Kamis, 24 April 2014

Jam Tangan Sang Jenderal

Selain kasus pelecehan seksual terhadap seorang siswa di salah satu sekolah internasional di Jakarta, kasus lain yang marak diperbincangkan media minggu ini adalah jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan Panglima TNI. Menurut harian Singapura yang pertama kali mengangkat isu ini, jam tangan merek Richard Mille RM011 serial “Fillipe Massa” yang dikenakan Panglima TNI ini sangat langka dan sangat mahal. Konon, harganya di atas Rp 1 milyar!

Publik yang mengetahui nominal harga jam tangan super mewah ini tentu geleng-geleng kepala. Para kuli tinta pun mengejar sang Jenderal untuk mendapatkan kebenaran berita tersebut. Dalam sebuah kesempatan, sang Jenderal menjelaskan bahwa jam tangan yang ia kenakan adalah palsu atau KW untuk mengistilahkan barang tiruan. Katanya, sang Jenderal memperolehnya dengan harga murah, “hanya” Rp 5 juta saja.

Untuk meyakinkan para kuli tinta, sang Jenderal mempersilakan mereka untuk memegang, merasakan, dan meneliti jam tangan yang menghebohkan itu. Lebih lanjut, sang jenderal pun membanting jam yang terasa cukup berat tersebut di hadapan kuli tinta. Pesan yang ingin disampaikan sang Jendereal adalah seandainya jam tangan itu asli, tentu ia akan memperlakukannya dengan hati-hati dan tidak akan membanting jam seharga rumah real estate di Jakarta tersebut. Selanjutnya, sang Jenderal mengatakan bahwa ia kolektor jam tangan karena kagum dengan inovasi yang terdapat pada jam tangan.

Memiliki barang mewah memang hak pribadi. Dan di dalam negara demokratis, tidak ada satu pun aturan atau hukum yang dilanggar atas kepemilikan semacam ini. Meskipun demikian, kepememilikan jam tangan mewah, walaupun oleh pemiliknya dinyatakan palsu, telah  menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat. Setidak-tidaknya, ada dua hal kontroversial yang tercermin dari komentar dan pandangan publik.

Kontroversi pertama berkaitan dengan persoalan etika. Sebagai pejabat tinggi negara, apalagi sebagai panglima perang, sang Jenderal semestinya paham benar bahwa dirinya menjadi sorotan publik. Ia juga sepatutnya paham bahwa seorang panglima harus dapat menjadi teladan bagi para prajuritnya. Sadarkah sang Jenderal bahwa ratusan ribu prajurit yang dipimpinnya hidup dalam keprihatinan? Tidakkah ia melihat para prajurit yang tinggal di barak-barak dan berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga? Kepekaan semacam ini seharusnya dimiliki oleh sang Jenderal, apalagi ia pemimpin tertinggi dalam bidang kemiliteran. Di mana jiwa korsa yang selalu didengung-dengungkan, yang katanya menjadi dasar persaudaraan dan kesetiakawanan antarprajurit?

Kedua, patutkah seorang panglima mempertontonkan kemewahan melalui asesoris periferal yang ia  kenakan? Jam tangan bukan bagian dari atribut militer. Betul bahwa seorang prajurit harus sadar akan waktu dan disiplin dengan waktu karena ketepatan waktu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dunia militer. Namun haruskah kesadarannya akan waktu ini ditopang oleh asesoris berupa jam tangan mewah milyaran rupiah? Meskipun jam tangan sang Jenderal yang dikenakan palsu alias KW, ia seharusnya menyadari bahwa kemewahan dan asesoris adalah dua hal yang harusnya dijauhi dalam dunia pertahanan dan peperangan. Bisakah kita membayangkan seorang Jenderal yang berperang dengan mengenakan jam tangan mewah? Apa yang akan ia lakukan bila suatu ketika ia benar-benar terlibat dalam sebuah peperangan yang genting? Jangan-jangan ia akan menyelamatkan jam tangan mewahnya terlebih dahulu sebelum ia menyelamatkan para prajurit yang sedang berlaga di medan perang.

Hidup mapan dan menikmati kemewahan yang diperoleh secara halal adalah hak seseorang. Namun bertenggang rasa dan berempati kepada liyan merupakan pertanda akan kebijakan dan kebijaksanaan yang seharusnya ditunjukkan oleh seorang pemimpin. Bila ratusan ribu prajurit masih gelagepan dalam hidup keseharian sementara pemimpin mereka tidak bertenggang rasa dengan kesulitan yang mereka rasakan, maka kepemimpinan ini harus dipertanyakan. Sang Jenderal sebaiknya meminta maaf atas kemewahan yang dipamerkannya dan, bila perlu, meletakkan jabatannya sebagai tanggung jawab atas kegagalannya untuk berempati kepada para prajurit yang dipimpinnya. Semoga jam tangan sang Jenderal ini bukan cermin dari ketidakpekaan para pemimpin negeri ini terhadap rakyat yang mereka pimpin.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...