Kamis, 11 April 2013

Tragic Heroine dalam Hedda Gabler karya Hendrik Ibsen


Tipikal dan membosankan! Begitulah kesan yang biasa pembaca peroleh setelah selesai menamatkan sebuah karya sastra dengan tokoh jagoan (protagonis) memperoleh kesuksesan atau kemenangan di penghujung cerita. Terdapat kecenderungan bahwa sejak kecil pikiran para penikmat sastra telah dicemari oleh ide klasik bahwa “kemenangan merupakan hak sang protagonis”.  Bila sang protagonis mendapatkan kemalangan, pembaca ikut merasakan kesedihan. Dengan kemenangan atau kebahagian, pembaca mendapatkan kepuasan dan pemenuhan yang sesuai karena simpati yang mereka berikan kepada sang tokoh.

Namun tidak semua kisah dalam karya sastra yang berakhir dengan kejayaan. Bila kegagalan yang dialami oleh tokoh protagonis, maka  akhir cerita  menciptakan citra tokoh yang tragis (tragic heroine ). Dalam dunia literatur, tragic heroine didefinisikan sebagai “…a literary character of great stature whose moral defect leads to tragedy but some self-awareness” (McKinney, Beth E, 2011). Istilah ini telah hadir sejak zaman Aristotle, namun, seiring dengan perubahan dan perkembangan jaman, makna tragic heroine memiliki sejumlah variasi terhadap ciri-ciri yang dikenakan oleh seorang tragic heroine. Akhir tokoh yang tragis dapat terlihat jelas dalam drama Hedda Gabler melalui tiga aspek penting: status sosial tokoh, takdir, dan kematian.

Sejak awal drama, pembaca telah diberikan pemahaman bahwa tokoh utama protagonist Hedda mempunyai kelas sosial yang terpandang pada masa drama ini diterbitkan (1890). Dilahirkan sebagai putri Jendral Gabler yang berpengaruh memberi fondasi yang kokoh atas ke-noble-an yang disandang perempuan ini. Status sosial Hedda merupakan cikal bakal dalam pembentukan karakter bangsawan yang dimilikinya. Sifat ini tercermin melalui ketidaksukaan Hedda ketika melihat topi Bibi Jule Tesman yang diletakkan secara tidak semestinya dan mengganggu dekorasi rumahnya.

HEDDA (menunjuk): Lihat itu. Dia meninggalkan topi bututnya begitu saja di atas kursi.
NONA TESMAN (mengambil topinya): Ya, ini memang milikku dan topi ini juga tidak butut… (Ibsen, 1, 295)

Ucapan bernada menghina dan merendahkan ini merepresentasikan perbedaan derajat antara kedua perempuan tersebut. Pandangan mereka yang bertolak belakang tentang kualitas suatu barang, dalam hal ini sebuah topi, menggambarkan perbedaan selera dan latar belakang kehidupan mereka. Pada zaman tersebut perbedaan status sosial dalam masyarakat Eropa memang masih terasa dengan menggolongkan orang dalam empat kelas utama: bangsawan, cendekiawan, pengusaha, dan pekerja.

Reputasi besar yang melekat pada diri Hedda juga  didukung oleh pistol yang diperlakukan sebagai mainan kesayangannya di akhir babak pertama dan di awal babak kedua. Meskipun barang ini dapat diartikan sebagai foreshadowing (padahan) atas kematiannya. Dengan memiliki pistol warisan ayahnya, Hedda hendak menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya. Ia secara tidak langsung mengirim sinyal bahwa dirinya adalah pribadi eksklusif dan istimewa. Tidak sembarang kalangan masyarakat diberi hak istimewa untuk memiliki pistol, apalagi, manakala melihat konteks drama tersebut yang bahkan belum memasuki abad ke-20. Senjata api ini sebenarnya berperan sebagai simbol otoritas yang dimilikinya.

Otoritas Hedda dapat dilihat pula dalam kemampuannya memanipulasi beberapa tokoh lain. Bahkan para tokoh pria, yang pada saat naskah tersebut diterbitkan masih mempunyai status yang lebih superior ketimbang wanita, dengan mudah dipengaruhi lewat ucapan-ucapan manis yang keluar dari bibir perempuan jelita ini. Alhasil, pengaruhnya memperjelas potret Hedda sebagai perempuan yang penuh dengan kuasa.

Berkaitan dengan persoalan takdir,  tokoh Hedda mencerminkan perlawanannya yang gigih atas hegemoni pria pada masa tersebut. Layaknya seorang tragic heroine yang klasik, perempuan ini sejak awal sudah berjuang untuk mandiri dan berani menentukan jalan hidupnya sendiri. Namun, betapun keras ia berjuang, takdirnya sebagai perempuan tidak dapat ia lawan. Mendekati usia 30 tahun, Hedda tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti takdirnya sebagai perempuan: menikah. Kalau tidak menikah, ia tidak dapat menyokong hidupnya karena saat itu perempuan tidak diperkenankan bekerja dan menafkahi dirinya sendiri. Karena itulah ia “terpaksa” harus menikah dengan Jorgen Tesman sebagaimana ia ungkapkan kepada Hakim Brack berikut.

HEDDA: Tuan yang Budiman, aku hanya sekedar mengekspresikan diri. Waktuku habis. (Tiba-tiba). Ah, tidak! Aku tidak ingin mengucapkannya. Memikirkannya pun tidak. (Ibsen, 2, 326)

Ungkapan perasaan Hedda ini menjadi bukti bahwa sebagai perempuan, dirinya tidak mampu menentang takdir untuk menikah. Kekhawatirannya menjadi perawan tua membuat waktu Hedda hampir “habis” meskipun dia sebenarnya ingin mengelak dari takdir ini, bahkan, bila memungkinkan, tidak ingin “memikirkan” hal tersebut.

Akibat dari keterpaksaan menikah dan menjalani takdir ini, Hedda akhirnya harus menghadapi berbagai masalah. Salah satu yang terberat adalah menikahi Jorgen Tesman, pria yang menurutnya kurang mengasyikkan karena terlalu kutu buku dan sibuk dengan penelitian ilmiah. Masalah ini merupakan konsekuensi dari kodratnya sebagai perempuan.

Pernikahannya dengan Jorgen Tesman sebagai akibat dari takdir tersebut membuahkan sejumlah masalah yang harus ia terima. Misalnya, ketidakpuasan Hedda dalam pernikahan yang “terpaksa” itu membawa Hedda kepada jiwa yang tidak nyaman. Selain itu, pernikahan yang baru berjalan enam bulan itu juga mengindikasikan kebosanan. Namun ia tak kuasa melawan karena hanya Jorgen Tesmanlah pria yang paling layak untuk “menyokong” hidupnya dan dapat memberikan jaminan status sosial yang baik di masyarakat. Karenanya lamaran Jorgen adalah tawaran yang tak kuasa ia tolak (Ibsen, 2, 327).

Refleksi keberadaan tokoh Hedda sebagai tragic heroine memuncak pada keputusasaannya yang berujung pada kematiannya yang tragis: bunuh diri dengan pistol warisan ayahnya. Hedda yang secara psikologis terbelenggu dalam kehidupan perkawinannya yang membosankan dan tertekan secara eksternal dari lingkungan masyarakat yang membatasi geraknya sebagai perempuan tak dapat lagi bertahan. Ia merasa hidupnya tak lagi dapat memberi makna bagi dirinya yang ingin bebas tetapi secara fisik tergantung pada suami yang tak sepenuhnya ia cintai. Ia tidak mampu memberi pengaruh dominan kepada suaminya Jorgen Tesman yang selalu berkutat dengan buku-bukunya. Tidak seperti Nyonya Elvsted yang mampu memberikan pengaruh positif bagi mantan pacarnya Ejlert Lovborg. Ia iri dengan Nyonya Elvsted yang kelihatan lemah namun berperan besar dalam keberhasilan Ejlert Lovborg. Bisa saja ia memanipulasi keadaan ini. Namun ia tak dapat menipu dirinya sendiri bahwa dirinya tidak bahagia.

Keputusasaan dan ketidakbahagiaan Hedda terlihat dari bagaimana ia membakar naskah Ejlert yang akan diterbitkan

HEDDA (melemparkan beberapa lembar kertas ke dalam api dan berbisik pada dirinya sendiri): Kini kubakar anakmu, Thea. Kau dengan rambut ikalmu…” (Ibsen, 3, 382)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa sifat iri hati dan selfish telah menjadikan Hedda sebagai pribadi yang rawan dan rentan ketika menghadapi sebuah masalah seperti yang dapat terlihat lewat naskah yang ia bakar. Ia tak tahan melihat suaminya dikalahkan oleh Ejlert Lovborg, mantan pacarnya yang pernah memiliki kehidupan yang berantakan. Pengaruh positif Nyonya Elvsted kepada Ejlert Lovborg sekaligus juga merefleksikan kegagalannya memberi pengaruh yang sama ketia ia berpacaran dengan Ejlert. Dalam hal ini, Hedda merasa tidak berguna. 

Akhir yang tragis dari tokoh Hedda menunjukkan bahwa selama hidupnya dirinya dikekang oleh ‘penjara’ penilaian masyarakat menyebabkan batin Hedda terbelenggu sehingga ia tak bisa menjadi diri sendiri. Contoh sederhanyanya adalah ketika ia terpaksa harus menikah karena seorang perempuan harus bergantung pada pria dan hidup bersama dalam domain pernikahan.  Sekalipun demikian, aksi bunuh diri Hedda ini menggambarkan sifat Hedda yang berani melompat dari lingkaran publik yang secara tidak langsung terus menyerangnya. Dengan demikian, kematian Hedda merepresentasikan kemenangan mutlak yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya.


Melalui peristiwa-peritiwa dan konflik-konflik yang dialami Hedda, pembaca dapat melihat pergulatan tokoh yang sangat intens dalam menyikapi persoalan yang dihadapinya. Akhir yang tragis dari sang tokoh utama memberikan gambaran kepada pembaca bahwa perilaku manipulatif dan tekanan eksternal sering menjadikan problem mendasar bagi seorang individu. Tekanan ini bertambah besar intensitasnya manakala individu tersebut memiliki status sosial yang relatif tinggi, namun secara kodrati terbelenggu oleh nilai-nilai yang menentang keinginan dan kebebesan individu tersebut. Karena itu, fenomeno tragic heroine dalam Hedda Gabler memberi kita petunjuk bahwa status sosial yang tinggi tidak dapat menjamin kebahagian seseorang. 

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...