Rabu, 22 Mei 2013

Julius Caesar: Tokoh Kontroversial



Setelah menaklukkan Pompei dan menjadi penguasa satu-satunya di Romawi, Julius Caesar membuktikan bahwa dialah penguasa tunggal yang paling digdaya di seluruh dunia. Kekuasaan tunggal yang berada dalam genggamannya ini menimbulkan dampak sampingan yang pada akhirnya membuat ia dimusuhi para pesaing politiknya. Pada akhirnya, Julius Caesar mati di tangan orang-orang yang dikasihinya akibat konspirasi politik yang dimotori oleh para senator antara lain Cassius, Brutus, Casca, Cinna, dan beberapa lagi yang lain. Kematian Caesar membawa Romawi dalam perang saudara antara kubu yang mendukung Cassius dan Brutus dengan kubu pemuja kaisar, yaitu Antonius dan Octavius, yang di kemudian hari menjadi Kaisar Romawi I dengan gelar Augustus.

Demikian ringkasan drama tragedi Julius Caesar karya William Shakespeare, pujangga Inggris paling termasyur dalam sejarah peradaban umat manusia. Melalui drama ini, Shakespeare menggali sejarah Romawi dan mengawinkannya dengan imajinasi yang luar biasa sehingga memunculkan seorang tokoh kontroversial yang juga dijadikan judul drama dalam karyanya: Julius Caesar. Beberapa alasan berikut memperkuat kekontroversialan Julius Caesar.

Pertama, dalam kajian literatur, tokoh yang namanya dijadikan judul buku biasanya adalah tokoh utama protagonis atau tokoh sentral yang menjadi pusat penceritaan dari awal hingga akhir. Dalam drama ini, tokoh Julius Caesar hanya muncul sampai dengan awal Babak III dari keseluruhan lima babak. Bahkan kemunculan dan perannya di Babak I maupun II pun tidak terlalu menonjol. Justru tokoh yang lebih banyak muncul dan menjadi sorotan adalah para penentang Julius Caesar seperti Cassius dan Brutus. Konspirasi para penentang inilah yang menjadi fokus cerita drama. Drama ini mempertontonkan intrik-intrik dan rencana keji untuk menyingkirkan Caesar. Oleh karena itu, menjadi perdebatan yang menarik manakala kita membicarakan siapa tokoh utama protagonis dalam drama ini.

Kontroversi berikutnya adalah perwatakan Julius Caesar. Awal drama menggambarkan rakyat jelata berbondong-bondong mendatangi Roma untuk menyambut dan merayakan kemenengan Caesar atas Pompei. Sambutan rakyat yang meriah terhadap kemengangan Caesar ini mengusik rasa kemanusiaan dua orang tribunus (pejabat politik) bernama Flavius dan Marullus (Babak I, adegan 1, hal. 7-10). Mereka beranggapan bahwa kemenangan Caesar atas Pompei didapat dengan cara yang amat keji sehingga tidak pantas untuk dirayakan. Setelah membubarkan kerumunan rakyat dan meminta mereka pulang ke rumah masing-masing, dua tribunus ini mencopot umbul-umbul dan hiasan-hiasan kemenangan sebagai protes mereka atas perlakuan Caesar yang bengis terhadap Pompei. Gambaran ini menunjukkan bahwa para pejabat politik pun tidak menyukai perilaku Caesar yang kurang manusiawi dalam meraih kekuasannya.

Kontroversi perwatakan Caesar diperkuat dengan pandangan yang berbeda-beda yang dianut oleh para senator, terutama Cassius. Tokoh ini beranggapan bahwa kekuasaan Caesar sudah melampaui batas dan ia khawatir jika Caesar dibiarkan menjadi penguasa tunggal Roma, Caesar berpotensi menjadi diktator yang kejam (Babak I, Adegan 3, hal. 26-30). Kekhawatiran Cassius ini tercermin dalam percakapannya dengan Casca berikut:

Kenapa Caesar bisa jadi orang zalim? Orang malang! Aku tahu ia tidak akan jadi serigala jika orang Roma tidak dilihatnya seperti domba, ia tidak akan jadi singa, kalau orang Roma tak jadi rusa. Orang yang ingin menyalakan api besar, sebaiknya mulai dari jerami kecil. Roma tak lebih dari ranting, sampah dan sisa, jika ia menyediakan diri untuk jadi bahan baku untuk menerangi hal segitu keji, seperti Caesar!

Karena itulah, Cassius bersama Casca menggalang kekuatan secara sembunyi-sembunyi dan membentuk konspirasi untuk melenyapkan Caesar dengan alasan untuk menyelamatkan Roma dari seorang tirani yang zalim.

Untuk memuluskan rencana pelengseran Caesar, Cassius membujuk Brutus, seorang senator budiman dan dicintai rakyat Roma, dalam konspirasi politik tinggi. Melalui berbagai upaya dan akal bulus, Cassius akhirnya berhasil membujuk Brutus bergabung dalam konspirasi pembunuhan Caesar ini. Dengan keikutsertaan Brutus dalam konspirasi ini, kesempatan untuk menyingkirkan Caesar menjadi lebih besar. Pembunuhan Caesar pun terlaksana dengan mulus saat Caesar menghadiri sidang senator di Kapitol, ibukota Roma.

Di sisi lain, rakyat menilai bahwa perwatakan Caesar yang dianggap “keji, bengis, dan zalim” oleh para konspirator ini tidak begitu saja diterima. Seusai pembunuhan Caesar di Kapitol, suasana sempat menjadi sangat kacau. Para senator yang lain melarikan diri dan berusaha menyelamatkan diri. Pembunuhan ini sempat menimbulkan kekhawatiran dari para konspirator bahwa rakyat akan marah. Hanya karena pengaruh Brutus yang budiman dan dipercaya rakyat, kekhawatiran ini bisa diredam. Melalui pidatonya di depan jenazah Caesar, Brutus berhasil meredam kemarahan rakyat dengan memberikan alasan logis yang membenarkan aksi pembunuhan tersebut bahwa pembunuhan Caesar adalah sesuatu yang tak dapat dihindarkan demi kebaikan Caesar sendiri (supaya ia tidak menjadi penguasa lalim) dan demi kebaikan Roma secara keseluruhan (supaya Roma memiliki pemerintahan republik yang lebih demokratis).

Untuk sementara rakyat mendengar alasan Brutus. Namun, setelah mereka mendengar pidato pelepasan jenazah Caesar yang dilakukan Antonius, pikiran rakyat berubah. Pada akhirnya, sebagian besar rakyat berlainan pendapat dengan pendapat para elit politik tentang perwatakan Caesar. Di satu sisi, Antonius tidak dapat menyalahkan para pembunuh Caesar karena mereka adalah para senator terhormat yang dicintai rakyat. Di sisi lain, Antonius membuka pikiran rakyat bahwa Caesar pun tidak dapat serta-merta dicap sebagai diktator. Berikut adalah penggalan pidato Antonius:

“… Apa dalam hal ini Caesar kelihatan gila kekuasaan. Waktu si miskin meratap, Caesar menangis – Orang gila kekuasaan mestinya dibuat dari bahan lebih keras. Sungguhpun begitu, Brutus berkata Caesar gila kekusaan, dan Brutus orang budiman. Kalian semua melihat bagaimana aku di Lupercal sampai tiga kali menawarkan mahkota kepadanya, dan tiga kali pula ia tolak. Apa ini gila kekuasaan?” (Babak III, Adegan II, hal. 76).

Pandangan Antonius ini menjadi bukti perwatakan Caesar yang kontroversial. Elit politik memiliki kepentingan dalam menilai seorang pemimpin, apalagi bila pemimpin tersebut menghalangi kepentingan-kepentingan mereka. Kepentingan ini menjadi motivasi utama Cassius dalam mewujudkan tujuannya membunuh Caesar. Ia iri dengan keberhasilan Caesar. Sebaliknya, rakyat tidak ambil peduli bagaimana Caesar memerintah. Yang mereka pedulikan adalah apakah kehidupan keseharian mereka mejadi lebih baik, lebih aman, dan lebih sejahtera ketika di bawah pemerintahan Caesar. Persoalan-persoalan nyata keseharian yang sederhana seperti inilah yang menjadi kepedulian rakyat. Rakyat selalu jujur dalam menilai pemimpin mereka, tidak seperti elit politik yang melakukan penilaian berdasarkan kepentingan.

Pidato Antonius yang bernada menyindir ini akhirnya membuat rakyat marah dan memusuhi para konspirator pembunuh Caesar. Pada akhirnya, para konspirator ini melarikan diri dari Roma dan harus berhadapan dengan pasukan Antonius yang dibantu oleh Octavius untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka.

Melalui tokoh ini, kita belajar bahwa tidak ada seorang individu pun di dunia ini yang sempurna. Sehebat apa pun seseorang, ia pasti memiliki sisi baik dan buruk. Demikian pula dengan Julius Caesar, pemimpin dan Jendral Roma yang termasyur dan disegani baik lawan maupun kawan. Dalam dirinya ada dua sisi perwatakan. Karena itulah ia menjadi kontroversial: dicintai sekaligus dibenci.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...