Selasa, 10 Desember 2013

Kaas: Kisah Kegagalan yang Inspiratif

Kegagalan adalah hal yang paling ditakutkan. Sedapat mungkin, seorang individu akan berupaya untuk menghindari kegagalan. Namun demikian, apa yang akan dilakukan ketika seseorang gagal meraih impian? Bagi sebagian orang, kegagalan identik dengan kehidupan ekonomi yang berkekurangan atau pas-pasan. Ketidakmampuan ekonomi ini sering membuat seseorang kurang percaya diri. Jika ia berada di kalangan orang yang sukses secara ekonomi, ia akan lebih sering diam karena takut bicara salah atau takut diremehkan oleh mereka yang lebih kaya.

Keadaan seperti inilah yang dialami Frans Laarmans, tokoh protagonis novel Kaas karya penulis Belgia Willem Elsschot. Sebagai kerani General Marine and Shipbuilding Company di Antwerpen, Frans tidak memiliki hal yang patut ia banggakan. Kehidupannya yang sederhana sering membuatnya minder sampai akhirnya ia ditantang untuk mengubah nasib dengan menggantungkan impiannya menjadi kaya pada keju edam.

Upaya mengubah nasib Frans berawal saat ia menghadiri upacara pemakaman ibunya. Kakaknya yang seorang dokter memperkenalkannya kepada salah seorang pelayat bernama Van Schoonbeke, seorang pengusaha terkemuka yang mempunyai banyak relasi bisnis. Dari perkenalan ini Frans diundang Schoonbeke untuk menghadiri pertemuan bisnis dengan para pengusaha lain yang rutin ia selenggarakan di kediamannya yang mewah. Dalam  pertemuan itu, oleh Schoonbeke, Frans dikenalkan sebagai inspektur agar ia dapat diterima dalam kalangan elit tersebut.

           “Jadi, Anda ini insinyur,” kata pria bergigi emas yang duduk di sebelahku (Frans). 
           “Inspektur,” temanku Van Schoonbeke menukas... Aku pun tertawa, sekedar membuat mereka percaya, seolah masih ada rahasia di balik itu yang pada waktunya akan terungkap. (hal. 25)

Pada awal-awal pertemuan Frans selalu menutupi pekerjaannya. Ia juga lebih sering diam dan menahan diri untuk terlibat dalam perbincangan-perbincangan bisnis yang tidak biasa ia dengar. Dalam pertemuan mingguan ini Frans merasa tertekan karena ia tidak dapat mengikuti topik-topik yang diobrolkan rekan Schoonbeke seperti terungkap dalam refleksinya berikut.

         Kerani jabatan rendah, jauh lebih rendah dibanding buruh... Namun, kerani pada umumnya hampir tak memiliki keahlian khusus dan … sehingga kerani berpengalaman bisa ditendang begitu saja sesudah mengabdi lima puluh tahun.

Setelah berkumpul dengan teman-teman Schoonbeke, Frans menyadari bahwa pekerjaannya tidak sepadan dibanding lingkungan barunya. Tambahan pula, Frans merasa terasing dalam perkumpulan Schoonbeke ini karena dia tidak paham dengan topik-topik pembicaraan mereka “Sesungguhnya mereka bahkan berpendapat lebih baik jika aku sama sekali diam..” (Hal.29).

Mengetahui posisinya “hanya” sebagai kerani, Schoonbeke menawari Frans kesempatan berusaha guna meningkatkan derajat ekonomi dan sosialnya. Frans dikenalkan kepada Hornstra, seorang pengusaha keju edam yang memiliki PT Hornstra di Amsterdam (Hal.39). Beberapa waktu kemudian, Frans ditawari Hornstra untuk menjadi agen tunggal pemasaran keju edam untuk wilayah Belgia. Kesempatan langka ini tentu disambutnya dengan antusias. Tanpa pikir panjang, ia terima kesempatan ini sebagai jalan untuk meningkatkan kelas sosialnya.

Karena terlalu antusisas dengan tawaran ini, Frans kurang teliti mempelajari kontrak yang ditawarkan Hornstra sebagaimana diingatkan istrinya.

       Saat kemudian dia (istri Frans) bertanya mengapa dalam kontrak itu aku (Frans) mencantumkan bahwa mereka bisa ‘menendangku’ sewaktu-waktu. (hal. 55)

Bukan itu saja, kontrak tersebut juga menyebutkan bahwa Frans harus bisa menjual 20 ton keju edam dalam jangka waktu yang ditentukan Hornstra (hal. 42). Karena keputusan yang tergesa-gesa ini, Frans mengalami kesulitan dalam menjalankan bisnis barunya.

Menjadi pedagang keju memang meningkatkan derajat sosial Frans seperti tercemin dalam “Mijnheer Laarmans, pedagang besar bahan makanan” (hal. 47). Frans bukan saja dikenalkan sebagai orang baru, tetapi ia juga merasa sudah menjadi bagian dari perkumpulan bisnis Schoonbeke. Eksistensinya pun mulai diakui oleh teman-teman Schoonbeke.

        Untuk pertama kali kumasukkan kedua ibu jariku ke rompi jas..... seperti orang penting... Berulang kali mereka berpaling seolah hendak meminta persetujuanku, yang segera saja kusambut dengan anggukan kepala. (hal 49)

Perasaan Frans ini tentu sangat berbeda dibanding saat ia pertama berkumpul dengan Schoonbeke dan teman-temannya. Dengan menjalani bisnis keju, Frans menjadi lebih percaya diri dan berani berinteraksi dengan kelompok Schoonbeke.

Dunia keju menjadikan Frans pribadi yang baru. Ia sibuk dan repot dalam menyiapkan kantor dan berbagai hal lain, utamanya dalam menamai usahanya. Semula ia menamai bisnisnya “USAHA DAGANG KEJU” hingga akhirnya menggantinya menjadi GAFPA (General Antwerp Feeding Products Association). Frans terlalu repot membangun image perusahaan dan mengabaikan persoalan utama: menjual keju. Karena tidak memiliki pengalaman berbisnis, waktu dan tenaga ia habiskan untuk mengurusi hal-hal yang tidak penting. Akibatnya, 20 ton keju edam yang telah dikirim Hornstra untuk ia jual kurang diperhatikan.

Meski demikian, dengan memiliki GAFPA, Frans nampak jauh lebih pede dalam perkumpulan Schoonbeke. Ia merasa bahwa ia sudah selevel dengan mereka.

       “Saya bersulang untuk keberuntungan GAFPA,” ujar si pengacara tua, yang menurutku, kekayaannya sudah berkurang. Sekarang dialah yang paling kecil dalam kelompok ini...” (hal. 76)

Pikiran Frans ini menggambarkan bahwa ia sudah merasa sekelas dengan Schoonbeke dan rekan-rekan bisnisnya. Bahkan, Frans merasa lebih kaya dibanding pengacara tua tersebut. Kepercayaan diri Frans ini berlebihan karena sebenarnya kekayaannya belum menjadi kenyataan  sebelum ia berhasil menjual 20 ton keju yang dipercayakan kepadanya. Ironisnya, tak satu keju pun berhasil ia jual.

Keyakinan diri Frans juga semakin besar karena ia mendapat pengakuan. “Sanjungan dan pujian bagi teman kita Laarmans!” seru si pengacara tua.” (hal.98). Hal ini menunjukkan bahwa Frans seperti dilahirkan kembali. Ia merasa menjadi orang yang lebih berkelas. Mendapatkan pengakuan seperti ini, Frans bahkan sempat menyombongkan diri. Sikap ini membuktikan perubahan yang terjadi dalam diri Frans. Pendek kata, status sebagai pengusaha membuatnya lebih percaya diri dan juga lebih berani untuk mengungkapkan perasaannya.

Sayangnya, kepercayaan diri dan status Frans tidak dibarengi dengan kinerja bisnisnya. Dia tidak berhasil menjual 20 ton keju yang ditugaskan Hornstra dalam waktu yang disepakati dalam kontrak. Pengalaman bisnis yang minim menyulitkannya untuk menjual dagangannya. Persoalan menjadi rumit ketika Hornstra hendak menagih uang penjualan kejunya sambil mengunjungi kantor Frans. Di saat itulah, Frans mulai meragukan profesinya sebagai pedagang. Ia pun panik.

Kepanikannya menjadi kenyataan saat Hornstra benar-benar datang. Frans bahkan meminta istrinya untuk tidak membukakan pintu saat bel rumahnya berbunyi. Frans sadar bahwa impian kejunya ternyata membebani hidupnya. Kebiasaannya sebagai kerani yang aktifitasnya terbatas di kantor dan mengurus dokumen berlawanan dengan dunia dagang. Berdagang justru membuat hidupnya tidak nyaman, gelisah, dan tertekan.

Setelah menyadari semua ini, Frans mengirimkan kembali kelder-kelder keju yang ia dapat dari Hornstra. Ia menyadari bahwa sudah tidak ada manfaatnya melanjutkan bisnis keju yang hanya membuat hidupnya tertekan.

Pada akhirnya Frans kembali menjadi kerani. Di General Marines, ia melihat bahwa teman-teman sekantornya adalah sahabat yang paling pantas baginya. Mereka sederajat, ramah, dan tidak menuntut meskipun ada perbedaan kelas sosial maupun kekayaan. Frans belajar bahwa kebahagiaan tidak ditentukan oleh harta ataupun kelas sosial, tetapi oleh cara kita menyikapi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana kita hidup.

Novel Kaas sangat menarik untuk dibaca. Melalui kisah Frans Laarsman kita diajak menyelami perjuangan seorang sederhana yang berupaya merubah nasib. Novel ini memang berakhir dengan getir namun bukan berarti membuat pembaca pesimis. Inilah realita yang bisa saja terjadi pada siapa pun. Dalam mencoba sesuatu yang baru guna meraih kehidupan yang lebih baik, kesuksesan maupun kegagalan memiliki peluang yang sama. Elsschot memilih memaparkan sisi kegagalan dari kisah yang dibangunnya ini sehingga pembaca bisa belajar dari kegagalan yang inspiratif dari si penjual keju ini.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...