Selasa, 08 April 2014

Apresiasi Sastra



Mengapreasiasi karya sastra merupakan salah satu upaya untuk memaknai tema dan pesan yang diinterpretasikan pembaca atas sebuah karya sastra. Apresiasi sastra ini dapat dilakukan dengan berbagai cara; salah satunya dengan membuat tulisan kreatif. Berikut adalah contoh sebuah apresiasi sastra tentang novel Maryam karya Okky Madasari yang mendapatkan penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2011. Apresiasi sastra ini diwujudkan melalui sebuah surat dalam botol (message in the bottle) yang ditulis oleh tokoh minor Fatimah dalam novel tersebut.

JERITAN HATI SEORANG AHMADI
Sebuah Karya Kreatif
Oleh Shania Myandra Savira (siswa kelas 10)

Lombok, 23 Juni 2002

Untuk siapa saja yang menemukan surat ini, aku harap ceritaku dapat membuka perspektif baru di pikiranmu. Secarik kertas ini adalah curahan kisah hidupku. Semoga bermanfaat.

Keadilan terasa semu di dalam benakku. Kaum kami memang kaum kecil, minoritas yang tak dianggap. Malahan, kami dibenci. Kami dibenci karena berbeda dan dikucilkan karena iman. Persetan dengan “Bhineka Tunggal Ika”. Buktinya, rumah kami dibakar, dihancurkan, hanya karena kami dianggap “sesat.” Bukankah hanya Allah semata yang mengazab dan menghukum atau membenarkan dan menyalahkan manusia?

Sudah hampir satu setengah tahun kami mengungsi. Menunggu kabar yang tak pasti. Di masjid kami itulah kami berbagi suka dan duka, bersama-sama melewati cobaan dengan tabah. Sejak kakakku Maryam pergi merantau dan menikah di ibu kota, bapak dan ibu berubah. Mereka menjadi lebih mengekang. Mungkin, mereka takut kehilangan lagi.

Hari-hari di pengungsian menjadi pilu. Kadang aku teringat rumah kami di Gerupuk. Rumah itu rumah turun-temurun yang bapak peroleh dari almarhum kakek. Namun, mustahil rasanya untuk kembali tinggal di sana setelah diusir paksa oleh tetangga satu kampung. Ah… andai saja ada kakakku Maryam di sini. Mungkin kita semua bisa lebih bahagia dan sabar dalam keadaan sempit-sulit seperti ini. Aku juga yakin, bapak dan ibu rindu canda tawa kakak. Mereka hanya menyembunyikan perasaan itu dan memilih untuk tidak memperlihatkan apa-apa di depan semua orang.

Telingaku sudah kebal rasanya mendengar kata “sesat.” Kami, para Ahmadi, sudah terbiasa dengan cap sosial itu. Ahmadiyah memang merupakan kaum kecil dengan citra buruk di mata masyarakat. Dulu, aku tidak mempunyai masalah dengan pergi ke sekolah dan bercengkerama bersama teman-temanku. Semua berubah ketika tahu tentang kepercayaanku. Rahasia yang kujaga erat itu terkuak dan merambat cepat ke seluruh penjuru. Perlahan-lahan orang-orang menjauhiku. Cibiran terdengar jelas di mana pun aku menapakkan kaki. Perlahan, cibiran itu berubah menjadi caci maki.

Semua teman baik berbalik meninggalkanku begitu saja. Mungkin mereka takut dianggap sesat atau mungkin mereka memang membenciku. Aneh sungguh. Betapa mudahnya orang lain untuk menilai dengan bias berdasarkan golongan atau kepercayaan. Tidakkah mereka mengingat hal-hal baik yang pernah aku lakukan? Hal-hal seperti meminjamkan pensil atau memberikan pembalut ke teman saat datang bulan. Tapi, tidak. Yang mereka ingat adalah kepercayaanku dan cap sesatnya saja. Aku bingung dan marah. Tapi, harus marah ke siapa? Rasanya tak mungkin melepaskan emosi kepada Zat yang telah menciptakan aku karena Dialah yang memberikan segala cobaan. Lelah rasanya dihakimi atas sesuatu yang aku yakini sejak kecil. Bayangkan, sampai satpan sekolah pun melihatku dengan sinis.

Terlebih lagi, guru-guru juga membenciku, terutama guru agama Islam. Tatapan tajamnya menusuk setiap kali matanya melihatku. Dia juga tidak segan-segan menyinggung “kesesatan” Ahmadiyah di pelajaran agaman. Diucapkan berkali-kali dengan lantang olehnya bagaimana pengikut Ahmadiyah tidak mengakui Rasulullah sebagai utusan Allah yang terakhir. Rasanya, aku ingin menggulung diriku menjadi sebuah bola kecil lalu menghilang ditelan bumi setiap kali guru agama itu memulai ceramah subjektifnya.

Tak hanya itu, rapot pertengahan semester terakhirku mendapatkan sebuah “5” untuk pelajaran agama. Padahal, aku tidak pernah mendapat nilai di bawah “8” sebelumnya. Kesal bukan main hatiku. Tapi, apa daya sudah, aku hanya bisa menangis demi melepas amarah. Sungguh seperti keajaiban rasanya ketika mengetahui aku lulus dengan nilai “6”, nilai terendah untuk kelulusan.

Sesulit itukah untuk bangsa yang diakui “beragam” ini dalam menerima perbedaan? Ironis. Sungguh ironis! Betapa mudahnya diskriminasi sosial terjadi di antara kita, saudara sebangsa, bahkan seagama! Aku berharap—tidak untuk sekarang, tapi di waktu yang akan datang—agar semua kepercayaan dapat saling menghargai dan menghormati, tanpa kecuali. Aku berharap “Bhineka Tunggal Ika” dapat benar-benar diamalkan di kehidupan sehari-hari. Aku berharap aku dan para pengungsi lainnya adalah orang-orang terakhir yang mengalami pencampakkan ini.

Sekian cerita  dan harapanku. Mungkin surat ini dapat memberikan kebaikan untukmu. Tolong sebarkan ceritaku ini agar harapanku diketahui orang banyak dan berdampak baik untuk ke depan.

Terima kasih telah membaca curahan hatiku, kawan. Semoga hidupmu tentram selalu.


Atas nama Ahmadi-Ahmadi yang terbuang,
Fatimah (630 kata)

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...