Rabu, 18 September 2013

Petualang: Pencarian Jati Diri Seorang Pecundang

Trisnoyuwono memang tidak setenar novelis lain yang seangkatan dengannya seperti Pramudya Ananta Toer atau Mochtar Lubis. Namun, membaca salah satu novelnya yang berjudul Petualang (1981) yang diterbitkan Penerbit Sinar Harapan memberikan pelajaran berharga tentang arti kegagalan. Petualang mengisahkan pergulatan hidup seorang pemuda bernama Herman pada akhir pendudukan Jepang sampai awal kemerdekaan.  Meskipun berlatar zaman peperangan, konflik internal atau batin yang dialami Herman  menyerupai apa yang kaum muda umumnya rasakan, terutama dalam upaya mencari jati diri. Melalui gaya bahasa yang sederhana, Trisnoyuwono menghadirkan seorang pemuda yang gagal meraih keinginan dan impian.

Petualangan Herman dipicu oleh kerisauan dan kebosanan yang amat menyiksa karena menggantungkan hidupnya dalam keluarga miskin. Jiwa mudanya yang penuh gejolak memprotes keras kehidupan keluarganya yang serba berkekurangan. Ia bahkan menyalahkan ayah dan kakeknya yang ia anggap tidak becus mengupayakan kehidupan yang lebih sejahtera ( (hal. 12). Setelah nekad mencuri Rp. 40,00 dari kantong baju ayahnya, petualangan pemuda Herman pun bermula, yang secara garis besar dapat digolongkan dalam dua urusan: perang dan cinta.

“Dan mulailah pengembaraanku, pengembaraan oleh rasa muak dan tak puas, pengembaraan yang sebenarnya hanyalah pelarian tanpa perhitungan sedikit pun. Keraguan terus ada, tapi aku terus melangkah.” (hal. 13)

Untuk urusan pertama, Herman terlibat dalam beberapa pertempuran melawan penjajah. Keterlibatannya dalam peperangan ini dipicu oleh kebosanan saat ia menempuh pendidikan sebagai pelaut di sekolah pelayaran Semarang pada akhir pendudukan Jepang. Di tengah upayanya mendapatkan pendidikan, “revolusi meletus” (hal. 32) akibat  kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II. Revolusi ini mengakibatkan pendidikan Herman berantakan dan sekolahnya ditutup. Kekalahan Jepang terhadap Sekutu juga membawa tentara Sekutu yang diwakili Inggris memasuki Indonesia untuk melucuti tentara Jepang. Kedatangan tentara Sekutu ini menimbulkan perlawanan dari para pejuang kemerdekaan. Dalam keadaan yang serba tidak menentu ini, Herman mendapatkan sebuah revolver besar lengkap dengan enam peluru yang sudah terpasang dari seorang polisi yang sudah tua (hal. 32). Berbekal revolver ini, Herman menjadi anggota laskar pejuang dan bepetualang dari satu pertempuran ke pertempuran lain.

Pengalaman pertama Herman di medan peperangan adalah bergabung dengan pasukan di kota asalnya Yogyakarta dan diberangkatkan ke Magelang untuk menghadang pergerakan Sekutu yang ingin merangsek ke arah selatan dari Semarang. Pasukan penghadang ini dipimpin oleh seorang bekas shodanco yang bernama Pak Tadi. Pengalaman perang pertama ini membuka mata Herman akan kekejaman yang ia lukiskan sebagai berikut.

“Inilah revolusi! Inilah pemberontakan! Inilah perjuangan kemerdekaan! Segala kekejaman, segala pembunuhan, segala kematian itu untuk merdeka, untuk mengusir penjajah, untuk kemerdekaan tanah air!” (hal. 51)

Pengalaman perang pertama ini membuka mata Herman bahwa apa pun boleh dilakukan demi kemerdekaan. Kekejaman, pembunuhan, dan kematian adalah harga yang mesti dibayar demi kemerdekaan. Bahkan pembunuhan sadis pun dibenarkan bila menyangkut pengkhianatan, meskipun hal tersebut menimpa sesama anak bangsa seperti dalam kasus pembantaian dua orang yang dicurigai sebagai mata-mata musuh dengan disembelih di Muntilan (hal. 50).

Pengalaman perang yang paling mendebarkan dan hampir merenggut nyawa Herman adalah perang melawan Sekutu di Surabaya. Meski minim pengalaman, Herman memberanikan diri bergabung dengan pasukan BKR (Barisan Keamanan Rakyat) menuju Surabaya yang menjadi pendaratan tentara Sekutu di wilayah Timur. Di Surabaya ia bergabung dengan pasukan yang dipimpin Yusup, seorang komandan yang penuh pengertian. Meskipun sempat dicurigai sebagai mata-mata karena keteledoran saat ia mencoba menggunakan bedil untuk pertama kali sehingga  tak sengaja meletus dan mengenai pantat seorang pejuang (hal. 54), Herman akhirnya berkesempatan untuk membuktikan diri sebagai pejuang sungguhan. Dengan gagah berani Herman melakukan perlawanan kepada tentara Sekutu yang memiliki persenjataan yang jauh lebih canggih dan melakukan penghadangan agar Sekutu tidak merangsek lebih dalam dan hanya tertahan di wilayah Perak.

Perang Surabaya sungguh dahsyat. Ribuan pejuang gugur dalam pertempuran yang berlangsung beberapa minggu. Dalam peperangan ini lah Herman kehilangan istri tercintanya Etmi, seorang relawan dapur. Artileri dan meriam Sekutu menggempur dan memporak-porandakan dapur umum, tempat Etmi bekerja dan menewaskannya (hal. 110). Perang Surabaya juga hampir menewaskannya akibat reaksinya yang amat emosional saat mengetahui Etmi tewas. Ia tidak terima dengan kenyataan pahit ini dan dengan gagah berani menembaki musuh untuk membalaskan kematian istri tercintanya. Akibat tindakannya yang emosional tersebut, Herman terluka parah. Beruntung ia berhasil diselamatkan dan dilarikan ke Malang untuk dirawat. Perang Surabaya menyisakan kepiluan hati bagi Herman. Karenanya, setelah sembuh dari luka-lukanya, Herman menanggalkan baju pejuang dan memilih bentuk perjuangan yang lain.

Dalam urusan asmara, petualangan Herman bisa dikatakan gagal. Pada dasarnya, Herman adalah seoarng pemuda yang tidak tergolong tampan, bahkan berwajah di bawah rata-rata. Dalam setiap kesempatan untuk bergaul dengan perempuan, Herman kurang percaya diri karena menyadari dirinya bukan seorang pemuda yang menarik. Teman-temannya pun tidak percaya bahwa dia dapat menggaet perempuan cantik. Sebagai pemuda normal, ia merasa mudah sekali jatuh cinta. Apalagi kebanyakan petualangannya terjadi dalam suasana perang sehingga semua perempuan yang ia temui ia anggap cantik. Meskipun kurang menarik, Herman memiliki satu kelebihan untuk menarik perhatian perempuan: kepandaiannya memainkan piano. Melalui kepandaiannya ini, Herman berhasil mendekati beberapa perempuan.

Perempuan pertama yang benar-benar menyambut cinta Herman adalah Etmi, seorang perempuan Indo yang sangat cantik. Perkenalan dengan Etmi terjadi ketika pasukan Herman diminta mengawal para pengunggsi yang hendak meninggalkan Surabaya menuju Sidoarjo. Kebanyakan pengungsi adalah perempuan dan anak-anak. Dalam pengawalan ini, Herman melihat sosok Etmi yang ia gambarkan sebagai berikut:

“Matanya kukira memang kebiruan. Wajahnya begitu kebocahan, begitu damai dan lembut meskipun kurang terawat. … Wajah yang menimbulkan rasa kasihan, rasa lunak dan halus, rasa sayang, rasa ingin merawat melindunginya.” (hal. 85)

Sayangnya, kehidupan asmara Herman dengan Etmi hanya berlangsung singkat. Setelah menjadi suami-istri, cinta mereka diceraikan oleh kekejian perang. Etmi menjadi korban tewas ketika terjebak dalam pertempuran Surabaya yang tanpa pandang bulu.

Perempuan berikut yang sempat mengisi kekosongan cinta Herman adalah seorang perawat yang sabar dan perhatian sewaktu ia dirawat di rumah sakit Sukun di Malang akibat luka parah yang dideritanya dalam pertempuran Surabaya. Perempuan itu bernama Restuni yang patah hati karena ditinggal pergi kekasihnya. Namun percintaan Herman dengan Restuni lebih didasari oleh hawa nafsu ketimbang cinta yang tulus.

“Aku laki-laki dan kau perempuan yang cukup menarik, karena itu aku menginginkanmu. Aku ingin memilikimu, tapi setelah kau tanyakan apakah aku akan memperistrikanmu, sadarlah aku bahwa aku yang telah menelanjangimu, tidak pernah berpikir tentang perkawinan.” (hal. 119)

Pengalaman pahit dalam rumah tangganya bersama Etmi membuat Herman enggan untuk menjalin komitmen cinta dalam wujud perkawinan. Karena itu, kisah cinta ini segera luntur setelah Herman sembuh dan keluar dari rumah sakit.

Petualangan cinta Herman lainnya adalah dengan gadis ingusan yang masih duduk di kelas tiga SMP bernama Tini, salah satu keponakan teman kerja Herman. Tini digambarkan sebagai gadis kecil yang sangat pendiam dengan wajah biasa-biasa saja. Namun justru karena sifat pendiamnya itulah yang membuat Herman tertarik. Menurut Herman, sifat pendiam itu “tidak punya prasangka-prasangka buruk” (hal. 131). Tini yang masih terlalu muda menjadi kendala bagi Herman untuk memadu kasih secara lebih dewasa. Karenanya, ia mencari pelampiasan hasratnya dengan menjalin hubungan dengan Susanah, seorang perempuan yang lebih matang. Sebenarnya Susanah tidak mencintai Herman. Ia tidak berkeberatan berkasih-kasihan dengan Herman karena Herman memiliki banyak uang. Setelah Tini tahu bahwa Herman mendua, kisah cinta keduanya pun berakhir. Apalagi Tini mendapati surat balasan Susanah yang mengolok-olok Herman bahwa ia akan bunuh diri bila cintanya ditolak (hal. 154).

Yang paling memilukan dari petualangan cinta Herman adalah saat ia gagal menikahi seorang gadis manis bernama Maria. Perkenalan dengan gadis kurus penderita TBC ini terjadi ketika Herman bekerja sebagai seorang agen rahasia (mata-mata) yang ditugaskan mengumpulkan data-data kekuatan musuh ke Surabaya. Ia diminta mengontak sebuah keluarga di Jombang yang akan membantu melaksanakan tugas. Di keluarga yang ternyata terdiri dari seorang janda bersama dua anak gadisnya ini Herman bertemu dengan Maria, yang adalah keponakan si janda tersebut. Herman langsung jatuh cinta pada pandangan pertama pada Maria yang ia gambarkan sebagai gadis yang tenang, lambat, dan lembut, namun berwajah pucat. Belakangan Herman sadar bahwa kepucatan wajah Maria karena penyakit TBC akut yang dideritanya. Pernyataan cinta Herman yang disampaikan lewat surat langsung mendapat sambutan dari Maria hingga akhirnya mereka bertunangan dan merencanakan pernikahan setelah Maria menamatkan sekolah menengahnya.

Sayangnya rencana pernikahan ini gagal karena dalam suatu operasi intelijen di Semarang, Herman ditangkap Belanda dan dipenjara di Ambarawa selama hampir setahun. Sekian lama tak menjalin kontak dengan Maria, mahligai cinta yang telah mereka bangun pun runtuh. Putusnya hubungan dengan Maria ini begitu memilukan Herman. Setelah berhasil melarikan diri dari tawanan di Ambarawa, ia mencari Maria dan mendapatinya telah menikah dengan seorang letnan yang sangat mencintainya dan tinggal di Malang. Yang semakin memilukan Herman adalah penyakit TBC Maria yang semakin parah.

“Tidak pernah kusangka, bahwa kekasihku yang kecil ramping di Jombang dulu, yang wajahnya mulai berseri, yang badannya mulai segar, saat itu sudah parah penyakitnya, parah sekali. Kulihat dia di depanku berbaring dengan perasaan kosong oleh suatu kehilangan, ya, aku memang telah kehilangan dia.” (hal. 308)

Sekali lagi dan untuk selamanya, Herman gagal dalam asmara. Kegagalan asmara yang terus-menerus ini membuat Herman berketetapan untuk tidak menjalin komitmen dengan perempuan. Kalau ia menginginkan cinta, ia akan “pergi ke tempat berlampu suram” (hal. 312).

Dalam banyak hal, petualangan tokoh Herman ini mewakili kehidupan kaum muda. Pergulatan dan konflik yang dirasakannya juga dialami  oleh banyak pemuda yang selalu gelisah dan selalu ingin mencari jati diri mereka. Pada dasarnya, orang-orang muda adalah Herman yang berpetualang dengan gaya dan cara mereka masing-masing untuk menemukan jati diri dan meraih impian mereka. Dalam upaya ini, banyak pemuda yang mengalami kegagalan seperti apa yang dialami Herman. Persoalannya bukan terletak pada kegagalannya, namun pada seberapa tegar mereka mampu berdiri kembali dan melanjutkan hidup. (1.543 kata)

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...