Senin, 25 Agustus 2014

Bahasa Gaul



Fenomena bahasa gaul yang sedang terjadi di tengah masyarakat kita layak untuk diperbincangkan. Bahasa ini digunakan sekaligus dikembangkan oleh sebagian besar anak-anak muda di negeri ini. Di pihak lain, tidak sedikit pula yang menuding bahwa bahasa gaul berpotensi merusak citra bahasa Indonesia, melucuti semangat berbahasa Indonesia yang baik dan benar, selebihnya memberikan dampak negatif bagi pengguna bahasa ini. Namun, apakah benar demikian? Ataukah itu hanya sebatas kekhawatiran saja?

Bahasa sebagai produk dari kebudayaan melahirkan banyak hipotesis. Budaya dan masyarakat merupakan dua unsur yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya bisa saling memengaruhi dan tidak jarang pula dapat mendominasi satu sama lain. Bahkan menurut Prof. Soeparno, menentukan siapa yang paling berpengaruh seperti menebak: duluan mana antara telur dan ayam.

Bahasa merupakan alat komunikasi yang memungkinkan manusia untuk memperoleh kebutuhannya. Selain sebagai alat komunikasi yang merupakan fungsi bahasa secara umum, bahasa juga berfungsi sebagai alat untuk menunjukkan identitas diri. Artinya, bahasa gaul hanya digunakan oleh penutur serta kalangan tertentu. Bahasa gaul atau dalam istilah linguistik disebut dengan bahasa prokem ini digandrungi oleh sebagian besar anak muda di Indonesia, lebih khususnya di daerah perkotaan. Faktor yang membuat bahasa ini tumbuh subur karena adanya media yang selalu memperkenalkan bahasa gaul kepada penyimaknya, seperti televisi, jejaring sosial, sinetron, film, majalah anak muda, dsb.

Tidak dapat dipungkiri bahwa bahasa gaul ini akan berpengaruh terhadap lingkungan formal maupun nonformal. Permasalahannya bukan pada salah tidaknya bahasa gaul tersebut, melainkan bagaimana cara menempatakan bahasa gaul dengan bahasa formal versi pemerintah (baca: Badan Bahasa) pada situasi tertentu. Sosiolinguistik berbicara tentang kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakaian bahasa dalam masyarakat. Alasannya, bahasa tidak akan pernah lepas dari masyarakat pemakainya karena bahasa dipandang sebagai gejala sosial. Gejala ini menempatkan bahwa dalam bahasa tidak bisa ditentukan oleh faktor linguistik saja, faktor nonlinguistik juga ikut berpengaruh. Faktor nonlinguistik meliputi faktor sosial (seperti status sosial, tingkat pendidikan, ideologi, tingkat ekonomi, umur, jenis kelamin, dsb.) dan faktor situasional (seperti siapa yang berbicara, kepada siapa, kapan, di mana, dan mengenai masalah apa). Kedua faktor inilah yang merupakan “jalan tengah” dalam menyikapi bahasa gaul.

Kondisi ini menimbulkan paradoks bahasa. Di satu pihak kita menghendaki penggunaan bahasa sejalan dengan apa yang ada dalam aturan baku bahasa Indonesia. Di pihak lain terdapat asumsi bahwa bahasa gaul masih merupakan bagian dari bahasa Indonesia. Kedua kubu ini berada pada posisi yang sangat bertolak belakang. Adanya faktor sosial dan faktor situasional inilah yang mengakibatkan terjadinya variasi bahasa. Bagaimanapun juga, semangat menjunjung tinggi bahasa Indonesia merupakan harga mati. Namun, seperti dalam bahasa Jawa terdapat variasi bahasa yang disebut dengan unggah-ungguh. Artinya, penggunaan suatu bahasa tergantung pada situasi dan kondisi yang melatarbelakanginya. Sebagai contoh, seorang anak ketika berbicara dengan orangtua atau kepada orang yang lebih tua darinya dibandingkan dengan seorang anak yang berbicara dengan teman sebaya, tentu penggunaan bahasa yang disampaikan berbeda, bukan?

Martin Joos membagi variasi bahasa menjadi lima macam ragam, yaitu ragam beku (frozen), ragam resmi (formal), ragam usaha (konsultatif), ragam santai (casual), dan ragam akrab (intimate). Dalam keseharian kita, tentu kelima ragam tersebut secara bergantian digunakan dengan memerhatikan tingkat keformalannya. Misalnya, pada ragam beku dan ragam baku, diperlukan tingkat keformalan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan ragam yang lain. Ragam santai dan ragam akrab tidak sekaku ragam-ragam sebelumnya, karena kedua ragam ini berada pada situasi yang santai dan akrab sehingga tuntutan penggunaan bahasa yang formal kurang diperhatikan. Pada situasi akrab dan santai inilah yang dibentuk oleh komunitas tertentu seperti pada teman sebaya, sahabat karib, teman spesial terlibat dalam bahasa gaul. Kata ciyus?, miapah, kepo, dsb. merupakan beberapa contoh bahasa gaul. Celakanya ketika kata-kata tersebut muncul dalam situasi formal/resmi seperti dalam rapat-rapat resmi, surat dinas, seminar nasional, tulisan ilmiah, proses pembelajaran di kelas, dll. Berlaku sebaliknya, kita menggunakan bahasa baku saat berbicara dengan teman sebaya, pada situasi santai seperti dalam melakukan aktivitas olahraga, bermain facebook, twitter, dll. Tentunya yang dijadikan pemahaman adalah kesadaran dalam menempatkan ragam bahasa ke dalam situasi dan kondisi yang tepat. Terdapat penelitian yang mengatakan bahwa anak-anak muda ketika mengerjakan tugas mereka cenderung menghindari bahasa gaul, artinya mereka telah sadar dalam penggunaan suatu bahasa sesuai dengan ragamnya.

Bahasa baku merujuk pada tolok ukur yang berlaku untuk kuantitas dan kualitas serta yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan. Dalam ragam bahasa baku ini, pemakainya cenderung lebih dihargai dibandingkan ragam-ragam lain. Namun, yang terjadi adalah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) hanya memasukkan bahasa ragam baku, ragam tidak baku kurang diperhatikan, padahal jika merujuk pada teori pendekatan deskriptif bahwa bahasa harus sejalan dengan apa yang ada di masyarakat. “Sang Pembuat” KBBI seakan-akan menutup mata dengan adanya bahasa gaul. Bandingkan dengan kamus Oxford di Inggris yang sangat update terhadap perkembangan bahasa Inggris. Bahkan dalam tiga tahun terakhir ini banyak istilah baru yang masuk karena menyesuaikan perkembangan budaya masyarakatnya, seperti istilah tweet yang sudah masuk ke dalam perbendaharaan kata di kamus Oxford. Kamus Oxford juga membagi suatu leksem sesuai dengan tingkat keformalannya, maksudnya saat membuka kamus tersebut kita dapat mengetahui leksem tersebut termasuk kata formal atau bukan. Dalam KBBI, terakhir kali diterbitkan pada tahun 2008 yang lalu dan sampai saat ini belum ada tanda-tanda untuk menerbitkan edisi terbaru. Ibaratnya, KBBI dengan bahasa yang berkembang saat ini saling berkejaran, namun KBBI belum bisa mengimbangi alias kalah telak. Padahal bahasa sangat dipengaruhi oleh perkembangan sosial, budaya, ilmu, dan teknologi. Ini yang mengakibatkan adanya stigma dari kalangan tertentu bahwa penggunaan kata yang tidak ada dalam kamus merupakan “dosa besar” dalam berbahasa. Di satu sisi memang benar, kita harus mengikuti kaidah-kaidah dalam berbahasa. Namun, apakah dengan kemandulan dari pembuat KBBI lantas membuat masyarakat kita menjadi ikut-ikutan ketingggalan zaman?

Penggunaan ragam bahasa baku dan tidak baku berkaitan dengan situasi dan kondisi pemakainya. keduanya merupakan bagian dari bahasa Indonesia yang harus kita hormati. Pemakai bahasa gaul merupakan upaya dalam proses pencarian jati diri, dan anak muda selalu ingin tampil berbeda serta ekspresif. Biarkan bahasa gaul tumbuh dan bergerak sesuai dengan ranahnya, asalkan masih dalam batas-batas tertentu seperti yang telah dijelaskan di atas. Jika ragam-ragam dalam bahasa itu kita susun seperti piramida, maka ragam baku berada di puncak piramida tersebut. Artinya, ragam baku menempati posisi yang paripurna, pemakainya merupakan golongan orang dewasa yang terdidik atau ilmuan. Ragam bahasa baku biasanya digunakan dalam situasi resmi, seperti acara seminar, pidato, penulisan karya ilmiah, dll.

Bahasa gaul merupakan hal yang lazim dalam proses berbahasa. Kita harus menyadari betul bahwa bahasa gaul merupakan bagian dari bahasa Indonesia yang selalu berkembang sesuai dengan konteks zaman. Adalah tugas kita semua untuk memberikan pemahaman bahwa bahasa Indonesia dapat digunakan dalam beragam situasi sesuai dengan faktor sosial dan faktor situasional tanpa melupakan kaidah-kaidah baku dalam berbahasa.

Salam Cinta Bahasa Indonesia!

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...