Rabu, 11 Desember 2013

Hari Anti Korupsi Sedunia

Peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia, 9 Desember, yang lalu ditandai dengan beberapa peristiwa menarik di tanah air. Pertama, seminggu sebelumnya, tepatnya pada 3 Desember 2013,  Transparancy International (TI) mempublikasikan hasil survei global tahunan mereka perihal Corruption Perception Index (CPI atau Indeks Persepsi Korupsi) sepanjang 2013. Berdasarkan temuan TI, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia mendapat skor yang sama seperti tahun lalu, yaitu 32. Angka ini menunjukkan bahwa korupsi masih menjadi persoalan serius di negara kita. Indeks Persepsi Korupsi dinilai dengan skor 100-0; negara dengan skor 100 berarti bersih dari korupsi dan skor 0 berarti sangat korup. Meski demikian, peringkat Indonesia membaik, dari 118 menjadi 114 dari total 177 negara yang disurvei.

Yang kedua adalah demonstrasi antikorupsi yang dilakukan banyak pihak, baik aktifis dan penggiat antikorupsi maupun mahasiswa, di berbagai wilayah di tanah air. Beberapa di antaranya bahkan berujung bentrok dengan aparat. Demonstrasi semacam ini memiliki peran yang sangat penting dalam upaya mengampanyekan kepada masyarakat betapa berbahayanya korupsi bagi kelangsungan pembangunan dan betapa jahatnya korupsi karena menyengsarakan rakyat. Unjuk rasa antikorupsi juga menjadi penanda bahwa korupsi masih menjadi ancaman dan musuh utama dalam kehidupan berbangsa di tanah air kita dengan modus yang semakin canggih dan  bermetamorfosis dalam bentuk pencucian uang. Selain itu, demonstrasi juga merupakan perwujudan dukungan riil atas setiap upaya pemberantasan korupsi yang dimotori oleh KPK untuk tak henti-hentinya memerangi korupsi, bila perlu sampai mati.

Peristiwa ketiga yang menjadi gong di Hari Anti Korupsi Sedunia tahun ini adalah diputusnya persidangan Luthfi Hassan Ishaaq dengan vonis pidana penjara 16 tahun dan denda Rp 1 milyar atau subsider 1 tahun kurungan. Vonis berat yang dijatuhkan kepada mantan presiden PKS ini menjadi obat yang sementara ini dianggap cukup mujarab untuk memenuhi rasa keadilan rakyat. Inilah vonis terberat yang pernah dijatuhkan oleh Pengadilan Tipikor terhadap politisi yang tersandung kasus korupsi. Persidangan yang menyedot perhatian publik ini menyebut banyak nama pejabat, petinggi partai, anggota parlemen, bahkan orang-orang yang disinyalir dekat dengan lingkungan Istana dan Cikeas. Persidangan yang diliput secara terbuka ini juga membuat rakyat semakin paham bahwa praktek korupsi di lingkungan partai politik dan pemerintahan  adalah borok yang tak lagi dapat disamarkan meskipun telah ditutup rapat dengan perban.

Hari Anti Korupsi Sedunia merupakan upaya warga dunia untuk mengingatkan semua kalangan bahwa kehancuran dan keterpurukan suatu negara di jaman modern ini tidak lagi disebabkan oleh perang melainkan oleh perilaku korup para penguasanya. Hal ini dibuktikan melalui survei TI yang menempatkan hampir semua negara yang dikategorikan dalam zona merah, dengan skor antara 19-0, adalah negara-negara yang sangat miskin. Somalia, Korea Utara, Afghanistan, dan Sudan adalah empat negara terkorup yang hanya mendapat skor 8. Nilai ini menunjukkan bahwa persepsi korupsi di empat negara ini sangat tinggi. Di negara-negara ini, rakyatnya hidup dalam kesengsaraan yang sangat memprihatinkan, sedangkan penguasanya hidup dalam kemewahan karena kekuasaan dan perampokan uang negara yang mereka lakukan.

Untuk memetakan indeks persepsi korupsi ini, TI membuat klasifikasi korupsi dalam lima zona warna. Zona pertama berwarna hijau yang menandai persepsi yang bersih dari korupsi dengan skor antara 100-80. Dua negara dengan indeks persepsi korupsi terbersih adalah Denmark dan New Zealand yang keduanya mendapat skor 91. Zona kedua berwarna hijau muda dengan skor antara 79-60. Zona berikutnya berwarna kuning dengan indeks persepsi korupsi berada di antara 59-40. Zona keempat berwarna oranye dengan skor antara 39-20. Zona warna korupsi yang terakhir berwarna merah dengan skor persepsi korupsi antara 19-0.

Menilik penggolongan zona ini, Indonesia yang mendapat skor 32 berada dalam zona oranye. Ini berarti Indonesia hanya setingkat lebih baik dari zona terkorup, zona merah. Berada di zona oranye memperlihatkan bahwa kejahatan korupsi dipersepsikan sebagai perilaku yang terus menerus terjadi dengan intensitas dan frekuensi yang masih sangat tinggi. Karena itu, penindakan melalui hukuman yang berat, tegas, dan menjerakan terhadap para koruptor tak bisa ditawar. Pada saat yang sama pencegahan juga harus digalakkan. Kejaksaan, Kepolisian, dan KPK adalah trisula yang diharapkan menjadi senjata ampuh bagi upaya semua pihak untuk memberantas korupsi. Di Hari Anti Korupsi Sedunia ini, kita kembali diingatkan bahwa keserakahan para penguasa harus dihukum seberat-beratnya.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...