Kamis, 01 Agustus 2013

Mudik Lebaran



Mulai minggu ini, semua mata anak bangsa menyaksikan ritual migrasi manusia tahunan: mudik. Tradisi pulang kampung menjadi gawe yang menguras energi bangsa sedemikian besar. Puluhan ribu bus, ribuan gerbong kereta api, ratusan pesawat terbang, dan puluhan kapal penyeberangan dikerahkan untuk mengangkut jutaan penumpang yang merindukan hangatnya pelukan handai taulan dan keramahan kampung halaman. Belum termasuk jutaan mobil dan motor pribadi yang pasti memadati setiap jengkal jalan. Demi kelancaran perpindahan jutaan orang, ribuan kilometer jalan dipermak habis-habisan, ribuan petugas disiagakan, dan ratusan posko dididirikan, Semua kesibukan yang luar biasa ini dimaksudkan demi kenyamanan, keamanan, dan keselamatan para pemudik yang sebentar lagi merayakan pesta kemenangan di daerah asal.

Demikianlah potret mudik lebaran yang selalu kita saksikan setiap tahun. Menurut menteri Perhubungan Mangindaan, tahun ini diperkirakan 30 juta orang melakukan perjalanan dalam waktu hampir bersamaan, kebanyakan dari kota-kota besar ke kota-kota kecil dan desa-desa di seluruh pelosok tanah air. Setelah berpuasa, umat Muslim layak bersuka cita untuk merayakan kemenangan atas hawa nafsu yang telah mereka perangi selama sebulan penuh. Layaknya pesta, kemeriahan akan semakin dirasakan bila diselenggarakan bersama orang-orang tercinta. Karena itu, setiap perantau pasti ingin kembali ke akar keluarganya dan tidak ingin melewatkan lebaran tanpa orang-orang terdekat. Karena alasan itu pula, mereka rela berdesakan di angkutan umum dan menghabiskan puluhan jam di jalan raya untuk bersatu kembali bersama orang tua, keluarga, dan kerabat di kampung.

Memfasilitasi peristiwa yang membahagiakan seperti ini nampaknya bukan  perkara mudah bagi pemerintah dan segenap jajarannya. Ambil contoh kondisi jalan di sepanjang pantai utara Jawa yang setiap menjelang lebaran selalu terkesan dikebut perbaikannya. Banyak pihak menduga proyek perbaikan jalan ini menjadi proyek abadi yang menguntungkan bagi pihak-pihak yang mengerjakan. Belum kesiapan jajaran perhubungan dalam menyiapkan angkutan umum yang layak dan manusiawi bagi para pembayar pajak yang sekian lama rindu akan trasportasi publik yang baik. Masyarakat melihat bahwa pemerintah selalu kedodoran dalam memberikan pelayanan yang baik untuk urusan ini. Karena itu, jutaan pemudik secara swadaya mengusahakan transportasi bagi diri mereka masing-masing agar dapat sampai ke kampung halaman. Yang berkecukupan mengendarai atau menyewa mobil pribadi. Yang pas-pasan menunggangi motor dan mengambil resiko besar dan memadati jalur-jalur mudik. Yang lain bahkan memanfaatkan bajai, truk, dan kendaraan terbuka lain. Pendek kata, tak ada satu pun hal yang mampu menghalangi niat mudik.  

Terlepas dari segala hiruk-pikuk perjalanan mudik di atas, ada beberapa hal yang sangat berharga dalam ritual mudik ini. Pertama, selalu ada kecenderungan dan dorongan alami dalam diri setiap insan untuk kembali ke akar. Pertanyaan tentang siapa saya? Dari mana saya berasal? Mengapa saya begini atau begitu? Mengapa saya hitam? Apa sebabnya saya keriting? Walau terdengar sederhana, jawaban atas rangkaian pertanyaan ini tidak mudah didapatkan. Salah satu cara untuk mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah dengan menengok dan melihat lebih dalam siapa leluhur kita. Dengan menggali leluhur melalui keluarga terdekat dan sedarah, apalagi kalau penggalian itu dilakukan secara masif bersama orang lain, manusia berharap akan mendapatkan jawaban yang mencerahkan. Kejujuran, keikhlasan, dan kasih sayang menjadi kunci keberhasilan pencarian ini. Dengan menelisik akar kita, martabat kemanusiaan kita menjadi semakin nyata. Melalui mudik, penggalian dan penelusuran diri ini mendapatkan sarananya. Dengan mudik dan kembali ke akar, manusia dapat belajar nilai-nilai kehidupan yang tentu akan sangat berharga bagi kehidupan kini dan esok nanti.  

Hal lain yang dapat dijadikan pembelajaran dari mudik adalah pengenalan jati diri, baik sebagai individu maupun sebagai satu ikatan keluarga besar. Mudik mendorong setiap individu untuk melakukan refleksi sekaligus meneropong jati diri kita, baik sebagai individu maupun sebagai keluarga (besar). Jati diri bukan sekedar silsilah atau garis keturunan darah. Jati diri sejati melongok lebih dalam ke nilai-nilai agung yang melekat kuat dan telah mentradisi dalam keluarga. Nilai kesalehan, kesahajaan, pantang menyerah, berprinsip, menghargai, toleran, memaafkan, dan cinta-kasih adalah keluhuran yang sepantasnya dipupuk dan dilestarikan. Nilai-nilai inilah yang akan menyuburkan ikatan batin antara mereka yang merantau dan keluarga yang ditinggalkan di kampung. Melalui mudik, ikatan itu dipupuk dan diingatkan lagi sehingga semakin melekat kuat sehingga para perantau menjadi lebih peduli dalam menghadapi kerasnya kehidupan.

Selain sebagai wujud dari perayaan dan tradisi keagamaan, mudik adalah sarana untuk “ngumpulke balung pisah”, sebuah ungkapan Jawa yang berarti mengumpulkan tulang-tulang yang berserakan. Adalah kewajiban kita semua yang masih diberi kesempatan oleh Yang Mahakuasa untuk senantiasa mengupayakan silaturahmi dengan sesama, baik yang terikat dalam hubungan darah maupun tidak. Saya percaya setiap pemudik akan merasakan  kebahagiaan ketika bertemu dengan keluarga dan kerabat mereka di kampung. Suasana guyub-rukun ini akan menjadi energi yang senantiasa menguatkan untuk mengarungi bahtera kehidupan. Semoga tradisi mudik lebaran ini memberi pengaruh positif dan menginspirasi setiap insan untuk semakin saling mengasihi. Selamat bermudik.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...