Minggu, 01 Desember 2013

Belajar dari Kasus Dokter Ayu

Akhir November ini ditandai dengan peristiwa yang menarik perhatian publik.  Ribuan dokter dan tenaga medis kompak melakukan aksi unjuk rasa. Penyebabnya adalah keputusan banding MA yang menyatakan tiga dokter kandungan di Menado terbukti bersalah melakukan malpraktek dan harus menjalani hukuman badan 10 bulan. Putusan ini kontan mendapat reaksi keras dari rekan sejawat. Jiwa korsa para dokter se Indonesia seperti mendapatkan momentum. Baik di kota maupun di pelosok, para dokter bersekutu menyatakan protes keras atas hukuman badan yang menimpa rekan seprofesi dan menuntut pembebasan mereka. Tak kurang pula, Menteri Kesehatan mengomentari dan menganggap keputusan MA ini sebagai bentuk kriminalisasi dokter. Sebagai puncak dari protes mereka, para dokter melakukan mogok kerja pada Rabu, 27 November lalu. Mereka emoh melayani pasien, baik di rumah sakit maupun di tempat praktek, sebagai bentuk keprihatinan dan solidaritas atas dikriminalkannya rekan mereka.

Bak buruh yang berdemo menuntut kenaikan upah, para dokter dan tenaga medis melakukan orasi di jalanan, tempat-tempat umum, dan juga mengadu ke parlemen. Pertanyaannya, apakah para profesional di bidang kesehatan ini pantas melakukan demo yang demikian dramatis? Pantaskah mereka mogok sebagai bentuk protes atas putusan banding MA yang dianggap mengkriminalkan profesi dokter? Apakah dokter tidak pernah melakukan kesalahan, kelalaian, atau kecerobohan dalam tindakan medis yang merugikan atau bahkan mengakibatkan pasien meninggal sebagaimana dalam kasus yang dipidanakan kepada Dokter Ayu cs? Serangkaian pertanyaan ini menjadi menarik untuk didiskusikan.

Satu hal yang pasti akibat dari aksi demo serentak yang dilakukan profesi mulia ini adalah terbengkalainya layanan kesehatan di banyak rumah sakit seantero negri. Bisa kita bayangkan, kebingungan dan kekhawatiran pasien dan keluarganya yang memerlukan tindakan medis dengan segera namun tidak mendapatkannya karena dokter dan perawat mogok kerja. Sebagai profesi mulia yang mengandung nilai kemanusiaan, meninggalkan tugas karena berunjuk rasa, apalagi mogok kerja, adalah aksi yang seharusnya tidak dilakukan oleh para dokter dan perawat. Mereka menjalankan tugas mulia yang berkaitan langsung dengan keselamatan jiwa manusia. Batas antara kehidupan dan kematian bagi pasien yang sedang berada dalam keadaan kritis sangat tergantung pada tindakan yang cepat dan akurat. Apakah sebanding bila kepentingan menyelamatkan nyawa ini harus dikalahkan oleh solidaritas profesi?

Dokter juga manusia. Sama seperti profesi lain, mereka juga bisa salah, ceroboh atau lalai ketika melakukan tindakan medis kepada pasien. Persoalannya, manakala kesalahan itu dilakukan secara sadar, mereka berkewajiban untuk mempertanggungjawabkannya. Terlebih bila kesalahan ini mengakibatkan kematian. Dalam setiap profesi, ada resiko yang melekat dan konsekuensi yang harus ditanggung jika kesalahan itu dapat dibuktikan di depan hukum dan pengadilan. Resiko dan konsekuensi ini bukan untuk menakut-nakuti atau mengancam dokter, namun sebagai bentuk tanggung jawab dan akuntabilitas kepada publik yang mempercayakan nasib dan keselamatan jiwa kepada mereka. Konsekuensi dan resiko profesi ini justru dimaksudkan agar mereka menjadi semakin profesional, akurat, dan bertanggung jawab.

Dalam kasus malpraktek yang telah dibuktikan kebenarannya menurut hukum ini, ada hal yang lebih mendasar yang sebaiknya menjadi bahan refleksi bagi para pemangku yang mengurusi persoalan kesehatan. Di era keterbukaan seperti sekarang, laporan atau kecurigaan publik atas kekeliruan medis yang dilakukan oleh tenaga medis tanah air semakin sering kita dengar. Tidak mengherankan bila kalangan masyarakat mampu lebih suka memeriksakan kesehatan diri mereka ke negara tetangga seperti Singapura atau Malaysia. Kabar mengatakan bahwa pelayanan yang diberikan rumah sakit di negara tetangga ini jauh lebih baik ketimbang di negara kita. Diagnosa dan tindakan medis yang dilakukan para dokter lebih akurat dan profesional. Hitung-hitungan biayanya pun sama dengan biaya yang harus dikeluarkan apabila melakukan pemeriksaan di Indonesia. Bahkan bila mempertimbangkan efektifitas dan tindakan medis yang lebih akurat, biaya pemeriksaan ini bisa menjadi jauh lebih efisien.

Pertanyaannya, apakah para dokter kita kurang profesional sehingga orang mampu lebih suka memeriksakan kesehatannya ke orang asing? Dulu, untuk menjadi dokter, seorang tidak hanya harus encer otaknya, tetapi juga memiliki karakter terpuji seperti ulet, sabar, tulus, dan rendah hati. Mereka yang dapat mengenyam pendidikan di fakultas kedokteran harus menjalani seleksi yang sangat ketat. Karena itu, yang tembus fakultas kedokteran dapat dipastikan memiliki kepandaian. Setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan dan dinyatakan lulus sebagai dokter, ia lantas dikirim ke pelosok negeri untuk melayani masyarakat dan menjadi pionir kesehatan selama setidaknya dua tahun. Pelayanan kepada masyarakat ini membuat mereka menjadi dokter yang berkarakter, menjadi pribadi yang memahami betul penderitaan rakyat karena mereka pernah mengalami dan merasakan sendiri hidup di tengah-tengah keterbelakangan dan keterbatasan. Pengalaman dan pengabdian ini juga menjadikan mereka pribadi-pribadi yang memiliki empati dan lebih mementingkan nilai-nilai kemanusiaan ketimbang kebendaan.

Saat ini, untuk menjadi dokter, otak encer dan kepribadian terpuji bukan syarat penting. Yang paling utama adalah uang. Siapa yang bisa kuliah di fakultas kedokteran kalau biayanya mencapai ratusan juta? Bahkan untuk bisa duduk di bangku fakultas kedokteran di universitas negeri, tak kurang dari 200 juta harus dibayar untuk tahun pertama. Akibatnya, lulusan dokter sekarang adalah mereka yang mampu membayar biaya kuliah. Kepandaian dan kepribadian dikesampingkan karena uang menjadi penentu seseorang untuk menjadi dokter. Akibat yang lebih parah, hanya orang yang mampu secara ekonomi saja yang dapat menjadi dokter. Kecakapan akademik yang pas-pasan, bahkan kurang, tidak bakal menjadi halangan untuk meraih gelar terhormat dan menyandang profesi mulia di tengah masyarakat. Kalau kualitas lulusan dokter tidak didasarkan oleh kepandaian dan kepribadian yang baik, jangan terkejut bila malpraktek dan kesalahan diagnosa dan tindakan medis akan semakin sering terjadi di rumah sakit-rumah sakit dalam negeri.

Kasus dipidananya tiga dokter kandungan di Menado menyibak berbagai hal yang memerlukan tindakan nyata dan segara. Tentu kita menyayangkan hal ini terjadi, namun hal yang lebih penting adalah segera membenahi profesionalitas dan pelayanan dokter agar profesi mulia ini tetap dipercaya publik. Mempersiapkan dokter yang profesional dan berkepribadian terpuji melalui pendidikan yang benar merupakan kunci untuk menciptakan pelayanan kesehatan yang terpercaya, terjangkau, dan akuntabel.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...