Rabu, 20 November 2013

Paus Tentang Korupsi



Kompas online Rabu, 13 November lalu, mengutip kotbah pemimpin umat Katolik sedunia Paus Fransiskus yang menyorot perilaku umat yang tak terpuji dan dibenci Allah, yaitu korupsi. Berbagai pihak menduga kotbah ini merupakan otokritik kepada institusi gereja dan Vatikan yang belakangan diterpa isu tidak sedap akan perilaku korup yang dicurigai dilakukan oleh beberapa pejabat gereja dan Vatikan. Ada tiga hal menarik yang dapat disimak dari kotbah korupsi ini. Ketiga hal tersebut terkait dengan hukuman bagi koruptor, orang tua yang korup, dan perilaku koruptor.

Pertama, apa hukuman yang paling pantas untuk mereka yang mencuri uang negara? Paus asal Argentina itu mengatakan, “Lebih baik jika batu gerinda dikalungkan ke leher mereka (koruptor), lalu lemparkan mereka ke lautan.” Jawaban Paus ini tentu tidak dimaksudkan untuk menyederhanakan persoalan bagaimana menangani korupsi yang sampai sekarang masih menjadi persoalan besar di banyak negara di dunia. Apalagi, dalam banyak kesempatan Gereja Katolik menentang hukuman mati bagi pelaku kejahatan apa pun karena kematian adalah hak prerogatif Allah yang tidak dapat diwakilkan kepada manusia. Namun, benang merah ucapan Paus ini menunjukkan kegeramannya atas perilaku banyak pejabat yang rakus dan tidak bersyukur dengan upah yang mereka dapatkan sebagai abdi negara. Atau barangkali, karena Paus berasal dari negara yang juga masih mengalami banyak persoalan yang terkait dengan korupsi, beliau sadar sepenuhnya bahwa korupsi menjadi salah satu sumber utama kelambanan atau bahkan ketidakmampuan suatu negara untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.

Dalam kotbah yang sama, Paus selanjutnya berujar, “Orangtua yang mendapatkan penghasilan dari korupsi sudah kehilangan harga diri dan memberi 'roti kotor' untuk anak-anak mereka.” Paus mengkritik para orang tua yang melacurkan diri dan membiarkan nafsu keserakahan berkuasa dalam diri mereka. Di banyak tempat, para pejabat yang juga adalah orang tua memberi contoh buruk bagi anak-anak mereka. Paus mensinyalir adanya kecenderungan para orang tua yang mendapatkan penghasilan dari korupsi. Bila uang hasil korupsi ini diberikan kepada keluarga mereka, ini seperti memberi “roti kotor” kepada keturunan mereka. Perumpamaan ini menunjukkan bahwa uang haram akan berdampak buruk bagi orang yang tak berdosa seperti anak-anak yang dihidupi dari roti kotor. Bayangkan, apa jadinya anak-anak kita kalau mereka makan roti kotor? Tentu anak-anak akan menderita berbagai penyakit.

Persoalan ketiga terkait dengan perilaku para koruptor. Dalam kotbahnya, Paus menggambarkan bahwa para koruptor ini terlihat sangat baik di depan umum. Mereka berpenampilan sopan, ramah, dan murah hati. Mereka sering memberi sumbangan kepada gereja dan selalu sedia dimintai donasi manakala umat membutuhkan. Kata Paus, perilaku yang tampak baik di permukaan ini sebenarnya menutupi kebusukan dalam diri mereka. Barangkali beliau hendak mengingatkan perumpamaan yang disampaikan Yesus ketika membandingkan penampilan kaum Farisi yang munafik dengan kuburan yang dicat putih bersih namun di dalam penuh belatung dari jasad yang membusuk. Penampilan yang menipu dan perilaku yang munafik ini menyamarkan niat busuk para koruptor. Sesungguhnya, mereka adalah serigala berbulu domba. Karena kenikmatan yang mereka dapat dari penjarahan uang negara ini, tak heran bila Paus menyamakan suap dan korupsi seperti narkoba dan obat terlarang yang membuat mereka kecanduan untuk terus melakukannya. Apalagi di banyak tempat, umat selalu memandang tinggi dan sangat menghormati para koruptor karena kedermawanan yang mereka tunjukkan. Kelimpahan harta dan hormat yang para koruptor dapatkan membuat mereka semakin getol merampok uang rakyat.  

Secara keseluruhan, kotbah Paus ini amat relevan dengan situasi yang terjadi di negara kita. Bahkan, dalam hal penampilan dan perilaku koruptor, apa yang disampaikan Paus Fransiskus sangat mirip dengan apa yang jamak terjadi dalam masyarakat kita. Sering kita melihat para pejabat menutupi perilaku korup mereka dengan menyumbang ke berbagai lembaga sosial atau keagamaan. Dengan cara demikian, mereka akan terlihat baik dan dihormati sebagai dermawan. Penampilan dan perilaku menipu ini sering menjadi modus koruptor untuk menyamarkan penjarahan uang rakyat yang mereka lakukan. Persoalannya, beranikah kita mengikat leher koruptor dengan batu dan melemparkan mereka ke tengah lautan? Barangkali kita hanya bisa berharap akan melihat seorang koruptor yang menggantung dirinya di Monas dalam waktu dekat.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...