Selasa, 19 Maret 2013

Non scholae sed vitae discimus


Ungkapan yang dijadikan judul di atas berasal dari pepatah kuno Latin yang dapat diterjemahkan secara harafiah demikian: Kita belajar bukan untuk sekolah melainkan untuk hidup. Pepatah ini memiliki makna yang sangat dalam dan menyiratkan bahwa tujuan belajar yang sejati adalah demi kehidupan yang lebih baik dan bukan semata-mata untuk sekolah (belajar itu sendiri). Mencermati fenomena belajar jaman sekarang, pepatah ini nampaknya relevan dengan apa yang terjadi dalam dunia persekolahan negara kita. Secara kasat mata, kita melihat para pelajar dan mahasiswa yang belajar hanya demi nilai (grade) atau demi ijazah, sertifikat, dan gelar. Tanpa disadari, mereka mengesampingkan makna belajar yang sesungguhnya: berlatih dan menempa diri demi kualitas hidup yang lebih baik di masa kini dan mendatang.


Fenomena belajar demi nilai atau ijazah semacam ini tercermin melalui aktivitas belajar yang dangkal di sekolah dan perguruan tinggi kita. Fokus pembelajaran bergeser dari upaya mengembangkan diri dan melatih ketrampilan ke tujuan temporer semu, yaitu mendapatkan nilai kelulusan. Tentu bukan hal yang diharamkan untuk mendapatkan nilai yang cemerlang, namun jauh lebih berharga bila proses pembelajaran yang ditempuh memberi value dan refleksi yang mendalam tentang kehidupan.

Akibat dari paradigma belajar yang demikian, berbagai upaya pun ditempuh agar lulus, agar nilai yang mereka dapatkan memenuhi syarat kelulusan. Contoh klasik adalah pembelajaran yang menitikberatkan pada hafalan dan mengesampingkan kajian yang mendalam atas materi pembelajaran. Intensitas pembelajaran semacam ini hanya sampai pada tataran pengetahuan, paling maksimal menyentuh tingkat pemahaman. Kegiatan yang merangsang siswa untuk memberikan opini, meneliti dan mengevaluasi persoalan, membuat perbandingan, dan mengambil kesimpulan atas materi pembelajaran kurang diperhatikan. Tentu saja, kegiatan belajar yang jamak terjadi di sekolah kita semacam ini membuat  pembelajaran menjadi monoton dan membosankan. Hal ini diperparah dengan bentuk ujian akhir dari tingkat sekolah dasar sampai menengah atas yang berupa pilihan ganda. Bentuk ujian semacam ini “mematikan” nalar sintesa dan evaluatif siswa sehingga semakin mendorong siswa untuk sekedar menghafal dan berlatih mengerjakan soal-soal ujian, terutama di tahun terakhir setiap jenjang pendidikan.

Persoalannya menjadi semakin runyam karena ujian akhir yang salah kaprah ini menjadi salah satu faktor terpenting yang menentukan kelulusan siswa. Kalau siswa tidak siap, segala upaya curang ditempuh: mencontek, menjiplak, mengkopi pekerjaan orang lain, dan berbagai perbuatan tak terpuji yang lain. Dalam beberapa kasus, sekolah bahkan “memfasilitasi” perbuatan tak terpuji ini demi menyelamatkan “reputasi” sekolah yang sangat kuatir bila kelulusan tidak mencapai 100 persen. Model ujian pilihan ganda juga membuka peluang “bisnis” dengan beredarnya kunci jawaban sebelum ujian akhir berlangsung. Kebocoran soal dan praktek jual-beli kunci jawaban menjadi berita yang selalu menyertai pelaksanaan ujian akhir nasional. Ujian akhir yang sejatinya dimaksudkan untuk mengukur tingkat pencapaian belajar pun menjadi bias. Bahkan bagi sebagian besar siswa, ujian akhir menjadi momok yang menakutkan. Tak heran bila banyak sekolah menyelenggarakn dzikir, doa istigosah, atau beragam bentuk kegiatan spiritual lain demi kesuksesan menjawab soal ujian.

Perilaku siswa semacam ini tentu bukan sepenuhnya salah mereka. Sistem pembelajaran di sekolah memaksa siswa untuk berperilaku demikian. Selama orientasi belajar adalah nilai dengan ujian akhir yang hanya mengukur kemampuan menghafal melalui soal-soal pilihan ganda, filosofi dan makna belajar yang sesungguhnya tak berkembang dengan baik. Aktivitas belajar di kelas akan tetap kering, kemampuan berpikir kristis tak pernah dilatih, nalar dan logika tak akan berkembang, dan kreatifitas akan sulit tumbuh. Ditambah lagi dengan sistem yang korup akan semakin memandulkan gairah belajar yang hakiki.

Inilah ironi yang sedang berlangsung di sekolah-sekolah kita. Sekolah dengan segala perangkat pendukungnya seharusnya menjadi the driving force dan ladang persemaian bagi generasi muda bangsa yang kreatif, inovatif, dan peduli. Sayangnya, bibit-bibit bangsa ini tidak tumbuh di persemaian yang seharusnya. Yang sering terjadi justru mandegnya potensi siswa karena sistem dan paradigm belajar yang berorientasi pada nilai. Menyedihkan? Memang.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...