Jumat, 04 Oktober 2013

Mobil Murah: Untuk Siapa?

Ajang pameran mobil yang berjuluk Indonesia International Motor Show (IIMS) 2013 memang sudah berakhir seminggu lalu. Pameran yang berlangsung 11 hari dari 19-29 Septermber 2013 ini mampu menyedot perhatian 373.661 pasang mata yang nampak liar dan bernafsu menelanjangi ratusan mobil dan motor dari berbagai merek yang dipajang puluhan produsen. Transaksi yang closed selama ajang ini berlangsung tercatat mendekati nominal 5 triliun rupiah dari hasil penjualan 19.367 unit kendaraan bermotor.

Bintang dari pameran ini tentu saja adalah LCGC (Low Cost Green Car), produk kendaraan kota (city car) yang diklaim murah dan ramah lingkungan. Raksasa-raksasa otomotif dunia menginvestasikan jutaan dolar untuk mengembangkan kendaraan kota yang compact, namun lincah, gesit, dan handal untuk menaklukkan jalan di kawasan perkotaan yang sibuk dan padat. Ditambah dengan desain dan tampilan yang menawan, LCGC yang harga jualnya antara 70-120 juta rupiah ini menjadi impian baru bagi banyak keluarga yang bermukim di perkotaan.

Yang menjadikan mobil kota ini semakin menarik bagi sebagian besar pengunjung adalah label green yang melekat pada jenis kendaraan ini. Dengan kapasitas mesin antara 1.000-1.200 cc, mobil kota ini mampu melaju dengan konsumsi bahan bakar yang irit, yaitu 1 liter untuk 20 kilo meter jarak tempuh. Emisi gas buangnya yang sangat rendah diyakini oleh para produsennya sebagai kendaraan yang environment friendly (ramah terhadap lingkungan).

Dengan spesifikasi mumpuni, tampilan modern, produk ramah lingkungan, dan harga “murah” (terjangkau), tidak mengejutkan jika produk LCGC langsung dibanjiri pesanan. Konsumen rela menanti pengiriman produk (inden) yang bervariasi antara 1 hingga 3 bulan ke depan. Bahkan untuk beberapa merek dan model tertentu, mereka telah membayar DP untuk pengiriman produk paling cepat Februari 2014. Animo besar ini tentu menjadikan produsen LCGC semakin optimis dengan pasar kendaraan di Indonesia di tahun-tahun mendatang.

Salah satu pertimbangan pemerintah dengan mengeluarkan PP 41/2013 tentang kebijakan LCGC ini adalah memberi kesempatan kepada masyarakat kelas menengah ke bawah untuk memiliki mobil. Dalam berbagai kesempatan, Menteri Perindustrian MS Hidayat menyampaikan bahwa kebijakan mobil murah dimaksudkan agar semua rakyat mampu membeli mobil dan dapat melakukan aktivitas dengan nyaman dan aman. Pertimbangan lain, kebijakan ini juga dimaksudkan untuk mengembangkan industri otomotif dalam negri, terutama industri komponen lokal kendaraan bermotor. Kehadiran LCGC diharapkan akan mendorong industri komponen otomotif lokal yang handal yang pada gilirannya nanti akan menjadi cikal bakal bagi terwujudnya mobil nasional, sebuah impian yang telah digagas sejak berpuluh tahun lalu namun tidak pernah terwujud hingga sekarang. Persoalannya adalah benarkah LCGC ini murah?

Rasa-rasanya sulit untuk mengamini pandangan bahwa harga 100 jutaan dikategorikan “murah.” Berapa banyak orang yang berekonomi menengah ke bawah yang mampu membeli mobil ini? Murah untuk siapa? Jangankan membeli mobil, membeli motor yang kisaran harganya antara 10-15 jutaan saja, sebagian besar rakyat harus berhutang. Menurut Ketua Umum AISI (Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia) Gunadi Sindhuwinata dari 8,21 juta unit sepeda motor yang terjual sepanjang tahun 2001, 70% diantaranya melakukan pembayaran dengan sistem kredit atau 5,75 juta unit dan sisanya dibayar tunai. Barangkali kita juga ingat bagaimana rakyat menjerit manakala Bank Indonesia (BI) membuat peraturan baru mengenai KKB (Kredit Kendaraan Bermotor) yang diberlakukan sejak 15 Juni 2012 dengan meniadakan uang muka (down payment/DP) murah. BI membuat peraturan baru me­ngenai KKB lewat bank dengan uang muka minimal 25 persen dari har­ga jual untuk kendaraan roda dua dan 30 persen untuk roda empat. Sebelum peraturan ini diberlakukan memiliki motor begitu mudahnya karena hanya dengan membayar 500 ribu rupiah saja, konsumen dapat membawa pulang motor yang diinginkan.

Kalau demikian, siapa yang mampu membeli mobil murah? Tentu saja orang kaya, orang mampu yang barangkali sudah memiliki dua atau tiga mobil di garasi mereka! Warga negara yang mampu tentu akan senang karena mereka mendapat pembebasan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Orang mampu yang seharusnya membayar pajak lebih besar, justru mendapat pembebasan pajak atas barang mewah yang mereka beli. Barangkali hanya sebagian kecil golongan menengah ke bawah yang akan memaksakan diri untuk membeli secara kredit dengan resiko mereka harus mengencangkan pinggang rumah tangga dengan lebih kuat karena cash flow yang semakin menipis untuk operasional harian. Dengan demikian target kebijakan ini sudah dapat diprediksikan meleset dari apa yang diproyeksikan.

Mobil murah memang bak penyanyi dangdut seksi yang menggemaskan. Melihat kondisi transportasi umum yang amburadul di hampir semua kota di Indonesia, setiap warga negara tentu tergiur untuk memilikinya. Selama negara tidak mampu menyediakan transportasi publik yang baik, rakyat secara tidak adil dipaksa untuk berprakarsa secara swadaya membeli kendaraan untuk menjalankan aktivitas mereka. Rakyat dipaksa menyisihkan sebagian dari penghasilan mereka untuk mencicil kendaraan. Di tengah himpitan dan kesulitan ekonomi, rakyat dibikin ngiler melihat mobil “murah” berseliweran di jalanan kota. Karena itu, mobil murah ini hanya memunculkan ironi yang pada akhirnya semakin memperlebar ketimpangan sosial dan ekonomi dalam masyarakat.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...