Jumat, 26 Juli 2013

Setelah Berakhirnya Pesta Bola

Dua bulan terakhir ini, para pecinta (baca: penggila) sepak bola tanah air dimanjakan empat pertandingan persahabatan internasional yang kesemuanya berlangsung di stadion kebanggaan GBK, Senayan. Rangkaian pertandingan ini diawali dengan kedatangan kesebelasan Oranye, tiga kali finalis Piala Dunia, pada 8 Juni lalu dan kemudian secara berurutan diikuti tiga klub elit Liga Primer Inggris Arsenal, Liverpool, dan Chelsea pada 14, 20, dan 25 Juli kemarin. Dari keempat pertandingan ini gawang Indonesia yang dijaga oleh Kurnia Sandy kebobolan 20 gol, masing-masing 3 dari kesebelasan nasional Belanda, 7 dari Arsenal, 2 dari Liverpool, dan 8 dari Chelsea. Hanya melawan Chelsea, kesebelasan Indonesia yang dijuluki Indonesia BNI All Stars berhasil memasukkan satu gol hiburan yang tercipta pada menit ke-69. Gol hiburan ini pun berupa keberuntungan yang diawali dari aksi Greg di sisi kanan lapangan. Penyerang Arema Indonesia itu melepaskan umpan ke tengah kotak penalty, namun bola menyentuh kaki Tomas Kalas sehingga membuat bola masuk ke gawangnya sendiri.

Hasil ini tentu saja tidak perlu kita tangisi. Para penggila bola tanah air juga pasti memaklumi bahwa gawang Indonesia menjadi sasaran tembak para pemain lawan. Banyak pihak bahkan mengatakan betapa beruntungnya kesebelasan kita karena tidak kemasukan lebih banyak gol. Kesebelasan nasional kita memang kalah segala-galanya dari para tamu kita yang sudah memiliki tradisi sepak bola yang kuat dengan puluhan atau bahkan ratusan tahun pengalaman dalam memainkan si kulit bundar. Meskipun demikian, tidakkah kita dapat memetik manfaat dari empat pertandingan tersebut? Keempat pertandingan ini memberi pelajaran berharga kepada pengurus bola, pelatih, dan pemain.

Bagi pengurus, kesebelasan yang datang menunjukkan bagaimana mengelola sebuah tim yang solid, kompak, dan benar. Mengurus tim sepak bola tidak ada ubahnya seperti mengurus sebuah organisasi. Manajemen harus terbuka, profesional, dan berorientasi pada hasil. Kesebelasan sepak bola yang baik didapat dari pembinaan dan pembibitan yang berjenjang dan berkesinambungan. Pengurus jangan hanya fokus pada para pemain senior. Banyak pihak mengakui talenta-talenta yang sangat baik yang ditunjukkan para pemain muda/junior kita. Sayangnya, saat mereka memasuki jenjang senior, kemampuan bermain dan mental mereka tidak berkembang maksimal. Ini karena tidak adanya pengelolaan yang benar dari para pemangku dan otoritas sepakbola tanah air terhadap bibit-bibit unggul ini. Kesalahan mendasar para pengurus sepakbola tanah air adalah kelalaian mereka dalam membina para pemain muda secara berjenjang dan berkesinambungan. Kompetisi lokal dan usia muda tidak pernah dikelola dengan serius. Bila keadaan ini berlangsung terus, jangan pernah berharap kita akan memiliki kesebelasan nasional yang mampu berbicara di ajang internasional. Wong berlaga di kandang sendiri saja dibantai, apalagi berlaga di luar kandang.

Untuk para pelatih, bermain bola bukan sekedar memilih pemain yang bagus. Permainan bola adalah permainan kolektif yang memerlukan strategi dan taktik yang harus dibangun dan dirancang dengan efektif. Strategi dan taktik ini dipraktekkan dalam permainan lewat latihan yang panjang dan melelahkan. Keempat kesebelasan yang menjajal kesebelasan kita memiliki skema permainan yang rapi, jelas, dan konsisten. Setiap pemain mengetahui secara pasti apa yang dikehendaki pelatihnya manakala sedang memainkan bola atau kehilangan bola. Skema ini dipraktekkan selama ratusan, bahkan ribuan jam permainan dalam latihan mereka. Skema apa pun akan menghasilkan pola permainan yang baik asalkan dilakukan dengan konsisten. Karena itu, kesebelasan-kesebelasan yang hebat terkenal dengan pola permainan khas mereka. Belanda masyur dengan total footballnya, Italia dengan catanacio-nya, atau Inggris dengan kekuatan dan kecepatannya. Begitu juga dengan banyak tim liga yang hebat seperti Arsenal dan Barcelona yang dikenal lewat permainan atraktif lewat sentuhan-sentuhan bola pendek dari kaki ke kaki, Chelsea lewat keseimbangan antara serangan dan bertahan, dan Liverpool lewat kekuatan lapangan tengahnya. Pelatih harus memastikan bahwa instruksinya konsisten dan para pemain mamahami skema yang dilatihkan dengan baik. Sangat mengherankan bahwa para pelatih yang mengarsiteki kesebelasan nasional kita (Jackson dan RD) hanya memiliki waktu kurang dari seminggu untuk melatih. Sehebat apa pun pemain, kalau persiapan kurang, hasilnya tentu tidak maksimal.

Kempatan menjajal kemampuan empat kesebelasan elit ini tentu menjadi pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga bagi para pemain nasional kita. Satu hal yang tampak menonjol adalah stamina atau kebugaran fisik para pemain. Penonton pasti sepakat betapa kedodorannya stamina para pemain kita usai babak pertama. Akurasi, semangat, mental, dan kualitas pesepakbola sangat dipengaruhi oleh tingkat kebugarannya. Postur fisik pemain boleh lebih pendek atau lebih kecil, tetapi, bila memiliki kebugaran yang baik, ia pasti mampu mengimbangi pesepakbola yang lebih tinggi atau besar. Tingkat kebugaran yang rendah membuat pemain kita tidak mampu berduel head-to-head dengan mereka. Pemain kita mudah jatuh dan kalah dalam perebutan bola karena kalah perkasa akibat kebugaran yang rendah. Rendahnya tingkat kebugaran ini tampak menonjol saat meladeni permainan Arsenal yang cepat. Di babak pertama, gempuran Arsenal masih dapat diredam sehingga gawang kita hanya kebobolan dua gol. Namun di babak kedua, di saat nafas pemain kita sudah habis, para pemain Arsenal leluasa menguasai permainan dan melesakkan lima gol tambahan. Kebugaran adalah syarat mutlak yang manjadikan pemain mampu mempertahankan permainan yang konsisten dalam  90 menit pertandingan. Sehebat apa pun ketrampilan seorang pesepakbola dalam mengolah kulit bundar menjadi sia-sia bila tingkat kebugarannya tidak dalam level yang dipersyaratkan.

Kehadiran para pesepakbola elit menjadi tontonan yang menghibur bagi penonton, baik yang menonton langsung di GBK maupun tidak langsung di layar kaca. Sudah begitu lama rasanya penonton merindukan suguhan sepakbola yang sebenarnya. Kompleks GBK dibanjiri para maniak bola yang antusias menyaksikan idola mereka secara langsung. Tua-muda, besar-kecil, laki-perempuan, kaya-miskin berduyun-duyun dengan tertib memadati stadian dalam suasana tertib dan aman. Banyak keluarga yang membawa semua anggotanya untuk menonton tanpa was-was terjadinya kericuhan suporter. Atmosfir yang menyenangkan, kemeriahan di dalam stadion, dan dukungan positif penonton bagi pemain merupakan petunjuk bahwa para penonton kita masih beradab dan dapat menghargai sepakbola. Menonton keempat pertandangan itu seperti berada di Emirates, di Anfield, atau di  Stamford Bridge. Ini adalah pertandingan bola yang dapat dijadikan contoh untuk pertandingan-pertandingan domestik lain, tertuma pertandingan dalam liga Indonesia yang terlanjur memberi kesan rusuh, onar, dan tidak tertib. Persoalannya, kapan kita akan dapat melihat kesebelasan nasional bermain dalam level yang mendekati level para tamu kita?

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...