapat dalam dirinya alias “suwung” bin “kenthir” itu tadi.

Pada titik yang lebih seimbang, yang terletak di tengah garis lurus imajinatif ini, “suwung” dapat dimaknai sebagai kosong, nihil, tanpa bentuk dan abstrak. Seseorang yang berada dalam kondisi “suwung”, dia mengalami kenihilan dalam alam pikir dan kehendaknya. Kekosongan ini menjadikan dirinya netral, tidak berpihak, tidak berkemauan untuk menonjolkan diri, mengikuti arus, dan membiarkan segala yang berada di sekitarnya berjalan sebagaimana alam menghendakinya. Dirinya sendiri tidak ikut serta dalam hiruk pikuk di sekitarnya. Dia berdiam diri, berkontemplasi dan menyibukkan dengan diri sendiri. Kalau ada gejolak di luar, dia memahami namun tidak bereaksi.

Pada ujung garis lurus imajinatif yang letaknya terjauh dari kita, “suwung” memiliki makna yang berkebalikan dengan titik yang terdekat dengan kita. Kata ini mengandung makna kekosongan yang bernuansa pengendalian diri yang sempurna dan kesadaran sejati akan diri. Seseorang yang berada dalam kondisi “suwung” jenis ini, dia mencapai tahapan akhir dalam pengendalian diri yang  luar biasa dan mampu mengontrol diri secara sempurna sehingga dia mengetahui secara pasti kapan dia harus berbuat dan kapan dia harus menahan diri. Kesempurnaan pengendalian diri ini menjadikan dirinya memiliki kemerdekaan yang hakiki atas hidup. Manusia suwung jenis ini mengetahui secara pasti peran dirinya dalam jagad semesta. Dia mampu menempatkan dirinya secara tepat. Dia menjalin komunikasi yang intens dengan diri sendiri, dengan manusia, tumbuhan, dan hewan, dengan semesta, dan juga dengan yang Maha Kuasa. Kekosongan ini membuat dia mampu mengendalikan nafsu, keinginan, dan hasrat ragawi manusia. Manusia suwung jenis ini seperti seorang petapa yang proaktif. Pertapaannya tidak dilakukan di gunung tinggi, belantara sunyi, atau di gua yang dalam, tetapi di jagad raya yang hiruk-pikuk ini. Dirinya berada dalam kekosongan yang berisi, bahkan meluap dengan buah-buah kebajikan dan pelayanan yang nyata kepada sesama.

Dalam hidup keseharian kita, manusia suwung jenis terakhir ini sangat langka. Jauh lebih langka ketimbang harimau Sumatra yang mendekati titik kepunahan. Apalagi bila kita melihat kondisi sekarang, mata kita lebih sering disuguhi oleh berbagai kesuwungan jenis yang pertama. Lihatlah betapa pongahnya para pejabat dan elit politik kita mempertontonkan kesuwungan jenis yang pertama ini di televisi. Mereka mempertontonkan berbagai perilaku nyleneh, aneh, yang sering tidak dapat diterima akal sehat. Mengemplang duit pajak atau duit rakyat dianggap biasa. Menyuap atau disuap demi pangkat, jabatan, dan kedudukan dianggap sudah sewajarnya. Layaknya para pengidap gangguan kejiwaan, mereka tertawa penuh kebanggaan (baca: kegilaan) bila berhasil mengelabui penegak hukum. Atau, apakah virus suwung jenis pertama ini sudah pula menyebar sedemikian sempurnanya ke aparat hukum kita sehingga mereka dibiarkan berkeliaran bebas. Apakah para penegak hukum kita juga menganggap perilaku mereka sebagai hal normal, wajar, dan sudah semestinya? Sebagian besar dari kita menjadi marah, gregetan, dan sekaligus geli atas perbuatan mereka. Namun karena sering tidak berdaya, kita hanya dapat menertawakan mereka. Barangkali tertawa menjadi terapi ampuh bagi kita agar tidak terjerumus dalam suwung jenis pertama ini. Lagi pula, menertawakan orang gila kan biasa.

Masalahnya, apabila mereka yang memimpin menderita sakit jiwa, bagaimana dengan mereka yang dipimpin? Tentu, lama-kelamaan rakyat ikut gila juga. Sepertinya, jaman edan telah mewujud nyata dalam kehidupan bermasyarakat kita: tidak ikut edan, bakalan tidak kebagian. Tetapi jangan lupa bahwa hanya yang “eling lan waspada” lah yang akan mendapat kemuliaan. Orang yang ingat dan waspada inilah yang sementara ini mengalami kesuwungan yang berada di tengah garis imajinatif di atas. Saat ini mereka melihat, mengamati, dan menunggu. Nanti, di saat yang tepat, mereka akan mendapat kesadaran baru dan menjelma menjadi manusia-manusia suwung jenis terakhir di atas. Mereka inilah yang akan membawa gelombang pembaharuan dalam masyarakat kita dan menggilas mereka yang gila. Bagaimana dengan Anda? Di mana letak titik kesuwungan Anda berada?

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...