Jumat, 22 Maret 2013

Kuburan itu Bernama Jalan Raya


Miris rasanya membaca arsip berita yang dimuat di Kompas Selasa, 24 Juli 2012 tentang korban kecelakaan lalu lintas di Jakarta. Dalam kurun waktu seminggu dilancarkannya Operasi Patuh Jaya, Kepolisian Metro Jakarta mencatat 21 nyawa melayang sia-sia di jalanan, 45 mengalami luka berat, dan 71 luka ringan. Secara rerata, setiap harinya ada 3 orang meninggal di jalanan ibu kota dengan sebagian besar korbannya adalah para pengendara sepeda motor. Ini belum menghitung korban yang luka-luka. Statistik korban kecelakaan lalu lintas ini tentu membuat keprihatinan yang mendalam. Sebegitu ugal-ugalan dan cerobohkah para pengguna jalan sehingga menjadikan jalan raya sebagai kuburan bagi pengguna jalan lainnya?


Yang sangat mengkhawatirkan, mayoritas korban kecelakaan di jalan adalah tulang punggung keluarga. Bila 50% korban meninggal adalah para pencari nafkah yang menanggung 3 jiwa (seorang istri dan dua anak) dalam keluarganya, berapa kerugian materiil yang harus ditanggung keluarga-keluarga yang kehilangan pencari nafkah ini? Setidaknya, setiap minggu ada 20 anak yatim atau piatu dan 10 pasangan dipisahkan dari belahan jiwa mereka oleh teror yang mewujud dalam kecelakaan lantas. Berapa orang akan menjadi yatim dalam sebulan atau setahun? Amat memilukan, bukan? Dampaknya, masyarakat dan negara akan terbebani oleh anak-anak yang masih memerlukan dukungan finansial dari orang dewasa bagi kehidupan mereka. Ini hanya dari sisi material, bagaimana dengan dampak non-material akibat hilangnya nyawa karena kecelakaan ini bagi anak, pasangan, saudara, atau kerabat karena putusnya relasi kasih sayang, perhatian, dan cinta? Sungguh luar biasa kerugian yang ditimbulkan kecelakaan lalu lintas! Sayangnya, potensi kerugian yang dahsyat dan membebani negara ini sering kita abaikan. Para pengambil kebijakan seringkali tutup mata atas persoalan yang sebenarnya sudah sampai pada tahap yang sangat mengkhawatirkan ini.

Persoalannya, mengapa angka korban kecelakaan lalu lintas di Jakarta begitu banyak dan berkecenderungan meningkat setiap tahunnya? Pertanyaan ini patut kita cermati dan harus kita carikan solusi guna melindungi para pengguna jalan raya. Ada beberapa penyebab yang patut kita duga sebagai biang keladi terjadinya kecelakaan yang menghantui para pengguna jalan raya.

Pertama berkaitan dengan sarana dan prasarana jalan. Jalan raya di ibu kota sudah tidak mampu lagi menampung jumlah kendaraan yang melintas. Pertumbuhan kapasitas jalan yang hanya 1% per tahun tidak mampu menampung jumlah kendaraan yang persentasinya meningkat tajam setiap tahun. Akibatnya, jalanan menjadi macet. Karena kemacetan yang gila-gilaan ini, para pengguna jalan akhirnya dipaksa mencari solusi sendiri untuk mobilitas yang lebih efektif dan efisien: kendaraan roda dua (motor) yang cepat dan murah. Karena itu, jalan raya dipenuhi oleh kendaraan roda dua yang jumlahnya semakin hari semakin banyak bak lalat yang mengerubungi bangkai. Para pengamat transportasi sudah mengingatkan bahwa mengendarai motor sangat riskan untuk kecelakaan yang fatal. Sayangnya, masyarakat Jakarta tidak punya pilihan kecuali harus meresikokan diri mereka untuk beraktifitas meskipun nyawa menjadi taruhannya.

Teror di jalan juga diperburuk dengan kesadaran dan perilaku berlalu lintas yang memprihatinkan dari para pengguna jalan. Bukan hal aneh bahwa banyak pengendara kendaraan roda dua di Jakarta mengabaikan keselamatan. Bermotor tanpa mengenakan pelindung keselamatan seperti helm, sarung tangan, sepatu, dll. atau mengangkut lebih dari satu penumpang adalah pemandangan biasa yang sehari-hari kita temukan di Jakarta. Belum lagi dengan perilaku berlalu lintas yang serampangan dan tidak tertib yang diperlihatkan para pengendara, khususnya pengendara sepeda motor dan para pengemudi angkutan umum. Di sebagian besar jalanan di ibu kota, kecuali di jalan-jalan protokol seperti Thamrin, Sudirman, dan Gatot Subroto, para pengendara sepeda motor dan pengemudi angkutan umum tidak memedulikan peraturan lalu lintas. Di perempatan atau pertigaan, mereka mengabaikan lampu pengatur lalu lintas. Lampu apa pun yang menyala dianggap lampu hijau. Berapa pengendara sepeda motor yang berhenti ketika lampu pengatur lalu lintas menyala merah? Barangkali hanya 20% dari pengguna yang mematuhi lampu lalu lintas yang menjadi pengendali aliran lalu lintas di jalan raya. Karena itu, tidak heran kalau angka kecelakaan sangat tinggi, terutama yang terjadi pada kendaraan roda dua. Data dari kepolisian pun mempertegas asumsi ini.  Faktor utama penyebab terjadinya kecelakaan lalu lintas di Indonesia rata-rata oleh dua hal, yaitu tidak adanya kesadaran menaati aturan lalu lintas dan tidak adanya etika dalam berlalu lintas. Hal tersebut diungkapkan Wakil Kepala Polri Komjen Pol Nanan Soekarna dalam acara deklarasi "Keselamatan Berlalu Lintas atau Road Safety" di gedung NTMC, Korlantas Polri, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (Kompas on line, 21/3/2013).

Sebenarnya, masih banyak penyebab terjadinya kecelakaan di jalanan ibu kota seperti kondisi kendaraan, keadaan pengendara, sarana jalan raya yang kurang memadai, perilaku berlalulintas yang membahayakan, dan lain sebagainya. Meskipun demikian, dua penyebab di atas sebaiknya diprioritaskan terlebih dahulu agar teror di jalan raya ini tidak menjadi zombi yang secara diam-diam dan setiap waktu mengancam para pengguna jalan. Sungguh tidak masuk akal bahwa angka kematian di jalan dalam setahun jauh lebih tinggi dari angka kematian serdadu AS yang berperang di Irak selama 5 tahun. Sungguh ironis dan tragis!

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...