Selasa, 26 Februari 2013

Pria Hamil


Saya terpengarah membaca sebuah berita di wolipop.detik.com 19 Februari lalu. Diberitakan seorang pria di AS melakukan eksperimen untuk tahu bagaimana rasanya jadi wanita hamil. Dia pun memakai baju seberat 15 kg yang bisa membesar di area perut dan payudara. Benjamin Percy, demikian nama pria ini, menuliskan pengalaman hamil tersebut pada majalah GQ edisi Maret 2013. Pria asal Oregon ini mengenakan kostum yang disebutnya Empathy Belly. Baju tersebut bisa mensimulasikan lebih dari 20 efek kehamilan mulai dari sakit punggung hingga keinginan untuk buang air kecil terus-menerus.

Sabtu, 23 Februari 2013

Suwung


Sebagian besar orang Jawa paham benar dengan makna kata “suwung” yang menjadi judul esai ini. Ada makna paradoksal yang terkandung dalam kata ini. Meskipun sulit menjelaskannya, karena kata ini tergolong dalam kata benda abstrak, saya mencoba mengajak Anda untuk membayangkan sebuah garis imajiner yang berada lurus ke depan dalam benak Anda. Nah, makna “suwung” menduduki tiga titik yang berbeda pada  garis imaginatif tersebut.

Selasa, 19 Februari 2013

The Kite Runner: Persepsi dan Konflik


The Kite Runner karya Khaled Hosseini adalah novel yang kali pertama diterbitkan Riverhead Books pada 2003.  Segera setelah penerbitannya, novel ini mendapatkan reputasi “international bestseller” dengan penjualan lebih dari delapan juta kopi dalam waktu yang relatif singkat. Novel ini juga mendapatkan beragam penghargaan seperti the Boeke Prize, the Barnes and Noble Discover Great New Writers Award, dan the Literature to Life Award. Bahkan di 2007, kisah persahabatan antara dua tokoh laki-laki dari dua ras dan kelas sosial berbeda ini diangkat ke layar perak dan mendapat sambutan yang tidak mengecewakan.

Kamis, 14 Februari 2013

“Perintah partai adalah nomor satu.”


Judul esai ini adalah pernyataan yang saya kutip secara persis dari seorang politikus Partai Demokrat Max Sopacua yang dimuat di Kompas online Selasa, 12 Februari 2013. Politikus ini mengomentari pertanyaan wartawan sehubungan dengan perlakuan khusus yang diterima Edhi Baskoro Yudhoyono alias Ibas, Sekjen PD, ketika membubuhkan tanda tangan kehadiran di Rapat Paripurna DPR namun segera kabur meninggalkan Senayan. Lebih lengkapnya, komentar Max berbunyi, "Bahwa DPR, fraksi adalah perpanjangan tangan dari partai. Kalau perintah partai adalah nomor satu. Kalau tidak ada partai, tidak ada rakyat." Secara tersirat, pernyataan Max ini mengungkap tiga sinyalemen yang telah lama diyakini masyarakat.

Rabu, 13 Februari 2013

Pers, Indonesia dan Kemanusiaan Kita


Kita hidup di suatu zaman di mana pers, media massa, adalah kekuatan yang luar biasa! Dengan bantuan teknologi komunikasi yang kian personalized, praktis setiap orang di sudut dunia yang berbeda-beda kini sama-sama memulai pagi dengan berita, menjalani hidup dengan berita, dan menutup hari dengan berita. Ada joke yang sangat mengena bahwa orang zaman sekarang bangun tidur bukan mencari anak, suami, atau istri, melainkan mencari Blackberry.

Senin, 11 Februari 2013

Pulang: Perjalanan Reflektif Seorang Penghianat


Apa yang Anda rasakan bila berkesempatan untuk pulang kampung setelah tujuh tahun merantau tanpa pernah memberi kabar kepada keluarga selama perantauan itu? Tentu Anda akan merasakan kerinduan yang sangat terhadap orang-orang terkasih yang telah Anda tinggalkan. Namun, di saat yang sama, Anda juga akan merasakan kebimbangan. Akankah keluarga Anda menyambut kepulangan ini dengan hangat? Apakah segala hal tetap sama seperti saat sebelum Anda pergi? Apakah semua anggota keluarga masih hidup? Apakah kerabat dan sahabat masih ada dan tinggal di tempat yang sama?

Jumat, 08 Februari 2013

The Paradox of Indonesia

Recent news has surprised me. It says that more than 150 thousand Indonesians are grouped into “super rich” human beings. Other news has even startled me by mentioning that the accumulated wealth of 40 super rich Indonesians is equivalent to that of 60 million poorest Indonesians! Metronews.com also mentions the total wealth of Indonesia ranks #3 in Asia and #14 in the world. Unbelievable! In the midst of nationwide poverty, only the privileged few enjoy their wealth and prosperity. It makes me wonder how much money this super rich group has and how they get it.

Kamis, 07 Februari 2013

Politik dan Uang


Pernah terjadi perdebatan panjang pada kurun 1930-an tentang hubungan politik dan agama, antara elite santri nasionalis dan elite nasionalis non-santri. Gaung perdebatan itu masih dirasakan sampai tahun 1950-an. Isu pokok yang diperdebatkan berpusat pada masalah apakah politik itu kotor atau tidak. Non-santri bersikukuh, politik itu selamanya kotor sehingga agama yang suci jangan dibawa-bawa ke dalamnya. Santri lalu membalik formulanya, justru karena politik itu kotor perlu dibersihkan dengan agama.

Rabu, 06 Februari 2013

Privat Vs Publik


Tanpa disadari aktivitas keseharian kita senantiasa bersinggungan dengan dua domain utama: privat dan publik. Aktivitas privat melingkupi hal-hal yang berkaitan dengan urusan pribadi yang kita upayakan secara mandiri. Mandi, tidur, buang air dan gosok gigi, misalnya, adalah beberapa contoh sederhana yang memang harus kita lakukan secara eksklusif dan tersembunyi. Sedangkan berkendaraan di jalan raya, berwisata ke Monas di hari libur, atau berbelanja di pasar adalah kegiatan yang hanya mungkin terlaksana di ruang publik dan menyertakan orang lain.

Selasa, 05 Februari 2013

Paradoks Nilai


Obrolan saya dengan seorang sahabat di sebuah warkop kaki lima beberapa waktu lalu dikejutkan oleh sebuah peristiwa pilu yang merangsang saya untuk menuliskannya di sini. Di tengah obrolan ngalor-ngidul, ke sana ke mari, yang seru, kami dibuat terpengarah oleh suatu kejadian yang berlangsung cepat. Sekitar 50 meter dari tempat kami nongkrong di warkop, nampak seorang pelajar berjalan ke arah kami duduk. Sekonyong-konyong, dari arah sebuah gang, segerombolan pelajar lain berlari mengejar pelajar yang sedang berjalan sendirian ini. Dalam hitungan detik, pelajar naas ini menjadi bulan-bulanan: babak belur dikeroyok oleh lima pelajar lain. Setelah puas dan tuntas menggebuki pelajar soliter ini, mereka melarikan diri secepat kilat. Secara spontan kami menyelamatkan korban pengeroyokan ini, sedangkan beberapa orang dewasa lain yang melihat kejadian ini mengejar gerombolan pengeroyok.

Senin, 04 Februari 2013

Penerimaan: Sajak Sentimentil Chairil Anwar


Meski menyebut dirinya “binatang jalang”, Chairil Anwar tampaknya tak berdaya dan tunduk ketika dirinya terlibat dalam sentimen asmara. Kesan ini dapat dirasakan secara kuat ketika kita membaca sajak Penerimaan yang diciptakannya pada Maret 1943. Sebagai penyair yang pola hidupnya “berantakan” dan penuh kebebasan, Chairil menunjukkan kelembutan yang sentimentil melalui puisi ini. Bahkan ia rela takluk atas cinta yang dirasakannya. Untuk jelasnya, mari kita simak puisi ini secara utuh.

Daftar Semua Tulisan: