Jumat, 13 September 2013

Membenarkan yang Biasa: Refleksi dari Kecelakaan Jagorawi

Kecelakaan yang merenggut enam nyawa di jalan tol Jagorawi akibat kecerobohan yang dilakukan oleh anak seorang musisi terkenal Indonesia menjadi buah bibir di kalangangan masyarakat dalam pekan ini. Peristiwa ini diangkat sebagai topik perbincangan yang hangat di hampir semua media, baik cetak maupun elektronik, dan terutama di televisi swasta. Beberapa pertanyaan senada sering terdengar di dalam diskusi tersebut: mengapa seorang bocah yang masih berusia 13 tahun dibiarkan menyetir mobil? Pantaskah anak sebelia itu bepergian tengah malam tanpa didampingi orang tuanya? Siapakah yang seharusnya paling bertanggung jawab atas musibah ini? 

Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan betapa memprihatinkan sekaligus memilukan akibat dari pembiaran yang sering dilakukan orang tua kepada anak-anak mereka. Kecelakaan maut ini adalah cermin ketidakpedulian kaum dewasa atas apa yang biasa dilakukan oleh kaum muda dalam kehidupan keseharian di masyarakat. Kalau mau jujur, kasus ini sebenarnya hanya puncak dari pembiaran yang sudah sekian lama berlangsung. Banyak pihak bahkan sudah dapat memprediksi akan adanya peristiwa ini. Kejadian tragis ini adalah akibat dari berbagai sebab yang sumber utamanya berakar dari sikap dan pandangan kita yang umumnya membenarkan yang biasa, bukan membiasakan yang benar, terjadi di masyarakat. Maksudnya, kebanyakan dari kita menganggap bahwa apa yang biasa berlaku dalam keseharian masyarakat dibenarkan karena hal tersebut biasa terjadi. Mari kita cermati refleksi ini secara lebih mendalam.

Terkait perilaku kita berlalu lintas, apakah kita merasa aneh atau janggal melihat anak dan remaja mengendarai mobil atau sepeda motor di jalan raya? Tidak, bukan? Dalam keseharian, kita menyaksikan ribuan remaja berseragam SMP dan SMA yang belum cukup umur mengendarai sepeda motor menuju sekolah. Banyak di antara pengendara remaja ini tidak mengenakan helm sebagai standar keselamatan minimal. Boro-boro mereka mengenakan jaket pelindung, kaus tangan, atau sepatu yang sesuai untuk keselamatan. Apakah kita menyalahkan mereka? Tidak juga, bukan? Bahkan banyak orang tua membelikan anak usia remaja mereka sepeda motor saat anak memasuki jenjang SMA padahal usia anak baru 15 tahun. Tentu orang tua tahu bahwa untuk mengendarai motor di jalan raya, seseorang harus memiliki SIM (Surat Ijin Mengemudi) yang hanya dapat diterbitkan manakala seseorang berusia minimal 17 tahun.

Pertanyaannya, mengapa orang dewasa dan kita (masyarakat) membiarkan para remaja berseliweran mengendarai motor atau mobil di jalan raya? Jawabannya sederhana: karena sudah biasa, sudah umum terjadi, dan semua orang melakukannya. Sikap seperti ini tentu saja sangat berbahaya. Membiarkan seseorang yang masih di bawah umur mengendarai kendaraan bermotor di jalan raya sama saja dengan membiarkan terjadinya musibah. Pengendara di bawah umur sangat rentan untuk mencelakai dirinya dan orang lain. Tingkat kedewasaan, pola pikir, dan emosi yang belum matang memicu terjadinya hal-hal yang tidak kita inginkan. Apalagi jamak kita saksikan, pengendara motor berseragam sekolah melakukan manuver berbahaya seperti ngebut, zig-zag, berboncengan tiga, dan pelanggaran aturan berlalu lintas. Sebuah riset di Amerika bahkan telah membuktikan bahwa pengendara motor di bawah umur memiliki potensi 50% lebih tinggi untuk mengalami kecelakaan ketimbang pengendara yang sudah dewasa.

Yang lebih memprihatinkan adalah kurangnya penertiban dan lemahnya tindakan preventif yang diambil oleh aparat yang diberi wewenang untuk mengelola jalan raya. Di kota-kota besar seperti Jakarta, polisi lalu lintas dan aparat perhubungan jarang menghentikan pengendara motor di bawah umur yang melintas di jalan. Kalau mereka yang diberi wewenang untuk melakukan tindakan hukum saja “membenarkan” kebiasaan ini, jangan harap orang awam akan mematuhi peraturan dan hukum dalam berlalu lintas. Pembenaran semacam ini sama saja dengan membiarkan para remaja kita mencelakai diri dan orang lain.

Contoh lain dari kebiasaan yang dibenarkan adalah ketidaktertiban para pedagang kaki lima yang menduduki wilayah-wilayah publik seperti jalan dan trotoar sebagai tempat usaha mereka. Karena bertahun-tahun melakukan aktifitas usaha di jalan raya tanpa penindakan apa pun dari pihak berwenang, mereka pun merasa benar dan berhak menduduki wilayah publik tersebut. Akibatnya bisa kita lihat dan rasakan bersama: kesemerawutan dan kemacetan. Dalam keadaan ketidaktertiban seperti ini, kejahatan dan premanisme tumbuh subur. Mereka yang kuat dan berpengaruh akan menjadi penguasa dan mendapatkan keuntungan finansial yang luar biasa dengan membenarkan kebiasaan melanggar hukum ini. Bahkan, akhirnya mereka sengaja menciptakan kebiasaan-kebiasaan yang dibenarkan ini agar pundi-pundi kekayaan mereka semakin berlimpah. Apalagi jika ada kolusi dengan oknum aparat berwenang di dalamnya, semakin kuatlah pembenaran atas kebiasaan melanggar aturan ini. Semakin semrawut, semakin macet, dan semakin tidak tertib, semakin menguntungkan bagi preman untuk bersarang di dalamnya.

Ketika masyarakat dan negara membiarkan apa yang biasa sebagai kebenaran, maka di situlah benih-benih bencana atau musibah mulai ditanam. Persoalannya tinggal menunggu waktu, kapan benih itu akan tumbuh membesar dan siap panen. Bila masa panen itu nanti datang, bisa dipastikan masyarakat tersebut akan berantakan. Dalam masa panen tersebut, masyarakat menjadi buta dan tidak lagi dapat mencerna mana yang benar dan mana yang salah (melanggar aturan). Kini harapan tinggal kita gantungkan kepada pemimpin yang berani dan mampu menghadirkan kebenaran. Seorang pemimpin sejati seharusnya bertindak dengan membiasakan yang benar, yang seharusnya berlaku dalam masyarakat, bukan yang membenarkan yang biasa.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...