Selasa, 29 Oktober 2013

Aku Ingin: Sajak Cinta yang Sederhana

“Jatuh cinta berjuta rasanya.” Begitulah bunyi penggalan lagu yang disenandungkan oleh Eddy Silitonga dan sangat popular di tahun 80-an. Saat panah asmara menancap di dada, berjuta perasaan berkecamuk. Suka cita, damai, bahagia, cemburu, khawatir, dan gelisah bergemuruh di dada. Perasaan yang campur aduk ini membuat setiap individu menanggapi dan menyatakan cinta dengan cara yang berbeda-beda. Mereka yang romantis akan mengungkapkan cinta dengan bunga. Yang praktis dan pragmatis akan menyatakan rasa kasmarannya dengan membelikan kekasihnya hadiah. Yang hedonis akan mengajak kekasih ke pesta mewah atau klub malam yang meriah untuk merayakan cinta. Yang ekonomis hanya akan mengajak kekasih ke taman dan duduk bersebelahan sambil menikmati senja dengan menyantap gorengan.

Meskipun ungkapan cinta dapat diwujudkan dalam berbagai cara, terdapat persamaan dalam cara orang menanggapi cinta, yaitu pengorbanan. Seseorang yang benar-benar mencintai akan rela mengorbankan apa pun bagi kekasih hatinya. Pengorbanan cinta ini menjadi inti dari sajak pendek berjudul “Aku Ingin” yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono pada 1989. Puisi dua bait yang berbentuk terzina ini menggambarkan pengorbanan cinta melalui metafor yang kental. Untuk lebih jelasnya, mari kita simak sajak ini.

                        Aku Ingin

                        Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
                        dengan kata yang tak sempat diucapkan
                        kayu kepada api yang menjadikannya abu

                        Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
                        dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
                        awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Dilihat dari struktur fisiknya, sajak “Aku Ingin” memiliki bentuk yang sederhana. Dalam sajak ini terdapat gaya bahasa repetisi di awal setiap bait yang berfungsi untuk menegaskan makna yang ingin disampaikan penyair: keinginan untuk mencintai kekasihnya secara sederhana, namun tulus. Ketulusan cinta ini diwujudkan melalui kerelaan penyair untuk berkorban demi cintanya. Pengorbanan ini digambarkan melalui dua metafora yang bermakna paralel. Metatora pertama digambarkan sebagai kayu yang dibakar agar menjadi api yang menghidupkan meskipun akan mengakibatkan kayu itu menjadi abu. Metafora kedua diwujudkan melalui awan yang rela meniada agar hujan turun untuk menyuburkan bumi.  

Selain gaya bahasa, kesejajaran makna juga didukung melalui pilihan kata yang bermakna konotatif dan simbolik pada bait pertama. Kata “kayu”, “api”, dan “abu” adalah kata-kata konkret yang memberi konotasi simbolik. Kayu adalah media yang menjadi sumber terciptanya api. Namun untuk membuat api, kayu harus dibakar dan menjadi abu. Makna konotatif “api” dapat diartikan sebagai semangat atau spirit. Bila dikaitkan dengan konteks sajak ini, kata “api” menggambarkan cinta yang berkobar. Pilihan penyair atas tiga kata konkret ini membuktikan bahwa ketika kata-kata konkret yang sederhana dirangkai dengan tepat, makna yang dihasilkan bisa menjadi kaya dan menyimbolkan maksud yang kuat. 

Hal yang sama juga berulang pada bait kedua. Pola kesejajaran ditunjukkan melalui kata “awan” dan “hujan” yang menandakan hubungan sebab-akibat. Awan adalah kumpulan uap air yang mengapung di udara. Kumpulan uap ini menjadi sumber terciptanya hujan. Manakala hujan turun membasahi bumi, dengan sendirinya awan “tiada”. Hukum alam yang logis ini dipakai penyair untuk menyimbolkan kerelaan seorang kekasih untuk mengorbankan diri demi cinta. Ia mengasosiasikan dirinya dengan awan dan rela meniada menjadi hujan, agar cintanya tumbuh subur, seperti hujan yang menyuburkan bumi. 

Sajak “Aku Ingin” menyadarkan kita bahwa cinta bukan persoalan yang rumit. Pada dasarnya, cinta sejati adalah persoalan sederhana. Yang paling diperlukan bagi manusia adalah kesediaan diri dan kerelaan hati untuk berkorban bagi orang yang dicintai. Cinta yang tulus adalah kerelaan untuk berubah. Kita harus menanggalkan sifat egois yang mementingkan diri dan mengubahnya menjadi sifat yang mengutamakan kebahagiaan pasangan kita. Melalui sajak “Aku Ingin”, kita belajar dari kayu yang rela berubah menjadi abu dan “habis” untuk mengobarkan api cinta. Atau, kita dapat mencontoh awan yang meniada agar hujan turun. (580 kata)

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...