Jumat, 09 Mei 2014

Perilaku Kekerasan di Sekolah

Perilaku kekerasan yang makin marak dilakukan oleh remaja telah menunjukkan tingkat yang sangat memprihatinkan. Indikasinya, perilaku ini sudah merambah semua lini dan sendi kehidupan bermasyarakat, tak terkecuali dunia pendidikan. Bahkan, yang lebih menyedihkan, pendidikan dasar yang dimaksudkan sebagai fondasi pembentukan karakter juga telah tercemar oleh praktek-praktek kekerasan. Sekolah sebagai persemaian perilaku berbudi pekerti telah dinodai oleh berbagai perilaku kekerasan hingga menimbulkan korban jiwa.

Kematian Dimas Dikita Handoko, mahasiswa semester satu Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta di tangan para seniornya bulan lalu dan Renggo Kadafi, siswa kelas 5 SD, yang diduga dianiaya kakak kelasnya minggu lalu menjadi wake-up call bagi semua pihak bahwa perilaku kekerasan telah bermetamorfosis menjadi budaya. Bagaimana mungkin seorang yang sedang menempa dan mempersiapkan diri harus meregang nyawa di tempat yang menjadi pijakan bagi masa depannya? Di mana pengawasan para pamong (dosen, guru, dan administratur pendidikan lain) hingga peristiwa kekerasan ini bisa terjadi di dalam kampus yang dipercayakan kepada mereka?

Sejarah pendidikan tanah air mencatat banyak peristiwa kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah, bahkan di kampus-kampus yang berafiliasi dengan kedinasan yang dimaksudkan untuk menyiapkan aparatur negara yang handal. Masih terpateri di memori kita berapa banyak tunas muda di IPDN, dulu STPDN, tewas akibat kekerasan di luar batas saat perponcloan. Sudah puluhan, bahkan ratusan, siswa dan mahasiswa yang tewas karena tawuran dan perkelahian antarmereka yang dipicu oleh persoalan-persoalan sepele dan yang hampir setiap hari dapat kita saksikan di jalanan atau di kampus-kampus di berbagai kota. Pertanyaan yang selalu mengusik kita adalah mengapa perilaku kekerasan selalu kembali terulang dalam dunia pendidikan kita?

Perilaku kekerasan di lingkungan sekolah memang disebabkan oleh banyak faktor. Meskipun demikian, tiga faktor berikut bisa dijadikan penjelasan mengapa perilaku ini selalu berulang.

Pertama, metode pendidikan yang militeristik, terutama di sekolah kedinasan, menjadi biang keladi terjadinya tindak kekerasan. Di masa orientasi, siswa baru digembleng secara fisik dengan sangat keras. Konon, perploncoan yang menonjolkan kekerasan fisik ini dimaksudkan untuk menanamkan disiplin, patriotisme, nasionalisme, dan ketahanan mental. Gojlokan fisik dianggap sebagai obat mujarab untuk menjadikan siswa siap menempuh pendidikan. Tentu saja, alasan ini adalah pembenaran bagi para senior untuk menunjukkan kekuasaan dan dominasi kepada para junior mereka. Kalau tujuan sekolah-sekolah kedinasan ini adalah untuk mencetak aparatur negara yang cakap di bidang tertentu, mengapa perponcloan yang mengutamakan ketahanan dan kekerasan fisik harus ditonjolkan? Bukankah lebih masuk akal bila masa orientasi siswa baru diisi dengan diskusi dan perdebatan yang relevan dengan persoalan-persoalan pendidikan dan kedinasan yang akan mereka jalani? Mengawali tahun akademik dengan kekerasan hanya akan menciptakan dendam dan kebencian dari para junior.

Kedua, perilaku kekerasan di sekolah cenderung diturunkan. Secara psikologis, seorang individu yang dididik dan dibesarkan dalam lingkungan yang mendukung cara-cara kekerasan akan menerapkan perilaku yang sama manakala ia mendapatkan kekuasaan. Siklus kekerasan akhirnya menjadi tradisi dan berulang setiap tahun. Siswa baru yang mengalami masa orientasi dengan kekerasan akan menerapkan hal yang sama manakala mereka menjadi senior. Dalam otak mereka tertanam bahwa menjadi senior berarti berhak untuk berperilaku keras terhadap junior dan sah memperlakukan junior semau mereka karena tindakan kekerasan yang sama pernah mereka alami sebelumnya. Tradisi ini tentu saja sangat berbahaya bagi dunia pendidikan kita dan menjadi sangat sulit untuk dihilangkan ketika sudah mengakar dan membudaya selama bertahun-tahun lamanya.

Ketiga, ketidakpekaan, ketidakpedulian, dan ketidaktegasan administratur dan guru yang diserahi tanggung jawab untuk mengelola sekolah adalah faktor yang paling berkontribusi terjadinya perilaku kekerasan dalam dunia pendidikan. Sekolah adalah rumah kedua siswa. Orang tua mengirim anak mereka ke sekolah karena mereka percaya bahwa sekolah adalah tempat yang aman bagi tumbuh-kembangnya anak-anak. Siapa pun orang yang dipercaya untuk mengelola sekolah harus memastikan bahwa anak-anak yang berada dalam tanggung jawabnya berada dalam keadaan yang terlindungi, aman dari segala ancaman kekerasan. Bila terjadi kekerasan di sekolah, pihak pengelola sekolahlah yang harus dimintai tanggung jawabnya karena ia lalai dan abai dengan kewajiban. Pengelola dan penganggung jawab sekolah yang tidak tegas dan tidak berani menghentikan budaya kekerasan dalam segala bentuk haru dijauhkan dari lingkungan sekolah karena mereka membuka peluang bagi terjadinya tindak kekerasan. Dalam kondisi macam ini, siswa yang mereka asuh berpotensi besar menjadi korban. Perilaku kekerasan hanya tinggal menunggu waktu.

Perilaku kekerasan yang masih sering terjadi di sekolah seharusnya menjadi cermin kegagalan kita dalam menyiapkan generasi penerus bangsa. Setiap orang harus menyadari bahwa kekerasan hanya akan membawa dendam dan kehancuran. Melihat perilaku para siswa dan mahasiswa yang gemar berkelahi dan menyakiti sesama mereka mengharuskan kita untuk melakukan upaya luar biasa agar perilaku ini segera dihentikan. Bila perilaku kekerasan masih menyala hijau di lingkungan sekolah, ini pertanda kiamat bagi bangsa.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...