Jumat, 24 Januari 2014

Banjir Jakarta

Selamat datang, Hujan! Selamat datang, Banjir! Ucapan ini barangkali harus disampaikan warga DKI saat ini meski hanya dalam hati. Ya, setiap Januari, warga ibu kota harus siaga menyambut tamu tak diundang yang kedatangannya selalu mengancam kenyamanan: banjir. Dilalui 13 sungai besar, wilayah DKI yang rendah memang rentan dengan derasnya luapan air dari ke-13 sungai yang  hulunya berada di Bogor dan Depok yang lebih tinggi. Selain air kiriman dari hulu, banjir juga diperparah dengan perilaku sembrono membuang sampah sembarangan, pemukiman di bantaran kali, dan rob atau pasang air laut. Berbagai upaya telah, sedang, dan akan diupayakan pemda DKI untuk meminimalisir banjir, namun hasilnya tetap minim. Tiga faktor berikut adalah penyebab utama banjir yang selalu menerjang Jakarta.
 
Pertama adalah curah hujan yang tinggi. Sesuai prakiraan cuaca yang disampaikan instansi BMKG, Januari dan Februari adalah puncak musim hujan. Ini berarti curah hujan dalam dua bulan ini berada dalam intensitas paling tinggi. Volume air hujan yang tumpah ke daratan pada akhirnya tidak tertampung di sungai, selokan, dan situ-situ penampung air di wilayah Jabodetabek. Lahan terbuka hijau yang semakin sempit juga menyebabkan curah hujan tidak dapat meresap ke tanah. Logis bila akhirnya volume air begitu deras mengalir ke sungai-sungai yang membelah wilayah DKI yang kemudian meluap dan menggenangi pemukiman dan jalan raya.

Faktor kedua disebabkan oleh ketidakpedulian manusia. Membangun pemukiman dan rumah di bantaran kali, membuang sampah sembarangan, dan alpa membuat ruang terbuka hijau adalah bentuk ketidakpedulian kita yang akhirnya mendatangkan banjir dan bencana lain. Banjir pada dasarnya adalah bencana yang tanpa sengaja kita ciptakan sendiri karena ketidakpedulian kita terhadap ekosistem dan lingkungan. Pemukiman di bantaran kali tentu mempersempit lebar sungai dan membuat pendangkalan dan sedimentasi pada sungai semakin cepat. Akibatnya, daya tampung sungai menjadi sangat terbatas dan air yang tidak kenal kompromi mengalir dan menggenangi pemukiman. Sampah juga menjadi penyebab utama banjir. Berton-ton sampah yang menyumbat saluran, drainase, dan pintu-pintu air membuat aliran air ke laut tersendat. Penyumbatan ini tentu mengakibatkan air meluap. Kurangnya ruang terbuka hijau di Jakarta membuat air tidak dapat meresap ke tanah. Upaya yang baru dimulai Pemda DKI dengan membebaskan hunian liar di berbagai waduk atau situ di Jakarta dan mengembalikan fungsi mereka sebagaimana mestinya tidak mampu mengimbangi banyaknya air yang masuk ke waduk dan situ tersebut. Ketidakpedulian ini menjadikan bencana banjir semakin parah menerjang Jakarta.

Faktor terakhir adalah kebijakan pembangunan yang kurang memperhatikan daya dukung lingkungan. Motivasi ekonomi selalu menjadi pendorong pembangunan. Permukiman di luar wilayah Jakarta (Bodetabek) dilakukan secara masif oleh ribuan pengembang. Akibatnya area terbuka semakin sempit dan membuat hujan yang turun di wilayah ini semakin cepat mengalir ke laut yang celakanya, sebelum sampai tujuannya, menyambangi wilayah Jakarta terlebih dahulu. Hal ini diperparah dengan kebijakan pembangunan mal-mal yang sepertinya tak dapat dibendung di wilayah Jakarta. Pembangunan yang mengesampingkan daya dukung lingkungan semacam ini mengakibatkan bencana banjir semakin sering dirasakan warga Jakarta. Sejak beberapa tahun terakhir ini, setidaknya 25% wilayah Jakarta selalu digenangi banjir pada periode Januari-Februari. Ini bukti bahwa pembangunan yang didorong oleh motif ekonomi semata sering menimbulkan bencana. Karena keserakahan manusia ini, kita harus rela bila bencana, khususnya banjir di musim hujan, akan menjadi urusan yang tak pernah tuntas penyelesaiannya.

Sebenarnya, hujan adalah berkah alam yang menjamin kelangsungan hidup bagi semua makluk di muka bumi. Sayangnya, hujan kini telah berganti rupa menjadi kutukan akibat keserakahan manusia. Hujan yang menjadi sumber kehidupan telah bertransformasi menjadi air yang menyengsarakan. Hujan yang seharusnya menumbuhkan benih tanaman malah menjadi biang kematian. Air yang hakikatnya menghidupi bersalin dalam rupa bah yang menenggelamkan. Barangkali inilah protes yang dilakukan alam manakala manusia tak lagi tahu berterima kasih dan menghargai alam sekitar.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...