Senin, 02 September 2013

Paus dan Perdamaian di Suriah



Mencermati semakin runyamnya perang saudara yang terjadi di Suriah, Paus Fransiskus menyerukan umat manusia di seluruh dunia untuk berdoa dan berpuasa selama sehari demi terciptanya perdamaian di Suriah. Sejak perang saudara ini meletus, ribuan nyawa warga sipil yang tak berdosa menjadi korban dan puluhan ribu lainnya mengalami luka dan trauma. Dalam situasi perang, perempuan dan anak selalu berada dalam posisi yang sangat rentan untuk menjadi korban kebiadaban perang. Puncak dari kebiadaban ini berlangsung minggu lalu ketika ratusan orang tewas mengenaskan karena diindikasi menjadi korban senjata kimia yang dilancarkan oleh tentara pemerintah.

Dunia terpengarah dengan penggunaan senjata kimia yang jelas-jelas dilarang dalam pertempuran karena kerusakan yang ditimbulkannya sangat dahsyat. Dengan segera PBB mengirimkan para penyelidik dan utusannya untuk menginvestigasi kebenaran pemakaian senjata kimia ini dalam perang saudara yang sudah berlangsung hampir 2 tahun lamanya ini. Presiden AS Obama pun berreaksi cepat atas pemakaian senjata pemusnah masal ini dan berrencana untuk melancarkan serangan ke rezim Presiden Bashar al-Assad. Rencana serangan ini akan menjadi aksi nyata bila Konggres AS setuju dengan usulan Gedung Putih. Bila serangan ke Suriah oleh AS ini terjadi, perdamaian menjadi semakin sulit untuk direalisasi. Dan seruan Paus untuk perdamaian di Suriah akan menjadi “seruan di padang gurun.”

Mengapa stabilitas politik dan perdamaian harus terwujud dengan segera di Suriah? Ada dua pertimbangan yang berkepentingan dengan usaha perdamaian di Suriah. Pertama, Suriah merupakan salah satu negara di Timur Tengah yang menyimpan warisan peninggalan peradaban dan budaya yang sangat penting bagi seluruh umat manusia. Perang saudara yang telah berlangsung sedemikian lama ini telah memporak-porandakan banyak situs yang telah dinobatkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Akibat pertempuran sengit antara pasukan pemerintah dan piha pemberontak, banyak situs peninggalan budaya yang hancur terkena bom. Selain kerusakan akibat perang, penjarahan benda-benda kuno yang  bernilai sangat tinggi telah marak terjadi di banyak situs budaya ini sejak perang berlangsung. Perang telah mengakibatan kesengsaraan dan penderitaan kepada rakyat Suriah. Saat ini ratusan ribu rakyat Suriah mengungsi ke negara-negara tentangga demi keselamatan jiwa. Dan yang terpaksa tinggal di Suriah harus bergantung pada ketersediaan logistik yang sangat terbatas dan mahal. Penjarahan warisan budaya kono terpaksa dilakukan karena desakan pemenuhan hidup. Hal ini tentu sangat memprihatinkan. Berlian tak lagi bernilai ketika gandum sulit didapatkan.

Kedua, bila AS sungguh menyerang rezim Bashar al-Assad, dimensi perang saudara ini menjadi semakin kompleks. Sebagian masyarakat internasional akan berpikir bahwa serangan ini adalah serangan Barat terhadap Timur, khususnya Arab. Menjadi jauh lebih mengkhawatirkan lagi bila serangan ini dimaknai sebagai serangan Kristen terhadap Islam. Orang yang picik, fanatik, dan tidak mengetahui latar belakang dan duduk perkaranya akan mudah mengasosiasikan AS sebagai wakil Kristen dan Suriah sebagai pihak yang diserang mewakili Islam. Kalau hal kedua ini yang ditangkap oleh banyak kalangan di masyarakat internasional, terutama di negara-negara yang mayoritas penduduknya Islam seperti Indonesia, isu perang saudara di Suriah dapat berkembang menjadi perang antaragama yang sangat merugikan. Sudah barang tentu kelompok-kelompok dan organisasi-organsasi Islam garis keras di Indonesia akan dengan mudah menggiring isu ini menjadi isu agama. Apalagi mereka memang sudah sejak lama membenci AS dan selalu mengaitkkan berbagai persoalan semacam ini dengan AS sebagai biang keroknya.

Peperangan di Suriah sekarang ini sudah berada di titik kritis. Reaksi dan aksi dari negara-negara Barat yang dipimpin oleh AS akan turut menentukan nasib Suriah. Manakala AS menceburkan diri dalam perang ini, maka lingkup perang ini menjadi semakin luas. Dalam konteks inilah seruan Paus Fransiskus menjadi sangat penting. Sebagai pemimpin umat Katolik, Paus menyadari kegentingan dan konsekuensi yang akan dialami oleh umat manusia bila AS menyerang Suriah. Secara tegas, beliau menolak aksi serangan terhadap Suriah. Sekalipun rezim pemerintah Suriah yang berkuasa menggunakan senjata kimia pemusnah masal, Paus tegas menolak aksi militer dalam bentuk apa pun yang dimaksudkan menghukum Suriah. Beliau menghimbau supaya seluruh umat Katolik di seluruh dunia mendoakan dan berpuasa demi terciptanya perdamaian di Suriah. Di hadapan puluhan ribu peziarah di Vatikan, Paus menyatakan bahwa yang berhak menghukum rezim Suriah hanyalah Tuhan. Kewajiban semua umat manusia adalah menciptakan perdamaian dan cinta kasih. "Hati saya sangat terluka menyadari apa yang terjadi di Suriah dalam beberapa hari terakhir dan saya mencemaskan prospek perkembangan situasi yang dramatis. Perang hanya akan berujung pada perang lainnya, kekerasan juga hanya akan berujung pada kekerasan lainnya," tandasnya. Let’s make love, not war!

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...