Kamis, 22 Mei 2014

Tawuran Pelajar (Lagi!)

Lagi. Untuk kesekian kali, seorang pelajar harus meregang nyawa akibat dikeroyok pelajar lain dalam tawuran brutal antarpelajar di Jalan Letjen Suprapto Bungur Senen Jakarta Pusat (19 Mei 2014). Tragis. Aditya Alfian (16), pelajar SMK 1 Budi Utomo, yang terlibat dalam tawuran dengan SMK Poncol 65 dan SMK Taman Siswa harus mengakhiri hidupnya karena sabetan clurit teman sebayanya. Ironis. Harapan dan cita-citanya menguap di jalanan ibu kota.

Penyebab tawuran ini sangat sepele. Saat para pelajar SMK 1 Budut tengah pulang sekolah, mereka  bertemu segerombolan pelajar dari dua SMK di atas di lokasi kejadian. Setelah saling meledek serta menghina, terjadi saling serang dengan melempar batu dan menggunakan senjata tajam. Korban berlari dan terjatuh sehingga korban dibacok menggunakan celurit. Pertolongan yang diupayakan dengan membawa korban ke rumah sakit tidak mampu menyelamatkan korban. Aditya Alfian harus menghembuskan nafasnya dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Kisah pilu kematian pelajar karena tawuran kembali terulang. Belum sebulan kita mendengar kematian mahasiswa STIP  dan siswa kelas V SD di Jakarta akibat perilaku kekerasan teman sebaya mereka, kita kembali dihentak oleh kejadian yang pada dasarnya mirip. Meskipun puluhan korban telah berjatuhan dalam tawuran pelajar, kejadian ini lagi-lagi terjadi. Faktor-faktor apa yang memicu para pelajar ini hingga mereka begitu bersahabat dengan kekerasan?

Ada baiknya kita menengok ke lingkungan terdekat para pelajar: sekolah. Mari kita cermati bagaimana proses belajar-mengajar diselenggarakan di sekolah, tempat para remaja kita mempersiapkan masa depan.

Pertama, mari kita tengok kurikulum pendidikan di sekolah. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kurikulum pendidikan kita lebih menitikberatkan pada kemampuan kognitif dan kurang memberi porsi pada kemampuan afektif. Di sekolah, siswa dicekoki oleh beban akademik yang begitu berat. Mereka harus mempelajari puluhan bidang studi dengan cakupan materi yang sangat menuntut (demanding).  Banyaknya materi yang harus dipelajari, yang sebagian tidak relevan dengan tantangan hidup di masa depan, menjadikan siswa kurang mengasah kepekaan jiwa dan bela rasa mereka. Sekolah lebih mementingkan ilmu pengetahuan dan kurang peduli dengan perkembangan mental individu.

Hal ini diperparah dengan kurikulum yang tidak memungkinkan adanya diferensiasi (pembedaan perlakuan antara pelajar yang satu dengan yang lain sesuai dengan kemampuan dan kematangan psikologis). Setiap pelajar diperlakukan sama. Pelajar yang pintar dan pelajar yang kurang pintar, bahkan yang secara akademik tidak mampu, diberi beban materi kurikulum yang sama. Dalam kondisi semacam ini, pelajar yang kurang atau tidak mampu memenuhi tuntutan akademik yang tinggi mengalami tekanan hebat yang dapat membuat mereka frustasi. Di sekolah mereka dianggap “gagal” oleh guru; di rumah dianggap “bodoh” oleh orang tua. Akibatnya, mereka menjadi tidak percaya diri dan semakin frustasi.

Kurikulum yang tidak membuka ruang adanya diferensiasi ini menjadikan pelajar yang lamban secara akademik (slow learner) akan selalu gagal. Selamanya ia tidak akan pernah diberi kesempatan oleh sekolah untuk berhasil karena kesuksesan belajar selalu diukur dengan prestasi akademik yang berpatokan pada kurikulum yang dirancang untuk pelajar yang pintar. Bayangkan, semua pelajar sekolah menengah, baik yang di kota, di desa, di pelosok, maupun di pojok-pojok negeri dengan fasilitas yang tidak memadai harus mempelajari hal yang sama.

Yang paling memprihatinkan adalah kegiatan pembelajaran di kelas yang membosankan.  Jamak terjadi, satu-satunya sumber pembelajaran adalah guru dengan buku teks yang terbatas, itu pun kalau ada. Sumber pembelajaran yang minimal menghasilkan pelajar yang pasif dan tidak kreatif. Kegiatan belajar lebih menitikberatkan pada pengetahuan yang bersifat hafalan dan tidak merangsang pelajar untuk mencari dan memecahkan persoalan. Hal ini diperburuk dengan ketidakmampuan guru dalam membuat kegiatan belajar yang  kreatif dan menyenangkan. Metode pengajaran yang bersifat satu arah dan lebih banyak berupa instruksi serta kurang melibatkan potensi pelajar menjadikan kegiatan di kelas semakin kering. Tentu saja, kegiatan kelas semacam ini menjadikan aktifitas belajar menjadi sangat membosankan.

Lantas, apa kaitan kurikulum yang menuntut dan kegiatan pembelajaran yang membosankan dengan tawuran? Pelajar adalah pribadi yang aktif dengan energi berlebih yang menuntut cara belajar yang mengakomodir aktitifitas motorik. Kalau energi mereka tidak tersalurkan di kelas, mereka akan mencari penyaluran di luar. Apalagi para pelajar yang secara akademik tidak berprestasi. Para pelajar “bermasalah” ini akhirnya mencari pelampiasan dengan berkumpul dan melakukan kegiatan yang lebih menggairahkan. Ruang kelas dan sekolah tidak lagi menyenangkan karena adrenalin mereka tidak tersalurkan. Akhirnya, para pelajar yang tingkat kematangannya masih labil ini pun mencari petualangan di jalanan. Sayangnya, petualangan itu disalurkan dalam bentuk tawuran.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...