Senin, 01 September 2014

Eufemisme Bahasa Pejabat



Saya kerap kali menonton televisi. Program acara favorit saya adalah berita di semua stasiun televisi. Pokoknya setiap ada acara berita, saya selalu menyempatkan untuk nonton, baik sambil istirahat di tempat kerja, terlebih lebih jika sedang berada di rumah.

Tujuannya saya ingin mendapat banyak informasi apa saja yang sedang berkembang saat ini. Peristiwa apa yang sedang terjadi belakangan ini, dan hal apa saja yang sedang trend. Saya tak ingin ketinggalan informasi. Konon kabarnya, orang yang kalah di abad modern ini adalah orang yang tak tahu kabar yang sedang beredar. Maka, kita perlu awas dengan itu.

Ketika menyaksikan acara berita di televisi saya dapat menyimpulkan bahwa berita yang disajikan ke hadapan pemirsanya adalah seperti medan pertarungan antara rakyat dan pejabat. Lebih tepatnya bahasa rakyat versus bahasa pejabat. Keduanya terlibat dalam saling menegasikan dan “perlawanan.” Keduanya tanpa henti menyuarakan realitas apa yang sedang terjadi di dalam masyarakat dengan bahasanya masing masing.

Bahkan tak jarang dalam satu peristiwa, bahasa Indonesia versi rakyat dan bahasa Indonesia versi pejabat sungguh bertolak belakang dalam menyampaikan informasi. Bagi saya ini tak mengherankan karena dua entitas ini masing masing mempunyai kepentingan yang mesti diangkat ke permukaan. Rakyat menginginkan perbaikan, pejabat mengagungkan pencitraan.

Bahasa Indonesia yang disampaikan masyarakat sangatlah lugas, apa adanya, blak blakan sesuai dengan kenyataan apa yang terjadi. Mereka tak menutup nutupi. Jika A yang terjadi maka A pula yang dikatakan. Jika B yang terjadi maka B pula yang diucapkan. Rakyat tak ingin terjebak ke dalam kepura-puraan dan kemunafikan dengan menyembunyikan apa yang terjadi. Bahwa Indonesia itu tak hanya elok dengan pemandangannya yang indah-indah saja, di pojokan sana banyak yang meringkuk berselimut ketakpastian, kemiskinan, dan kekumuhan yang sedang mendera.

Bahasa Indonesia versi pejabat disusupi oleh keinginan untuk mengaburkan realitas yang terjadi, apalagi jika itu mengganggu image dirinya sebagai pejabat. Bahasa Indonesia yang digunakan sebagian para pejabat terkesan samar dan menimbulkan ambiguitas. Menurut pandangan saya ini seperti disengaja agar sang pejabat dapat menafsirkan sebuah peristiwa menurut pendapatnya sendiri.

Ia ingin agar apa yang terhampar dihadapannya itu dapat dikategorikan yang baik baik saja. Hal itu dilakukan agar sang pejabat pun dapat melaporkan pada atasannya itu yang baik baik juga. Pada titik ini kemudian singkatan Asal Bapak Senang (ABS) mendapatkan momentumnya. Mentalitas seperti inilah yang kemudian banyak mendapatkan tudingan bahwa bahasa Indonesia yang digunakan oleh banyak pejabat mengandung eufemisme.

Eufemisme atau penghalusan bahasa yang digunakan oleh sebagian pejabat berfungsi untuk menyembunyikan realitas “kasar.” Ia tak ingin dirinya tercoreng oleh nila setitik rusak susu sebelanga. Maka eufemisme tak hanya marak di zaman orde baru, juga setelah era reformasi sekarang ini. Apalagi hasrat untuk menjadi pejabat saat ini semakin terbuka lebar, baik di tingkat eksekutif, legislatif, maupun yudikatif.

Berhamburanlah kata kata seperti penyesuaian harga untuk kenaikan harga, rawan pangan untuk kelaparan, kesalahan administratif untuk korupsi, studi banding untuk jalan jalan ke luar negeri, inefisiensi untuk pemborosan, oknum untuk kesalahan aparat, kesalahan prosedural untuk kebocoran anggaran, dan sederet eufemisme lain yang masuk dalam kamus bahasa pejabat.

Pada mulanya bahasa bersifat netral. Ia tak berada di simpang kiri atau simpang kanan. Bahasa adalah milik semua. Bahasa memiliki jalan lurus yang tak menyimpang dan bengkok-bengkok. Ia hadir dengan takdirnya sebagai alat penutur untuk siapa saja yang memerlukannya. Tak ada yang berhak mengklaim eksklusifitas bahasa. Sialnya, bahasa Indonesia dikorupsi oleh sebagian pihak sebagai alat hegemoni untuk melanggengkan kekuasaannya.

Sumber: http://bahasa.kompasiana.com/2012/09/24/eufemisme-bahasa-pejabat-495622.html

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...