Kamis, 09 Januari 2014

2014: Tahun Tantangan

Perayaan tahun baru 2014 baru saja usai. Kemeriahan dan kegempitaan pestanya masih terasa. Saat bertemu kerabat atau sahabat, kita masih mengucap, “Selamat Tahun Baru.” Ya, sesuatu yang baru biasanya membuat kita merasa optimis, bersemangat, dan berharap. Kalau di tahun sebelumnya kita merasa belum berhasil menggapai impian, maka di tahun baru ini kita diberi kesempatan untuk mewujudkannya. Di saat yang sama, kita juga membuat rencana bagaimana mengisi 365 hari ke depan supaya lebih bermakna, sukses, dan lebih sejahtera. Sayangnya, beberapa hal yang terjadi di minggu pertama 2014 memberikan gambaran bahwa 2014: tahun tantangan yang siap menerkam mereka yang terlena.

Tantangan pertama dihadapi para ibu rumah tangga persis di pergantian tahun: kenaikan harga elpiji untuk tabung ukuran 12 kg. Walau kemudian dikoreksi oleh pemerintah, tak ayal kenaikan ini sempat membuat konsumen kelimpungan. Protes keras pun dilayangkan oleh berbagai pihak kepada pemerintah yang sempat berkelit bahwa penetapan harga elpiji non-subsidi untuk tabung ukurang 12 kg adalah sepenuhnya tanggung jawab Pertamina ini. Pada akhirnya, karena tuntutan yang semakin menggelora, pemerintah pun meninjau ulang harga elpiji per tabung 12 kg dari Rp 124.000 menjadi Rp 90.600 di pangkalan. Untuk sampai ke tangan konsumen, harga ini akan berubah menjadi Rp 95.600 per tabung. Meskipun kenaikan ini tidak setinggi sebelum direvisi, beban ekonomi rumah tangga di tahun 2014 ini tampaknya akan semakin berat. Bagi pemerintah, bila konsumen enggan membeli elpiji tabung 12 kg dan beralih ke tabung 3 kg, subsidi akan membengkak dengan konsekuensi membebani APBN. Berapa pun kenaikan harga yang telah ditetapkan pemerintah, tak dapat dipungkiri bahwa tantangan ekonomi rumah tangga di 2014 ini semakin meningkat.

Tantangan kedua terkait dengan persoalan terorisme. Di saat masyarakat bersiap merayakan pesta pergantian tahun kemarin, Densus 88 Antiteror Polri melakukan penyerbuan ke sebuah rumah yang dikontrak sekelompok teroris di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan. Drama pengepungan dan penggerebekan yang berlangsung dari pukul 19.30 (Selasa, 31 Desember) hingga 02.00 (Rabu, 1 Januari) dini hari itu menewaskan enam terduga teroris. Keberhasilan penyergapan ini didahului dengan penangkapan seorang teroris bernama Anton di Banyumas pada 02.00 dini hari, Selasa (31 Des 2013). Dari pengembangan yang didapat dari Anton inilah, Densus 88 memperoleh informasi persembunyian kelompok teroris di Ciputat. Penggerebekan ini menyadarkan kita bahwa ancaman terorisme masih menghantui masyarakat. Tentu kita belum melupakan berbagai peristiwa yang terkait dengan aksi-aksi teror yang terjadi sepanjang 2013. Beberapa perampokan bank ditengarai dilakukan oleh kelompok teroris untuk membiayai operasi teror mereka. Puncaknya terjadi dengan beberapa penembakan terhadap aparat kepolisian di Depok dan Tangerang yang menewaskan dua anggota Polri. Keberhasilan Densus 88 Antiteror meringkus dan menumpas kelompok teroris di awal 2014 ini selayaknya menjadi penanda bagi kita bahwa aksi teror masih menjadi ancaman serius di 2014.

Tantangan ketiga adalah Pemilu yang tentu akan menyita energi dan biaya yang begitu besar dari semua komponen bangsa. Pesta demokrasi ini menggairahkan sekaligus merisaukan semua warga negara. Kekhawatiran akan keamanan menjadi isu utama. Dalam suasana sosial dan politik yang semakin memanas, dengan puncaknya pada pemilihan Presiden di bulan Agustus nanti, kerawanan sosial yang terwujud dalam bentrok antarpendukung partai politik dapat menimbulkan persoalan keamanan yang serius. Pemilu 2014 adalah penentu perjalanan sejarah Indonesia di masa datang. Bila kita berhasil menyelenggarakan pemilu yang jujur, adil, dan beradap dan memilih para wakil rakyat dan pemimpin sungguh-sungguh melayani kepentingan rakyat, harapan dan cita-cita untuk menjadi bangsa yang makmur dan berkeadilan akan mendekati kenyataan. Sebaliknya, bila pemilu diselenggarakan dengan cara-cara licik dan sarat dengan politik uang, kita akan terperosok semakin dalam ke jurang kemelaratan karena korupsi dan kemunafikan. 2014: tahun tantangan yang sangat menentukan nasib kita.

Ketiga hal di atas menjadi indikasi bahwa 2014 adalah tahun yang akan penuh gejolak. Secara ekonomi, nilai tukar mata uang kita terhadap dolar Amerika diprediksi akan melemah sehingga harga barang-barang kebutuhan hidup yang sebagian besar masih kita impor akan semakin mahal. Inflasi bisa jadi akan mendekati dua digit. Ancaman keamanan dari teroris yang nampaknya tetap giat menyebarkan ideologi sesat di kalangan orang muda akan terus terjadi. Tambahan pula, situasi sosial politik yang semakin mendidih dari April hingga pertengahan tahun karena penyelenggaraan pemilu akan menimbulkan kerawanan yang perlu diwaspadai. Sebagai rakyat biasa, kita hanya bisa berharap para pemimpin dan pemangku kepentingan dapat menjadi pelindung dan pengayom bagi setiap insan yang hidup di bumi katulistiwa tercinta ini. Selamat tahun baru!

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...