Jumat, 15 November 2013

Memahami Afrika Melalui Sastra

Sampai pertengahan abad 20, Afrika adalah wilayah peradaban di bumi dengan banyak misteri yang tersembunyi. Tradisi, struktur dan sistem sosial, adat-istiadat, dan pola pikir masyarakatnya tidak diketahui dan dipahami oleh dunia luar. Bahkan negara-negara Eropa seperti Inggris dan Prancis yang menjajah Afrika selama ratusan tahun tidak mampu memahami nilai-nilai dan sistem kemasyarakatan yang dianut oleh ribuan suku yang menghuni benua terluas ke tiga di dunia ini. Keadaan semacam ini memberi kesan ketertutupan yang semakin diperparah dengan penilaian dari kaca mata dunia luar tentang Afrika sebagai peradaban yang terbelakang, miskin, dan superstitious.

Baru setelah pertengahan abad lalu, bersamaan dengan munculnya kesadaran akan identitas dan keinginan untuk terbebas dari penjajah, Afrika mulai menggeliat. Benua Hitam ini laksana raksasa yang bangun dari tidur selama ribuan tahun. Keadaan mulai berubah ketika beberapa kawasan berhasil memerdekakan diri dari penjajah dan membentuk negara baru yang berdaulat.

Ketika raksasa ini bangun dari mimpi yang telah sekian lama membuainya, ia sedikit demi sedikit mengikis pandangan negatif dunia luar yang meremehkan. Geliat pergerakan politik yang dipicu oleh kesadaran akan nasionalisme dan identitas Afrika ini juga membawa angin segar bagi berkembangnya kesusastraan Afrika. Melaui karya sastra, nilai-nilai kehidupan, moralitas, pola pikir, dan tradisi Afrika yang unik mulai dikenal dunia luar. Setidanya ada dua karya sastra yang menjadi penanda kebangkitan Afrika, yaitu novel Things Fall Apart karya Chinua Acebe dan kumpulan puisi Afrika Yang Resah karya Okot p’Bitek.

Dengan latar sosial dan budaya Afrika yang kental, kedua karya ini menggali konflik yang dialami oleh kaum pribumi ketika mereka bersinggungan dengan budaya pendatang yang menjajah mereka, yaitu budaya Barat. Dalam Things Fall Apart, Acebe meneropong konflik peradaban yang dialami oleh tokoh protagonis Okonkwo, seorang ksatria pada sebuah klan di Afrika yang teguh berjuang mempertahankan tradisi dan nilai-nilai yang telah ribuan tahun dianut sukunya dari gempuran nilai-nilai baru yang diperkenalkan oleh penjajah Eropa. Dalam pergulatan yang hampir serupa, Afrika Yang Resah menyuarakan keluhan dan keprihatinan seorang tokoh perempuan bernama Lawino terhadap suaminya Ocol yang meninggalkan tradisi dan budaya Afrika dan menganut budaya penjajah Eropa. Sang pengarang, p’Bitek, melalui metafora, ironi, dan satire yang cerdas mengungkap berbagai keganjilan yang dilakukan Ocol yang hitam dalam menerapkan tata cara kehidupan dan pola pikir orang putih di kalangan suku Acoli.

Secara ringkas, Things Fall Apart menuturkan tokoh Okonkwo sebagai seorang pejantan tangguh dari desa Umuofia dan memiliki pemikiran teguh akan hal-hal yang bersifat lelaki. Sifat ini melekat pada diri Okonkwo karena ayahnya Unoka gagal menjadi panutan dan arahan yang semestinya kepadanya. Ketidakberhasilan Unoka dalam menjalankan hidupnya sebagai seorang lelaki membuat Okonkwo membenci sikap dan cara berpikir ayahnya serta menciptakan pribadi Okonkwo yang keras. Selain kegagalan Unoka dalam mendidik Okonkwo pada jalan yang benar mengenai berbagai hal, nilai dan tradisi kesukuan yang mengakar kuat dalam dirinya juga berperan penting dalam membentuk watak Okonkwo yang keras. Lingkungan persukuan Afrika yang masih “primitif” memaksa Okonkwo untuk terlibat dalam peperangan antarsuku. Hal ini menunjukkan kejantanan dirinya dan menegaskan superioritasnya atas  suku-suku lain di pedalaman Afrika.

Kekerasan hati Okonkwo merepresentasikan kerasnya kehidupan suku-suku di Afrika menjelang kedatangan para penjajah yang menganggap mereka primitif dan terbelakang. Meskipun Okonkwo tidak menyukai cara pandang ayahnya mengenai kehidupan, ia sangat menjunjung tinggi dan memegang teguh tradisi Afrika. Ini dibuktikan saat dirinya harus rela diasingkan (sebagai hukuman adat) akibat ketidaksengajaannya membunuh seorang anak laki-laki pada upacara pernikahan temannya. Ia juga memelopori agar suku-suku di Afrika tidak gampang terpengaruh atas kedatangan budaya asing (Eropa) dan agama Kristen yang mulai masuk dan memengaruhi kaum muda klannya. Sifat dan watak Okonkwo ini didasari oleh nalurinya sebagai pemimpin perang Umuofia serta didukung hasratnya yang tinggi untuk memperjuangkan budaya dan tradisi Afrika beserta nilai-nilai dan pola pikir yang melekat di dalamnya.   

Dalam kadar yang kurang lebih serupa, tokoh Lawino dalam puisi naratif Nyanyian Lawino yang panjang di kumpulan puisi Afrika Yang Resah mengejek suaminya Ocol yang telah keblinger karena terang-terangan menganut tata cara dan pola pikir Barat di kalangan suku Acoli.  Lawino memrotes Ocol yang berperilaku seperti “kacang lupa pada kulitnya.” Melalui puisi ini Lawino menunjukkan kemuakan dan ketidakmengertiannya mengapa suaminya Ocol yang adalah anak kepala suku namun malah meremehkan dan menganggap Afrika sebagai raksasa dungu, primitif, dan terbelakang. Melalui diksi yang unik dan gaya bahasa yang segar dan penuh imajinasi, Lawino “menyanyikan” keprihatinannya akan pengaruh Barat yang modern yang menggerogoti nilai-nilai luhur Afrika yang tradisional.

Sebaliknya, di puisi Nyanyian Ocol pada kumpulan puisi yang sama, Ocol menyuarakan keinginan dan mimpinya akan Afrika yang modern, bebas, dan bermartabat. Menurutnya, Afrika menyimpan potensi besar yang belum digali untuk menjadi maju. Ocol, yang mendapatkan pendidikan Barat, menggunakan pengetahuan dan kepandaiannya untuk menghasut Afrika agar meninggalkan tradisi yang kuno, kolot, dan tidak masuk akal. Ia menunjukkan bahwa dirinya adalah lelaki Afrika modern dengan pola pikir yang berbeda dengan orang Afrika lainnya, terutama istrinya sendiri Lawino. Selain menentang dan mencaci-maki budaya Afrika, sosok Ocol juga tidak menyukai istri dan keluarganya. Kebencian Ocol ini disebabkan oleh cara berpikir Lawino dan keluarganya yang masih terbelakang. Ocol menganggap bahwa istrinya adalah orang Afrika yang tidak berguna bagi kaumnya sendiri. Sikap Ocol yang arogan menggambarkan suasana paradoksal dalam Afrika Yang Resah.

Acebe dan p’Bitek berhasil menelanjangi konflik, baik internal maupun eksternal, yang dialami oleh tokoh-tokoh yang mereka ciptakan dalam Things Fall Apart dan Afrika Yang Resah. Potret buram keterbelakangan dan kebodohan Afrika mereka sajikan dengan apa adanya tanpa pretensi atau memohon belas kasihan kepada pembaca. Membaca kedua karya sastra ini, kita seperti sedang bertamu ke sebuah keluarga asing dengan suguhan madu dan racun. Kita tidak tahu yang mana madu dan yang mana racun. Haruskah kita mempertahankan orisinalitas Afrika yang tradisional namun terbelakang? Atau, apakah kita perlu memodernkan Afrika dengan mengorbankan tradisi dan nilai-nilai yang telah ribuan tahun melekat di dalamnya? Dilema inilah yang sejatinya terungkap dalam Things Fall Apart dan Afrika Yang Resah.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...