Jumat, 10 Oktober 2014

Analisis Puisi Secara Struktural (2)



Bagian pertama dari tulisan ini telah menjelaskan struktur fisik puisi ditinjau dari tipografi, diksi, dan bahasa figuratif. Pada bagian kedua ini, analisis struktural puisi akan ditinjau dari imaji atau citraan dan rima serta bunyi yang terkandung di dalamnya

Imaji

Imaji, yang juga sering disebut citraan, adalah kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman, khayalan, atau gambaran indrawi seperti penglihatan, pendengaran, atau perasaan. Kata-kata ini membuat pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair. Melalui kata-kata ini pula, pembaca dapat mencitrakan keadaan yang disampaikan penyair melalui indra mereka. Pengalaman indrawi pembaca ini mendekatkan mereka pada makna yang sesungguhnya ingin disampaikan penyair.

Secara garis besar, imaji atau citraan dibagi menjadi 6 jenis: imaji pendengaran (auditory), imaji penglihatan (visual), imaji rasa/raba/sentuh (tactile), imaji penciuman/pembauan (olfactory), imaji pencicipan atau pencecapan (gustatory) dan imaji gerak (kinesthetic).

Imaji pendengaran adalah citraan yang dihasilkan dengan menyebutkan atau menguraikan bunyi suara, misalnya dengan munculnya diksi sunyi, tembang, dendang, dentum, dan sebagainya. Citraan pendengaran berhubungan dengan kesan dan gambaran yang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga). Perhatikan penggalan puisi “Sajak Putih” karya Chairil Anwar berikut ini. Di mana imaji pendengaran ini tercermin?

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Imaji penglihatan adalah citraan yang ditimbulkan oleh indera penglihatan (mata). Citraan ini paling sering digunakan oleh penyair. Citraan penglihatan mampu memberi rangsangan kepada indera penglihatan sehingga hal-hal yang tidak terlihat menjadi seolah-olah terlihat. Perhatikan penggalan puisi klasik “PadaMu Jua” karya Amir Hamzah yang memvisualisasikan Tuhan serupa dengan “dara di balik tirai.”

Nanar aku gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara dibalik tirai

Imaji berikutnya berkaitan dengan perasaan/rabaan dan sentuhan (taktil). Saat membacakan atau mendengarkan larik-larik puisi, kita dapat menemukan diksi yang dapat dirasakan kulit, misalnya dingin, panas, lembut, kasar, dan sebagainya. WS Rendra dengan sentimentil merasakan lembutnya kapuk randu yang sedang mekar dan membandingkan kelembutan ini dengan suasana hatinya yang sedang berbunga-bunga dalam “Ada Tilgram Tiba Senja.”

            Kapuk randu, kapuk randu!
Selembut tudung cendawan
Kuncup-kuncup di hatiku
Pada mengembang bermerkahan

Penciuman adalah salah satu indera penting dalam mengenali dan menghayati sesuatu. Imaji penciuman berhubungan dengan kesan atau gambaran yang dihasilkan oleh indera penciuman. Citraan ini “tercimum” saat kita membaca atau mendengar kata-kata tertentu.

Dua puluh tiga matahari
Bangkit dari pundakmu
Tubuhmu menguapkan bau tanah
(WS Rendra, Nyanyian Suto untuk Fatima)

Imaji kelima berkaitan dengan kesan atau gambaran yang dihasilkan oleh indera pencecap. Pembaca seolah-olah mencicipi sesuatu yang menimbulkan rasa tertentu, misalnya pahit, manis, asin, pedas, enak, nikmat, dan sebagainya.

Dan kini ia lari kerna bini bau melati
Lezat ludahnya air kelapa
(WS Rendra, Ballada Kasan dan Patima)

Terakhir, imaji gerak yang menggambarkan sesuatu seolah-olah dapat bergerak. Citraan ini dapat juga memberi gambaran gerak pada umumnya. Abdulhadi dengan indah menggambarkan keindahan tempat wisata Sarangan di Jawa Tengah melalui cemara dan bulan yang membuat keindahan alam yang statis menjadi lebih aktif.

Pohon-pohon cemara di kaki gunung
pohon-pohon cemara
menyerbu kampung-kampung
bulan di atasnya
menceburkan dirinya ke kolam
membasuh luka-lukanya
(Abdulhadi, Sarangan)

Rima

Yang dimaksud dengan rima adalah persamaan bunyi dalam puisi (persajakan). Kesesuaian atau kesamaan bunyi ini berfungsi untuk membentuk musikalitas atau orkestrasi puisi. Efek yang ditimbulkan oleh pengaturan bunyi ini adalah keindahan dan ekspresi yang lebih mendalam.

Persamaan bunyi ini dapat terjadi di awal, tengah, atau akhir pada tiap-tiap kata yang sebaris maupun pada baris yang berlainan melalui bunyi konsonan (huruf mati) maupun bunyi vokal (huruf hidup).

Penggunaan rima ini dimaksudkan untuk menciptakan kesamaan bunyi untuk menimbulkan kesan kesetaraan makna. Perhatikan beberapa contoh berikut:

            Dari mana punai melayang
            Dari sawah turun ke padi (Rima awal)

Anak ikan dipanggang saja
Hendak dipindang tiada berkunyit (Rima tengah)

Ombak besar gulung gemulung
Deru menderu sambung menyambung (Rima akhir)

Selain dari letak penempatannya, rima dalam puisi juga memiliki pola tertentu. Contoh-contoh berikut membantu kita mengetahui pola rima.

            Rima rata
            Kalau tak ada uang di pinggang                     (a)
            Sahabat yang karib menjadi renggang            (a)
            Bumi dipijak rasa terpanggang                       (a)
            Tangan tak bisa dibawa melenggang              (a)

            Rima silang
            Burung nuri burung dara                                (a)
            Terbang ke sisi taman kayangan                     (b)
            Cobalah cari wahai saudara                            (a)
            Kian diisi makin ringan                                  (b)

            Rima kembar
            Sedikitpun matamu tak mengerling                (a)
            Memandang ibumu sakit berguling                (a)
            Air matamu nan bercucuran                           (b)
            Tinggalkan ibumu tak penghiburan                (b)

            Rima berpeluk
            Perasaan siapa tak kan nyala                           (a)
            Melihat anak berlagu dendang                       (b)
            Seorang saja di tepi padang                            (b)
            Tidak berbaju buka kepala                              (a)

            Rima patah
            Tetapi dengan tiada setahuku                         (a)
            Aku tak sadarkan diri lagi                               (b)
            Apakah ini fana dalam ilah                             (c)
            Seluruh pribadi lebur dalam rohani                 (d)

            Rima Asonansi
            Bukan beta bijak berperi
            Pandai mengubah madahan syair

            Rima Aliterasi
            Secupak                                   (bunyi vokal e, u, a)
            Tumbang                                 (bunyi vokal u, a)
            Secukat                                   (bunyi vokal e, u, a)
            Mundam                                  (bunyi vokal u, a)

            Rima disonansi
            Tindak tanduk                         (i-a / a-u)
            Mondar mandir                       (o-a / a-i)

Melalui pola rima ini dapat kita pahami bahwa rima adalah salah satu unsur pembentuk irama dalam puisi. Dengan pola rima yang teratur akan menimbulkan irama tertentu sehingga ketika puisi itu dibacakan akan terdengar lebih indah meskipun tidak dilagukan.

Selain pola rima, puisi juga memiliki pola bunyi. Terdapat dua pola bunyi: efoni dan kakofoni. Bunyi efoni dipakai untuk menghadirkan suasana keriangan, cinta, semangat, gerak, vitalitas hidup, kegembiraan, keberanian dan sebagainya. Secara visual bunyi ini didominasi dengan penggunaan bunyi-bunyi vokal. Bunyi efoni direpresentasikan melalui bunyi vokal /a/, /i/, /u/, /e/, /o/, konsonan bersuara /b/, /d/, /g/, /j/, bunyi liquida /r/, /l/, bunyi sengau /m/, /n/, /ng/, /ny/, bunyi aspiran /s/, /h/, dan konsonan /k/, /p/, /t/, /s/, /f/.

Sedangkan bunyi kakofoni dipakai untuk menciptakan suasana ketertekanan, keterasingan, kesedihan, syahdu, suram, haru, pilu, dan semacamnya. Secara visual ragam bunyi ini banyak memakai vokal /a/, /o/. /u/ dan konsonan /b/, /p/, /m/, /k/, /h/, /p/, /t/, /s/, /r/, /ng/, /ny/.

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...