Selasa, 19 Februari 2013

The Kite Runner: Persepsi dan Konflik


The Kite Runner karya Khaled Hosseini adalah novel yang kali pertama diterbitkan Riverhead Books pada 2003.  Segera setelah penerbitannya, novel ini mendapatkan reputasi “international bestseller” dengan penjualan lebih dari delapan juta kopi dalam waktu yang relatif singkat. Novel ini juga mendapatkan beragam penghargaan seperti the Boeke Prize, the Barnes and Noble Discover Great New Writers Award, dan the Literature to Life Award. Bahkan di 2007, kisah persahabatan antara dua tokoh laki-laki dari dua ras dan kelas sosial berbeda ini diangkat ke layar perak dan mendapat sambutan yang tidak mengecewakan.

The Kite Runner .mengisahkan persahabatan unik antara dua tokoh laki-laki Amir dan Hassan yang berasal dari dua ras berbeda: Pashtun dan Hazara. Sebagian besar kisahnya berlatar di Afganistan yang kental dengan budaya Islam. Melalui latar ini, Hosseini menyajikan lika-liku persahabatan Amir dan Hassan yang menimbulkan kontroversi yang sangat menarik untuk ditelaah lebih lanjut. Menggunakan alur flashback, novel diawali saat tokoh protagonis Amir sudah dewasa dan menetap di Amerika. Ia mendapat telepon dari Rahim Khan yang tinggal di Pakistan, dan mengingatkannya akan masa kecilnya dan peristiwa-peristiwa yang terjadi sewaktu ia masih di Afganistan.

Secara umum konflik yang terjadi dalam The Kite Runner membahas isu yang erat kaitannya dengan persahatan, persoalan rasial, perbedaan kelas, penghianatan, dan kekejaman. Tema-tema universal ini disajikan melalui persahabatan Amir dan Hassan dan sekaligus juga pengkhianatan Amir terhadap Hassan yang mewakili dua ras berbeda, Pashtun dan Hazara. Di Afganistan, kedua ras ini memiliki perbedaan yang signifikan. Ras Pashtun dianggap sebagai golongan atas dan memiliki dominasi terhadap ras lainnya. Sedangkan Hazara dianggap golongan yang paling jelata dan tidak berhak atas apa pun.

Meskipun kedua tokoh berlatar ras berbeda, mereka mempunyai hubungan sosial dan emosional yang cukup kuat. Amir adalah anak majikan Hassan yang harus ia layani dan hormati. Perintahnya adalah keharusan baginya. Meskipun Amir menyadari kedudukannya, ia memperlakukan Hassan sebagai seorang sahabat. Hassan adalah anak Ali, seorang pelayan yang bekerja untuk ayah Amir yang dalam novel dipanggil Baba. Meskipun sadar betul dengan posisinya, Hassan juga menyambut perlakuan Amir dengan penuh syukur dan tahu diri. Dalam beberap hal, Hassan diperlakukan istimewa oleh Baba yang sering menimbulkan  rasa iri hati dalam diri Amir. Pengkhianatan Amir terhadap Hassan dipicu oleh rasa ini. Pada akhirnya, persahabatan mereka berakhir karena skenario pencurian yang dirancang Amir. Hassan dituduh mencuri jam tangan dari Amir. Tuduhan ini mengakibatkan Hassan dan Ali keluar dari rumah Amir.

The Kite Runner secara implisit juga dapat dijadikan cermin konflik dalam masyarakat. Konflik sosial ini dipicu oleh ras dan agama yang menimbulkan persepsi berbeda antargolongan dalam masyarakat. Konflik ras dapat diamati melalui persepsi salah satu tokoh antogonis Assef, “Afganistan adalah negeri milik bangsa Pashtun. Dari dulu begitu, dan akan selalu begitu. Kita adalah orang-orang Afgan sejati, orang-orang murni, tidak seperti si Pesek ini. Kaumnya mengotori tanah air kita, watan kita.”

Persepsi rasial seperti ini menimbulkan konflik antartokoh, khususnya Hassan dan Amir. Mereka senantiasa berupaya menghindar dari Assef, anak lelaki yang fisiknya lebih besar dari mereka. Tokoh Assef adalah ancaman ekternal yang mencoba mengacaukan persahabatan Amir dan Hassan yang berlatar ras berbeda. Sedikit banyak, pandangan Assef juga akhirnya mempengaruhi keputusan Amir untuk “menyingkirkan” Hassan dari rumah Baba.

Persepsi rasial Assef ini juga berdampak buruk bagi Amir dan Hassan dan membuat suasana menjadi emosional. Assef melihat Amir dengan kejam karena Amir sebagai orang Pashtun berteman dengan Hassan, seorang Hazara. Persepi Assef terhadap Amir juga buruk karena ia beranggapan bahwa seorang Pashtun yang berteman dengan Hazara sama saja dengan membiarkan dirinya terhina dan merendahkan martabat rasnya sendiri. Tentang hal ini, Assef berkomentar, “(Kepada Hassan) Hazara yang beruntung, punya tuan yang begitu memikirkannya. (Kepada Amir) Ayahnya  seharusnya berlutut di hadapanmu, menyapu debu yang menempel di kakimu dengan bulu matanya.”

Meski demikian, persepsi dan perlakuan Amir kepada Hassan tidak terpengaruh oleh persepsi Assef. “Aku memang memperilakukan Hassan seperti memperilakukan seorang teman, bahkan lebih baik, lebih seperti saudaraku sendiri”, kata Amir. Ini membuktikan bahwa persepsi rasial seringkali membutakan pikiran jernis seseorang. Persepsi Assef menutup segala pemikiran positif bahwa setiap insan memiliki derajat yang sama. Sebaliknya persepsi positif Amir membuka peluang bagi setiap insan untuk hidup berdampingan dengan siapa saja tanpa perlu mempertanyakan asal muasal sukunya.

Persoalan konflik lain yang dipicu oleh perbedaan persepsi terkait dengan isu atau sentimen agama. Setiap agama mempunyai persepsi dan asumsi yang berbeda satu dengan yang lainnya. Dalam The Kite Runner, isu ini berkaitan dengan perbedaan persepsi antara guru agama sekolah Amir (disebut mullah oleh Amir) dan Baba perihal dosa. Pikiran Amir terusik oleh pernyataan mullahnya dan ia merasa kurang nyaman dengan kebiasaan Babanya yang suka menenggak minuman beralkohol. Ia ingat perkataan mullah sekolah, “Meminum minuman keras termasuk dalam dosa besar; para peminum akan menebus dosa mereka saat hari Kiamat, Hari Pembalasan.”

Amir yang polos mempertanyakan kebiasaan Baba mengonsumsi minuman keras ini dengan mempertentangkannya pada pendapat guru sekolahnya. Menanggapi pertanyaan anaknya ini, Baba menyampaikan persepsinya tentang dosa. Baginya,  “Apapun yang diajarkan mullah itu padamu, hanya ada satu macam dosa. Yaitu mencuri, Dosa-dosa yang lain adalah variasi dari dosa itu.” Tanggapan Baba ini jelas berbeda dengan mullah. Persepsi Baba perihal dosa bertentangan dengan persepsi mullah yang dipercaya sebagai ahli agama.

Lebih lanjut, Baba menjelaskan bahwa perbuatan mencuri merupakan satu-satunya dosa yang akan menjerumuskan dan menyengsarakan manusia. Perbuatan membunuh merupakan pencurian nyawa dari pelakunya. Ketika seseorang melakukan pembunuhan, ia mencuri seorang ayah dari anaknya atau seorang kekasih dari pasangannya.

Sebagai kesimpulan, konflik dalam diri manusia dan dalam masyarakat sangat dipengaruhi oleh persepsi manusia. Suatu persoalan bisa menjadi konflik bila persepsi antara satu manusia dengan manusia yang lain berbeda atau bertentangan. Bagi Amir, bersahabat dengan Hassan yang berasal dari ras berbeda tidak menimbulkan konflik. Sebaliknya, bagi Assef, persahabatan tersebut dapat dimaknai sebagai tindakan merendahkan martabat ras Pashtun sehingga harus ditentang. Bagi Assef, persahabatan Amir dan Hassan ini menimbulkan konflik. Selain persepsi rasial, persepsi agama juga berpotensi menimbulkan konflik. Persepsi bahwa mengonsumsi alkohol adalah perbuatan dosa dan akan diganjar neraka akan menimbulkan konflik bila persepsi ini dilanggar. Melalui isu persepsi ini, The Kite Runner mengajak pembacanya untuk berpikir kritis dan turut memikirkan konflik yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...