Minggu, 03 Maret 2013

Yang Kaya, Yang Memberi



Setiap orang ingin menjadi kaya karena kekayaan identik dengan kesejahteraan. Semakin kaya seseorang, semakin sejahtera hidupnya. Meskipun kata “kaya” dimaknai berbeda antara seorang individu dengan yang lainnya, secara substansi orang sepakat bahwa yang digolongkan sebagai orang kaya adalah mereka yang mampu memenuhi semua kebutuhan hidup dan berkemampuan untuk memenuhi hampir semua keinginannya.
Kekayaan seseorang dapat diperoleh dengan banyak cara. Jaman dahulu, orang kaya adalah mereka yang menguasai aset-aset ekonomi riil. Sampai pertengahan abad 20, para tuan tanah, saudagar, pengusaha transportasi, dan pemilik pertanian atau perkebunan yang luas adalah orang-orang kaya. Namun untuk jaman sekarang dan di masa mendatang, para pemilik aset ekonomi tidak secara otomatis menjadikan mereka kaya. Bila kepemilikan ini tidak didukung dengan pengelolaan aset yang benar dan tepat, dengan cepat mereka akan jatuh miskin.

Karena itu, berbagai cara dan upaya ditempuh manusia untuk menjadi kaya. Cara-cara licik, koruptif, dan manipulatif dilakukan asal tujuan menjadi kaya dapat diraih walaupun tak sedikit pula yang mengupayakannya dengan cara jujur, kerja keras, dan pantang menyerah. Pendek kata, hidup bergelimang harta menjadi dambaan setiap insan.

Sayangnya, bekerja keras saja tidak selalu menghadirkan kekayaan. Seorang supir taksi yang tanpa kenal lelah bekerja 18 jam sehari, misalnya, tidak akan pernah menjadi kaya. Beruntung kalau dia bisa hidup cukup layak. Begitu pula dengan pegawai kantoran yang membanting tulang setiap harinya. Sekeras dan sehebat apa pun tugas yang ia tuntaskan, ia hanya akan mendapatkan bayaran yang telah disepakati dengan pemberi kerja pada akhir bulan. Paling-paling seorang pegawai yang sukses dapat hidup berkecukupan, namun tidak akan menjadikannya kaya. Sebaliknya, entah karena mujur (memenangkan lotre, mendapatkan warisan, atau menikah dengan orang kaya, misalnya) atau karena kepandaiannya membaca tanda-tanda jaman, seseorang bisa menjadi kaya secara mendadak.

Ada pepatah yang sejak dulu dianggap sebagai cara jitu menjadi kaya. “Hemat pangkal kaya,” begitu ungkapan bijak yang kita warisi dari nenek moyang kita. Bila perlu, orang menjadi pelit dan penuh perhitungan dalam membelanjakan uang agar dapat menimbun harta. Menyisihkan penghasilan, berperilaku irit, dan mengatur pengeluaran dengan teliti menjadi tip yang sering dianjurkan oleh konsultan keuangan. Benarkah prinsip ini mampu membuat kita menjadi kaya?

Di jaman instan dan berteknologi canggih sekarang ini, pepatah tersebut nampaknya perlu ditinjau ulang. Manusia-manusia yang tergolong dalam kategori “super kaya” di abad 21 ini memperoleh kekayaan dengan cara yang bertolak belakang dengan pepatah tersebut. Sangat mencengangkan bahwa cukup banyak orang kaya jaman ini yang mampu mendatangkan kemakmuran dalam waktu relatif singkat. Strategi mereka bukan dengan cara menimbun harta, menjadi pelit, atau melakukan kalkulasi keuangan yang njlimet. Sebaliknya, kekayaan mereka diperoleh dengan cara MEMBERI.

Pernahkah Anda memikirkan bagaimana pemilik Google, jejaring sosial Facebook, Twitter, atau pemilik Kaskus menjadi orang-orang kaya bahkan tergolong super kaya? Rumusnya sangat sederhana: memberi dan melayani secara cuma-cuma dengan cara terbaik. Para dermawan ini memberi jasa dan pelayanan maksimal kepada semua orang tanpa pandang bulu dengan sepenuh hati, suka cita, dan dengan menyediakan perangkat-perangkat tercanggih yang sangat memuaskan. Pemberian dan layanan mereka dikelola secara professional, total dan gratis. Tak sepeser pun harus  dikeluarkan pengguna untuk mendapatkan layanan mereka.

Pemberian dan pelayanan gratis kepada semua orang inilah yang menjadikan mereka kaya. Kekayaan mereka bertambah bukan dalam hitungan tahun atau bulan, tetapi dalam hitungan jam, menit, bahkan detik. Every second counts! Mereka berpikir dan bekerja keras bagaimana cara memberikan layanan gratis yang terbaik bagi semua orang tanpa pilih kasih. Siapa pun dapat dan boleh menikmati jasa layanan mereka. Pelajar, mahasiswa, buruh, pegawai, politikus, garong, pencopet, bahkan teroris sekali pun dapat menggunakan layanan yang disediakan secara gratis. Filosofi mereka sangat mulia: berilah sebanyak-banyaknya, maka kamu akan mendapat upah yang melimpah!

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...