Kamis, 09 Oktober 2014

Analisis Puisi Secara Struktural (1)



Memahami puisi bukan persoalan mudah. Jenis karya sastra ini memang unik dan menggunakan kata-kata yang sangat terbatas untuk menyampaikan makna. Keterbatasan kata ini sering menyulitkan pembaca untuk mengetahui maksud yang disampaikan penulis atau penyairnya. Di sinilah kekuatan puisi: ringkas namun kaya makna. Penyair-penyair yang hebat dapat merangkai kata-kata yang tidak biasa sehingga rangkaian kata-katanya menimbulkan konotasi tertentu dan menghadirkan keindahan lewat gaya bahasa yang unik.

Meskipun puisi dibuat dengan bebas, tidak berarti bahwa puisi tidak memiliki struktur dalam proses penciptaannya. Penyair mengikuti struktur tersebut untuk membantu pembaca memahami makna dan maksud yang hendak ia sampaikan. Oleh karena itu, memahami struktur puisi akan memudahkan pembaca puisi memahami makna dan maksud puisi secara lebih komprehensif. Secara umum, ada dua struktur yang membentuk puisi: struktur fisik dan struktur batin.

Pertama, struktur fisik puisi merujuk pada apa yang nampak nyata (secara fisik terlihat) dalam puisi ini. Struktur fisik ini meliputi tipografi, diksi, bahasa figuratif, imaji, dan rima.

Tipografi

Yang dimaksud dengan tipografi adalah bagaimana kata-kata disusun oleh penyair sehingga membentuk tampilan fisik puisi yang diciptakannya. Umumnya, tipografi puisi tersusun atas baris dan bait. Persoalannya, apakah baris dan bait disusun penyair dengan rapi dan sistematis atau acak dan tidak teratur, atau membentuk pola tertentu? Puisi karya Sutardji Calzoum Bachri yang berjudul Tragedi Winka dan Sihka berikut ini bisa mewakili tipografi puisi yang unik.

Tragedi Winka dan Sihka

kawin
      kawin
           kawin
                kawin
                     kawin
                       ka
                  win
                 ka
            win
           ka
        win
      ka
  win
ka
    winka
         winka
              sihka
                    sihka
                          sihka
                        sih
                     ka
                  sih
               ka
            sih
          ka
       sih
    ka
  sih
ka
   sih
      sih
         sih
            sih
               sih
                  sih
                     ka
                         Ku

Puisi ini hanya terdiri dari dua kata: kawin dan kasih, namun dimanipulasi sedemikian rupa dan ditampilkan dalam tipografi yang unik. Kedua kata ini dipermainkan oleh penyairnya melalui pemenggalan suku kata “winka” (dari kata: kawin) dan “sihka” (dari kata kasih) yang mewakili seorang lelaki dan perempuan. Dilihat dari tipografinya, puisi ini membentuk alur zig-zag. Tipografi berbentuk zig-zag ini memberi petunjuk akan makna yang ingin disampaikan penyair. Perkawinan Winka dan Sihka yang semula penuh dengan kasih harus berakhir “kaku” (dengan perceraian) karena bahtera perkawinan yang mereka jalani penuh dengan liku (zig-zag).

Selain bentuk fisik (tampilan puisi), tipografi juga menyangkut persoalan pemenggalan kalimat atau kata yang tidak teratur dan terkesan semaunya. Pemenggalan semacam ini disebut enjambemen. Maksudnya, puisi tidak ditulis dengan rapi dan urut mengikuti halaman dengan tepi kanan atau kiri halaman yang tidak teratur. Penulisannya mengabaikan huruf kapital di awal dan juga tidak diakhiri dengan titik. Pemenggalan kata juga tidak mengikuti kaidah. Perhatikan puisi karya F Rahardi berikut:

Doktorandus Tikus 1

            selusin toga
        me
                                    nga
                                          nga
            seratus tikus berkampus
                                              di atasnya
                                                      dosen dijerat
            profesor diracun
                              kucing
                                    kawin
                                          dan bunting
            dengan predikat
                             sangat memuaskan

Puisi F Rahardi ini memiliki enjambemen (pemenggalan kata) yang unik pada kata “menganga”. Selain itu, penulisannya sengaja dibuat menjorok ke dalam dengan pemisahan kata yang tidak lazim, seperti pada frasa “kucing kawin” yang dipisah dan ditulis tidak sebaris. Pemenggalan semacam ini dimaksudkan untuk menegaskan makna.

Diksi

Diksi adalah pilihan kata yang dilakukan penyair untuk menyampaikan makna dan pesan. Pilihan kata ini merupakan bagian yang sangat penting bagi keberhasilan puisi. Pengarang menghabiskan energi dan waktunya untuk memilih kata yang menurutnya paling tepat untuk menggambarkan emosi, suasana, dan maksud yang ingin disampaikan. Karena puisi adalah karya sastra yang minim kata, penyair harus dengan akurat, cermat, dan hati-hati dalam memilih kata yang paling tepat mewakili pesan yang ingin disampaikan.

Umumnya, pilihan kata dalam puisi bersifat konotatif (makna yang disesuaikan dengan konteks yang diciptakan penyairnya) dan tidak dapat dipahami secara denotatif (makna sebenarnya sebagaimana diartikan dalam kamus). Sering kali pula, pilihan kata diselaraskan dengan bunyinya agar puisi ini terdengar lebih indah ketika dibaca.

Untuk mempertegas makna, penyair juga seringkali menggunakan kata konkret, kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji (citraan). Kata-kata konkret ini dikaitkan dengan kiasan atau lambang sehingga puisinya memiliki makna yang lebih mendalam.

Sebagai contoh, Toto Sudarto Bachtiar melalui puisi Gadis Peminta-Minta menggunakan pilihan kata konotatif yang kaya imajinasi dan didukung dengan kata-kata konkret untuk menggambarkan ironi. Perhatikan dua bait pertama puisi ini:

Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa

Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
Gembira dari kemayaan riang

Judul gadis peminta-minta jauh terdengar lebih puitis dan konotatif ketimbang perempuan pengemis. Untuk mendiskripsikan gadis peminta-minta ini, Bachtiar menggunakan kata konkret “gadis kecil berkaleng kecil” yang mempertegas gambaran kita akan tokoh ini. Kata “gadis” dan “kaleng” dipertegas dengan repetisi kata sifat “kecil” sehingga pembaca puisi ini dapat mengimajinasikan seorang bocah perempuan pengemis secara lebih utuh. Pilihan frasa ini juga membuat tokoh ini lebih konkret.

Bahasa Figuratif

Bahasa figuratif adalah bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara pengiasan, baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk mengungkapkan makna. Pemakaian bahasa figuratif berperan sangat penting untuk menghidupkan atau meningkatkan efek tertentu atau menimbulkan konotasi tertentu, selain juga untuk membuat puisi lebih indah. Bahasa figuratif juga dikenal dengan majas atau gaya bahasa. Penggunaan bahasa figuratif yang tepat akan memperkaya makna puisi dan menciptakan kesan yang sangat mendalam kepada pembaca.

Ada banyak jenis bahasa figuratif yang biasa digunakan penyair. Beberapa di antaranya yang sering digunakan adalah simile, metafor, personifikasi, repetisi, sindiran (satire, ironi, sinisme, sarkasme), dan lain-lain. Majas simile digunakan untuk memperbandingkan atau menyamakan sesuatu dengan sesuatu yang lain dengan menggunakan kata pembanding seperti, bagaikan, bak, semisal, serupa. Perhatikan penggunaan majas simile dengan kata “seperti” dalam penggalan puisi Waktu karya WS Rendra berikut: 

Waktu seperti burung tanpa hinggapan
melewati hari-hari rubuh tanpa ratapan
sayap-sayap mu'jizat terkebar dengan cekatan.

Waktu seperti butir-butir air
dengan nyanyi dan tangis angin silir
berpejam mata dan pelesir tanpa akhir.

Metafor termasuk jenis majas perbandingan, tetapi majas ini membandingkan dua hal tanpa menggunakan kata penghubung seperti simile. Perhatikan puisi Perjalanan Ini karya Korrie Layun Rampan yang membandingkan perjalanan hidup manusia dengan menyusuri langsai kehidupan, luka, padang lenggang, matahari, juga lautan yang sunyi.

Perjalanan ini
Menyusuri langsai-langsai kehidupan
Menyusuri luka demi luka
Menyusuri gigiran abad padang-padang lengang
Menyusuri matahari
Dari laut abadi dahsyat sunyi

Personifikasi digunakan untuk membandingkan benda yang tidak bernyawa seolah-olah dapat bertindak seperti manusia. Puisi Mata Pisau yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono berikut menggunakan majas personifikasi di baris pertama. Personifikasi dalam puisi ini dimaksudkan untuk memberikan makna yang lebih mendalam dan efek yang lebih hidup bagi pembaca.

Mata Pisau

Mata pisau itu tak berkejap menatapmu;
kau yang baru saja mengasahnya
berpikir: ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu

Contoh-contoh di atas menunjukkan betapa penting penggunaan bahasa figuratif dalam puisi. Ada begitu banyak jenis bahasa figuratif yang tidak memungkinkan untuk dibahas satu persatu dalam esai ringkas ini. Satu hal yang harus dicatat adalah bahwa bahasa figuratif sangat efektif untuk mengutarakan perbandingan, pertentangan, pertautan, perulangan, ataupun sindiran. Selain itu, penggunaan bahasa figurative yang efektif juga membuat puisi semakin indah.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...