Jumat, 14 Maret 2014

Pemuda dan Disorientasi

Amat sulit dicerna akal membaca berita pembunuhan mahasiswi di Jakarta yang terungkap awal minggu ini yang dilakukan oleh sepasang remaja berusia 19 dan 18 tahun. Yang mencengangkan, pelaku pria adalah mantan kekasih korban dan pelaku perempuan adalah teman korban. Lebih mengherankan lagi, antara korban dan kedua pelaku sudah lama kenal karena lulusan SMA yang sama. Nafsu angkara murka semacam apa yang merasuki kedua pelaku hingga tega melakukan pembunuhan yang terbilang keji ini?

Menurut berita, pembunuhan ini dipicu oleh motif kecemburuan. Pelaku perempuan mengaku cemburu kepada korban dan khawatir bila kekasihnya akan kembali menjalin cinta dengan korban. Haruskah cemburu buta dilampiaskan dengan pembunuhan? Pantaskah hal ini dibalas dengan menghilangkan nyawa seseorang?

Menurut polisi, pelaku pria merasa kesal sejak korban memutuskan hubungan cinta mereka. Korban tidak mau dihubungi lagi oleh pelaku. Apalagi korban kerap jalan dengan pria lain setelah hubungan mereka putus. Lalu, apakah sepadan melampiaskan kekesalan dengan menganiyaya seseorang hinggal meninggal? Bagaimana mungkin pelaku yang pernah dekat dengan korban tega menghabisi mantan kekasihnya?

Kasus pembunuhan yang terungkap cepat ini menjadi perhatian dan keprihatinan publik, sekaligus menimbulkan pertanyaan besar tentang perilaku kriminal remaja zaman sekarang yang sering mencengangkan. Sebegitu kejamkah perilaku remaja saat ini?

Tentu saja, peristiwa ini tidak dapat digeneralisir sebagai cermin perilaku kriminal remaja keseluruhan. Namun, berbagai tindakan brutal yang dilakukan remaja dan pemuda akhir-akhir ini membuat publik sulit mengelak dari asumsi bahwa kaum muda, generasi penerus bangsa, sedang mengalami disorientasi, kesamaran arah hidup. Tawuran antarpelajar atau antarmahasiswa yang terjadi setiap hari di berbagai pelosok, demonstrasi anarkis mahasiswa yang berujung pembakaran kampus, dan korupsi yang dilakukan para politisi muda di senayan adalah beberapa contoh nyata bahwa pemuda kini mengalami kebingungan dengan arah dan tujuan hidup. Mereka kehilangan jati diri.

Padahal, pemuda memiliki peran sangat sentral dalam menentukan sejarah perjalanan bangsa melalui aksi-aksi yang mengehembuskan angin perubahan yang luar biasa. Sumpah Pemuda 1928, misalnya, adalah kiprah nyata para pemuda yang menjadi fondasi kuat bagi kokohnya NKRI. Tanpa andil pemuda saat itu, kemerdekaan melalui pendirian negara yang berdaulat dan bersatu sulit terwujud. Reformasi 1998 adalah contoh lain yang dimotori oleh pemuda, khususnya mahasiswa. Pemerintahan otoriter di bawah rezim Orde Baru runtuh karena tekanan dan demonstrasi mahasiswa secara besar-besaran yang berlangsung relatif damai. Tanpa gerakan mahasiswa yang tanpa pamrih ini, kita tidak akan menikmati kebebasan yang saat ini kita nikmati.

Sayangnya, kedua momentum sejarah ini tidak pernah mewujud dalam generator yang mampu menggerakkan seluruh komponen bangsa menjadi agen-agen perubahan. Momentum itu mandeg dan dengan cepat tergantikan oleh kepentingan-kepentingan praktis dan sesaat. Kepentingan jangka pendek yang berorientasi pada kekuasaan dan uang adalah penyebab utama mengapa kaum muda saat ini mengalami disorientasi.

Disorientasi terjadi karena adanya kesenjangan antara yang seharusnya dan yang sebenarnya. Pemuda saat ini adalah generasi yang jauh lebih pintar ketimbang pemuda generasi lalu. Mereka sesungguhnya tahu ada banyak ketidakberesan dan kesalahan yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Mereka paham apa yang seharusnya dilakukan untuk memajukan bangsa dan mengerti bagaimana seharusnya bangsa besar ini dikelola. Pendidikan yang relatif baik dan informasi yang begitu deras dan mudah didapatkan mengajarkan mereka apa yang seharusnya berlangsung di negara kita. Sayangnya, kenyataan yang mereka lihat bertentangan dengan yang mereka pelajari. Mereka tidak melihat para pemimpin yang  mempraktekkan nilai-nilai yang mereka peroleh di sekolah. Keserakahan, kecurangan, ketidakjujuran, korupsi, dan beragam perilaku tak terpuji mereka saksikan secara kasat mata. Peraturan dan hukum tidak ditegakkan dan tidak mampu menjadi pengadil yang baik. Akibatnya mereka menjadi frustasi dan menemui kekecewaan. Kenyataan ini menyebabkan mereka mengalami disorientasi.

Semakin seringnya perilaku kriminal yang dilakukan orang muda seharusnya menjadi sinyal bahaya bagi negara. Tawuran pelajar yang brutal, kejahatan jalanan, mahasiswa yang anarkis, politisi muda yang korup hendaknya menjadi wake-up call bagi segala upaya untuk membuat pemuda kita merasa riang dan optimis untuk menatap masa depan.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...