Minggu, 03 Maret 2013

Jazz yang Menyatukan Manusia


Perhelatan Java Jazz yang berlangsung 1-3 Maret 2013 memanjakan para pecinta jazz tanah air. Lebih dari seribu musisi jazz baik dari dalam maupun luar negeri berpartisipasi memeriahkan festival tahunan yang telah diselenggarakan untuk kali ke sembilan ini. Mereka datang dari berbagai bangsa dengan latar budaya, agama, warna kulit, dan ideologi yang berbeda namun dipersatukan oleh bahasa jazz yang sama. Melalui festival yang menghipnotis ratusan ribu pengunjung selama tiga hari, beragam warna jazz disajikan apik. Standard, funk, soul, swing, Latin, blues, fushion, rock, bahkan reggae sebagaimna diusung Jimmy Cliff dan teman-temannya dari Jamaika di hari pertama memberi pilihan bagi para pengunjung. Jazz memang menawarkan kebebasan kepada penikmatnya untuk memilih. Jazz is in the air dan membuai penikmatnya.

Java Jazz bukan sekedar ajang bagi musisi jazz ternama tetapi juga sarana penting bagi musisi jazz tanah air untuk menimba ilmu dari para counterpart-nya dari berbagai belahan dunia. Sebut saja seniman bas ternama Stanley Clarke yang tampil memukau bersama George Duke di hari kedua. Lewat kepiawaiannya Clarke menunjukkan betapa bas bukan sekadar instrumen penjaga ritme dan harmoni. Bas di tangan Clarke bisa menjadi instrumen utama. Ia memperlakukan bas seperti alat musik melodik layaknya gitar atau piano. Ia bermain bas dengan runut dan cepat, bagai memetik gitar atau memainkan bilah-bilah piano. Bukan hanya itu, bas juga menjadi bahasa ungkap. Seluruh bagian bas, mulai dari dawai, leher, body, semuanya disuruhnya ”bicara”. Bas, elektrik, ataupun kontra bas mempunyai fungsi sebagai bahasa ungkap. Tak hanya dawai, tetapi Clarke juga memukul-mukul body, leher, samping, depan, dan belakang bas. Ia melakukan itu bukan untuk mengejar efek demonstratif, tetapi tampak menjadi satu totalitas ucap.

Hal lain yang menarik dari perhelatan tahun ini adalah penampilan Joss Stone, penyanyi soul asal Inggris yang seksi dan menggemaskan. Bertelanjang kaki di panggung, ia menyanyi lincah bergerak bebas. Disiram sorot lampu, rambut ”blonde”-nya berkilauan bagaikan emas. Itulah sensasi malam pertama, Jumat (1/3) malam, di arena PRJ, Kemayoran, Jakarta. Penampilannya membawa warna baru jazz yang selama ini identik dengan kesederhanaan dan apa adanya. Stone memperkaya jazz lewat kecantikan, keseksian, dan kegenitan. Kesan jazz yang simple sejenak kabur dalam balutan keglamoran. Tubuh seksinya meliuk, suara seksinya mendesah, dan mimik mukanya mengundang, Dalam dirinya jazz menjelma dalam paduan sempurna antara kecantikan, keindahan, dan harmoni soul yang luar biasa. Di dalamnya tidak hanya menunjukkan tradisi jazz yang kental, namun juga modernitas yang indah.

Simak pula kelompok kolaboratif Miles Smiles yang mengusung filosofi jazz dari almarhum Miles Davis (1926-1991). Warna Davis terasa benar mewarnai jazz yang mereka bawakan. Legenda jazz Miles Davis memang tidak diusung sebagai tema besar dalam Java Jazz. Namun, secara kebetulan, sederet musisi dalam festival ini terkait secara langsung, atau tidak langsung, dengan ranah kreatif Miles Davis. SelainDuke dan Clarke, terdapat pula Kenny Garrett (52), saksofonis yang lima tahun bergabung dengan Miles.

Kelompok Miles Smiles sengaja dibentuk untuk merayakan semangat kreatif Miles Davis yang memberi warna dan arah dalam perjalanan jazz dunia. Mereka terdiri dari Wallace Roney, pemain trompet yang cita suara trompetnya banyak dipengaruhi Miles. Juga ada Joey DeFrancesco (organ Hammond), Omar Hakim (drum), Darryl Jones (bas), Larry Coryell (gitar), dan Rick Margitza (saksofon). Nama kelompok Miles Smiles diambil dari album Miles Smiles dari Miles Davis Quintet berjudul sama yang dibuat tahun 1967. Mereka memainkan ”Footprints”, komposisi dari Wayne Shorter yang termuat di album Miles Smiles. Juga ”New Blues” yang sering dibawakan Miles dalam pentas-pentasnya dan termuat dalam album Live Around the World yang berisi rekaman di konser Miles di sejumlah tempat. Pada konser/album ini terlibat Joey DeFrancesco dan Kenny Garrett, keduanya hadir di Java Jazz dalam kelompok berbeda.

Tiga hari memang waktu yang terasa sangat singkat untuk melahap semua warna jazz yang ditampilkan oleh para musisi dunia. Penampilan mereka yang kadang bersamaan sering membuat para penikmat jazz berada dalam posisi sulit karena harus memilih siapa yang ingin dilihat dan didengar. Satu hal yang pasti, jazz telah menyatukan begitu banyak orang. Jazz telah membawa orang dari berbagai belahan dunia untuk melebur dan mencair bersama di Jakarta. Barangkali hanya jazz dan musik pada umumnya yang menghadirkan cinta dan membuat dunia semakin damai, indah, dan setara. Seperti kata Phil Perry dalam penampilannya di hari terakhir (Minggu, 3 Maret), siapa pun kita, apa pun latar belakang, warna kulit, agama, dan idiologi kita, hendaknya kita saling mencinta. Sampai jumpa di Java Jazz 2014.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...