Kamis, 15 Agustus 2013

Metromini: Riwayatmu Kini

Setiap warga Jakarta tahu persis bagaimana sepak terjang metromini, bus berkapasitas 20 tempat duduk berwarna oranyenya yang menyolok. Sejak kemunculan pertamanya di era gubernur Ali Sadikin, moda transportasi ini telah begitu berjasa mengantar penumpang ke berbagai penjuru Jakarta. Ukurannya yang tidak terlalu besar membuatnya mampu bermanuver lincah di jalanan yang macet. Ongkosnya yang murah menjadikan metromini sarana paling populer bagi setiap warga. Namun, sejak terpilihnya Jokowi-Ahok, keberadaan metromini mendapat perhatian khusus pasangan ini.
Untuk beberapa alasan, metromini memang pantas ditinjau ulang nasibnya: diremajakan atau dirumponkan. Pertama, melalui blusukan, Jokowi mendapati banyak armada metromini yang kondisinya sangat memprihatinkan. Bus yang sudah uzur (di atas 10 tahun), minimnya standar keselamatan, dan ketidaklengkapan surat-surat membuat mantan walikota Solo ini geleng kepala. Sangat memalukan bahwa ibu kota negara masih memiliki moda transportasi yang tidak layak, tidak aman, dan tidak nyaman seperti metromini. Kedua, pengemudi metromini terkenal akan ketidakdisiplinannya. Cara mengemudi yang ugal-ugalan telah memakan banyak korban. Akhir bulan Juli lalu, seorang pelajar tewas mengenaskan ditabrak metromini yang dikemudikan oleh supir tembak berusia 20-an. Moda transportasi ini juga sering ngetem sembarangan, terutama di perempatan jalan, sehingga membuat kemacetan. Persoalan lain, banyak armada bodong alias tidak disertai kelengkapan kir dan ijin trayek yang sah. Apalagi kalau para pemilik metromini berkolusi dengan petugas Dishub untuk meloloskan uji kir. Tidak mengherankan kalau moda bus oranye ini semakin memadati jalanan ibu kota.

Tampaknya, Jokowi-Ahok benar-benar serius untuk mencari solusi terbaik bagi bus yang dicintai warga Jakarta ini. Ratusan bus yang tak layak langsung dikandangkan dan uji kir yang benar mulai dijalankan sebagaimana semestinya. Penelitian terhadap kelaikan kendaraan diberlakukan demi keselamatan dan keamanan penumpang. Pemda DKI bahkan telah mendatangkan beberapa metromini AC untuk menggantikan armada yang telah usang. Ahok bahkan menjanjikan 1000 metromini baru akan datang pada Oktober tahun ini.

Membenahi moda trasportasi yang telah dibiarkan amburadul selama puluhan tahun tentu tidak mudah. Tantangan dari para pemilik metromini yang mengkhawatirkan kelangsungan bisnis mereka juga tidak kalah peliknya. Belum lagi membina supir yang terbiasa mengemudikan metromini secara ugal-ugalan. Pun juga membiasakan masyarakat pengguna metromini yang mau enaknya sendiri dengan naik dan turun di sembarang tempat. Kebiasaan yang telah mengakar puluhan tahun ini tidak mudah diubah.

Betapa pun ruwetnya persoalan, upaya Jokowi-Ahok membenahi angkutan umum masal di ibu kota patut diajungi jempol. Satu demi satu, moda transportasi dibenahi. Diawali dengan membenahi metromini, pasangan ini menunjukkan komitmen dan keberpihakan yang jelas kepada kepentingan umum. Kini, masyarakat menunggu tersedianya sarana angkutan umum yang murah, aman, dan nyaman seperti dulu metromini melayani masyarakat Jakarta saat pertama kali diluncurkan.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...