Jumat, 27 September 2013

Rendra: Bulan Kota Jakarta

Sebagai penyair, Rendra dikenal memiliki naluri yang amat tajam ketika memotret kondisi sosial masyarakat yang ia refleksikan lewat sajak-sajaknya. Protesnya keras, jujur, dan apa adanya sehingga sering mengagetkan para pembaca. Kesan seperti ini tertangkap secara kuat melalui   pilihan kata yang bersifat konotatif dan kaya akan metafora yang memang dimaksudkan untuk menyindir. Namun, membaca salah satu sajaknya yang berjudul “Bulan Kota Jakarta” yang diambil dari Rendra Empat Kumpulan Sajak (1961), protes dan kegarangan Rendra tidak terasa. Sebaliknya, justru suasana sentimentil lah yang tercipta.

Untuk membantu memahami makna yang ingin disampaikan Rendra, mari kita simak keseluruhan sajak ini.

Bulan Kota Jakarta

Bulan telah pingsan
di atas kota Jakarta
tapi tak seorang menatapnya!

O, getirnya kulit limau
5          O, betapa lunglainya!

Bulan telah pingsan
Mama, bulan telah pingsan.
Menusuk tikaman beracun
dari lampu-lampu kota Jakarta
10        dan gedung-gedung tak berdarah
berpaling dari bundanya.

Bulannya! Bulannya!
Jamur bundar kedinginan
bocah pucat tanpa mainan,
15        pesta tanpa bunga.

O, kurindu napas gaib!
O, kurindu sihir mata langit!

Bulan merambat-rambat.
20        Mama, betapa sepi dan sendirinya!

Begitu mati napas tabuh-tabuhan
maka penari pejamkan mata-matanya.

Bulan telah pingsan
di atas kota Jakarta
25        tapi tak seorang menatapnya.

Bulanku! Bulanku!
Tidurlah, sayang, di hatiku!

Sajak yang diciptakan pada 1960-an ini merekam kegelisahan Rendra akan keringnya perasaan orang kota yang diwakili oleh Jakarta terhadap apa yang terjadi di sekitar mereka. Masyarakat kota cenderung tidak peduli, lebih memikirkan diri sendiri, dan kurang peka dengan keberadaan yang lain di sekitar mereka. Keadaan semacam ini merisaukan Rendra,  dan dengan kuat namun penuh imaginasi nakal, ia sampaikan sebagai pembuka sajaknya:

Bulan telah pingsan
di atas kota Jakarta
tapi tak seorang melihatnya  

Personifikasi “bulan telah pingsan” digunakan Rendra untuk menggambarkan keterasingan sang dewi malam yang diabaikan keberadaannya oleh masyarakat Jakarta. Padahal kita tahu bahwa bulan adalah pelaku utama malam. Bulan adalah protagonis kegelapan. Tanpa bulan, malam menjadi gelap, sunyi, dan hampa. Tanpa bulan, malam kehilangan jati dirinya. Sayangnya, keadaan bulan yang pingsan ini tidak disadari oleh masyarakat Jakarta (baca: orang kota).

Bait pertama ini, yang juga diulang menjelang bait terakhir, merupakan gambaran bahwa kesibukan ekonomi dan pesatnya pembangunan yang berlangsung di Jakarta telah mematikan perasaan dan nurani manusia yang tinggal di dalamnya. Ketika sajak ini dibuat, Rendra melihat bahwa ketidakpedulian orang Jakarta telah menjadi biang keladi pengabaian manusia akan keberadaan dan fungsi alam. Kehidupan kota yang lebih mengutamakan kemakmuran jasmani dan mengesampingkan kebahagiaan rohani telah melemahkan naluri dan indra manusia akan getaran keagungan yang disampaikan oleh alam lewat keberadaan bulan.

Pada bagian lain, Rendra menyampaikan alasan penyebab dari “pingsannya” bulan yang tak lain karena ulah manusia juga. Status bulan yang pingsan disebabkan oleh “tikaman beracun dari lampu-lampu kota Jakarta” (baris 8-9). Kota yang terang-benderang membuat bulan “lenyap” di  langit. Gemerlap lampu kota yang demikian menyilaukan membuat mata orang kota menjadi buta akan keindahan alam yang terpampang di depan mata. Akibatnya, keindahan malam menjadi hilang dan manusia kota “berpaling dari bundanya,” beralih mencari keindahan semu yang diciptakannya sendiri meskipun harus mengorbankan keindahan sejati yang disediakan alam secara gratis.

Pada bait selanjutnya, Rendra mengungkapkan kekecewaannya atas kehampaan yang dialaminya karena pengabaian yang dilakukan manusia secara masif. Ia menggambarkannya melalui asosiasi “Jamur bundar kedinginan” (baris 13).  Bulan diasosiasikan sebagai jamur pucat yang tidak merangsang selera. Hal ini disejajarkan dengan “bocah pucat tanpa mainan, pesta tanpa bunga.” (baris 14-15). Seorang anak tidak akan pernah merasa bahagia tanpa mainan di genggaman tangannya. Mainan adalah sarana untuk merasakan suka cita. Semeriah apa pun sebuah pesta, akan terasa hambar tanpa bunga. Sama seperti malam tanpa bulan. Ada hal yang kurang bila bulan diabaikan keberadaannya di waktu malam.

Dalam situasi demikian, Rendra mengungkapkan kerinduannya akan keberadaan bulan yang mampu menciptakan suasana yang magis. Ia merindukan “sihir” (baris 17) bulan, sihir yang yang mampu menciptkan suasana damai, tentram, dan indah. Sayang, kerinduannya ini tak tersampaikan. Karenanya, ia mengadu ke ibunya, “Mama, betapa sepi dan sendirinya!” Di saat seseorang mengalami kesendirian dan kesepian yang mencekik, ia akan kembali ke ibu untuk mendapatkan dukungan dan penghiburan.

Pada bagian akhir, Rendra memohon agar bulan yang terabaikan keberadaannya ini bersedia ia miliki sepenuhnya.

            Bulanku! Bulanku!
            Tidurlah, sayang, di hatiku!

Dua baris terakhir ini mengungkapkan betapa inginnya Rendra memiliki bulan secara seutuhnya. Ia memohon supaya sang dewi malam sudi untuk tidur dan menetap di hatinya. Tentu saja, dua baris terakhir ini adalah ungkapan kekecewaan Rendra atas pengabaian orang kota yang tidak mampu merasakan kehadiran bulan di malam-malam sepi mereka. Kalau memang orang kota tidak mau mengapresiasi kehadiran bulan, sebaiknya ia saja yang menguasai keberadaannya.

Secara keseluruhan, sajak “Bulan Kota Jakarta” ini menggambarkan kegalauan atau keresahan hati Rendra karena ketidakmampuan orang-orang kota (Jakarta) dalam menghadirkan kedamaian dan ketentraman yang dapat ditimbulkan melalui alam (keberadaan bulan). Bulan adalah simbol keindahan, ketentraman, dan kedamaian. Namun, ketiga hal tersebut sulit sekali diwujudkan di kota karena orang kota terlalu sibuk dengan urusan duniawi sehingga mereka mengabaikan harmoni dan keseimbangan hidup yang diciptakan oleh alam.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...