Jumat, 01 Maret 2013

Valentine dan Seks Bebas

Perayaan Valentine (14 Februari) sudah berlalu. Apa yang diperoleh dari peringatan yang identik dengan kasih sayang ini? Dari berbagai situs berita online, Valentine justru mendorong perilaku asusila masyarakat yang semakin permisif di semua lapisan dan tersebar merata dari Aceh, yang ketat menerapkan syariat Islam, hingga Papua. Polisi, jaksa, PNS, pelajar-mahasiswa, dosen-guru, sopir, tukang bangunan, hingga pengangguran terjaring razia susila di hari Valentine yang dilancarkan pihak berwenang dan beberapa organisasi kemasyarakatan. Mereka tertangkap basah merayakan Valentine dengan bermesum ria atau berselingkuh di hotel, apartemen, penginapan, dan bahkan di kendaraan. Benarkah Valentine mencerminkan meningkatnya perilaku asusila masyarakat?
Tak dapat dipungkiri bahwa seks bebas semakin marak dalam masyarakat kita. Beberapa penelitian telah mengungkap perilaku seks bebas di kalangan mahasiswa di kota-kota besar seperti Bandung, Jogja, Jakarta, dan Surabaya. Bahkan, sebuah penelitian di Jakarta akhir-akhir ini mengungkap hasil yang sangat mencengangkan. Hampir 50 persen pelajar perempuan di Jakarta yang menjadi responden penelitian mengaku sudah tidak lagi perawan dan pernah melakukan hubungan seks layaknya suami-istri. Padahal, menurut UU, pelajar yang rata-rata masih di bawah 17 tahun digolongkan sebagai anak-anak dan mendapat perlindungan negara. Siapa pun yang berhubungan seks dengan mereka diancam hukuman penjara 10 tahun. Nyatanya, seragam sekolah yang masih mereka kenakan tidak dapat mengerem keinginan mereka untuk melakukan seks bebas.
Tehnologi informasi telah membeberkan fakta dan bukti nyata bahwa perbuatan mesum juga banyak dilakukan oleh selebritis, elit politisi, dan pemangku jabatan publik lain yang menduduki posisi terhormat di masyarakat. Kita belum lupa dengan kasus tersebarnya video mesum yang dilakukan sepasang selebritis yang mirip dengan mantan vokalis Peterpan dan presenter ternama. Video mesum dari politisi Senayan juga banyak beredar di kalangan masyarakat. Beberapa waktu lalu, seorang politisi perempuan dipanggil BK DPR untuk memberikan klarifikasi atas beredarnya video esek-esek yang pelakunya amat mirip dengan politisi tersebut. Begitu juga perilaku asusila di kalangan pejabat pemerintah, baik pusat maupun daerah. Cukup sering kita membaca berita tentang bupati dan walikota  yang tertangkap gambarnya melalui video atau foto sedang berpose mesra dan “menantang” dengan orang yang bukan pasangan resminya. Ini menandakan bahwa perilaku asusila telah merebak luas di semua kalangan.
Di kalangan dunia usaha, gratifikasi seks sudah menjadi rahasia umum. Upeti perempuan belia kepada pemangku kebijakan sebagai upaya untuk memperlancar usaha sudah jamak dilakukan pihak swasta. Gratifikasi seks semacam ini merupakan pelicin yang sangat jitu dan hampir tidak pernah mendapatkan penolakan. Biasanya gratifikasi seks digunakan pihak yang berkepentingan sebagai gerbang untuk suap yang nilainya jauh lebih besar. Tentu masih segar dalam ingatan kita, bagaimana Ahmad Fathanah, orang kepercayaan mantan Ketua Partai Keadilan Sejahtera, dicokok KPK tengah berduaan dengan perempuan muda cantik nan seksi Maharani setelah menerima uang suap sehubungan dengan kuota impor daging sapi. Menurut bisik-bisik yang santer terdengar di kalangan politisi, penguasa, dan pengusaha, praktek gratifikasi seks ini telah lama merebak di kalangan mereka. Disinyalir beberapa penguasa terang-terangan meminta pelayanan spesial ini bila ingin urusan para pengusaha lancar. Bisa jadi kasus tertangkapnya Fathanah dengan perempuan muda cantik sebagai gratifikasi seks adalah sebuah fenomena gunung es. 
Ketiga paparan di atas memperkuat sinyalemen bahwa perilaku asusila, terutama yang terkait dengan seks bebas dan perselingkuhan, semakin terpampang nyata di masyarakat kita. Meskipun perilaku ini dilakukan secara tersembunyi dan terlaksana di ruang-ruang privat yang tertutup, dampak sosial yang ditimbulkan cukup merusak. Apalagi dengan kemajuan tehnologi informasi, para remaja kita (pelajar dan mahasiswa) dapat dengan mudah mengakses berita dan tayangan asusila yang dilakukan para pejabat, politisi, aparat, selebriti, dan orang dewasa lain. Remaja yang masih belum matang secara mental dan suka bereksperimen ini akan tergoda untuk meniru perilaku asusila ini. Apakah perilaku asusila ini akan lebih marak di perayaan Valentine tahun depan? Akankah lebih banyak pasangan selingkuh terjaring razia susila di Valentine yang akan datang? Let’s wait and see.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...