Kamis, 23 Oktober 2014

Contoh Analisis Puisi Secara Struktural



Untuk mempermudah pembahasan kita, berikut adalah sebuah contoh bagaimana menganalisis puisi yang memfokuskan pembahasan pada struktur fisik dan batin yang terdapat dalam puisi. Puisi yang dipilih sebagai contoh analisis adalah “Doa Seorang Serdadu Sebelum Perang” karya WS Rendra yang ia tulis 18 Juni 1960. Berikut adalah kutipan puisinya secara utuh.

Doa Seorang Serdadu Sebelum Perang

Tuhanku,
WajahMu membayang di kota terbakar
dan firmanMu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal

05        Anak menangis kehilangan bapa
Tanah sepi kehilangan lakinya
Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia

Apabila malam turun nanti
10        sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara
Waktu itu, Tuhanku,
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusukkan sangkurku

15        Malam dan wajahku
adalah satu warna
Dosa dan nafasku
adalah satu udara.
Tak ada lagi pilihan
20        kecuali menyadari
-biarpun bersama penyesalan-

Apa yang bisa diucapkan
oleh bibirku yang terjajah?
Sementara kulihat kedua lenganMu yang capai
25        mendekap bumi yang mengkhianatiMu
Tuhanku
Erat-erat kugenggam senapanku
Perkenankan aku membunuh
Perkenankan aku menusukkan sangkurku

Dari sekian banyak karya yang diciptakan WS Rendra, Doa Seorang Serdadu Sebelum Perang adalah salah satu puisi yang tergolong istimewa. Puisi ini menggambarkan pergumulan batin seorang serdadu yang hendak berlaga ke medan peperangan. Serdadu ini mengalami konflik batin yang hebat karena ia harus melaksanakan tugas negara dengan membunuh serdadu musuh demi mempertahankan kedaulatan dan melindungi segenap tumpah darah negaranya.

Secara umum, puisi ini sangat menarik karena memberi gambaran akan dilema dan kebimbangan yang dialami oleh seorang serdadu. Di satu sisi ia harus berjuang membela bangsa dan negaranya dari penjajah. Di sisi lain ia juga harus melawan dirinya sendiri karena untuk tujuan pembelaan ini ia harus membunuh, suatu perbuatan yang sangat dibenci Tuhan.  Untuk memperjelas makna puisi yang terdiri atas lima bait dengan 29 baris ini, analisis mengenai struktur fisik seperti diksi, imaji, bahasa figuratif, dan kata konkret dan struktur batin seperti perasaan, nada, tema dan amanat akan dijelaskan secara terperinci.

Bait pertama menggambarkan sang serdadu yang sedang berdoa sebelum berperang. Dalam doanya, ia sepenuhnya menyadari bahwa “wajahMu (senantiasa) membayang” meskipun “kota terbakar” karena peperangan. Pilihan kata “terbakar” memberi konotasi peperangan yang sangat hebat sehingga menimbulkan kekacauan dan memporak-porandakan sebuah kota. Hal ini diperkuat dengan “ribuan kuburan yang dangkal” yang menunjukkan banyaknya korban perang yang dikubur secara tidak semestinya. Selain diksi yang konotatif pada bait ini, imaji visual yang tercipta pun sangat kuat. Kita dapat membayangkan kota yang memerah karena terbakar dan pemandangan ribuan kuburan dari korban yang tewas akibat peperangan.

Bait kedua semakin mempertegas kegetiran dan kepedihan yang ditimbulkan oleh peperangan. Ribuan anak menangis karena “kehilangan bapa” dan kampung halaman (“tanah”) menjadi sepi karena  para lelakinya harus pergi untuk berjuang di medan laga. Yang menjadikan suasana lebih menyedihkan adalah ironi yang diselipkan Rendra pada baris 7 dan 8. Bukan benih yang ditanam di tanah yang subur, melainkan “bangkai dan wajah mati yang sia-sia.” Kedua baris ini merupakan sindiran karena benih tanamanlah yang seharusnya ditanam. Sayangnya, karena peperangan yang hebat, para pejuang dan serdadulah yang terpaksa harus ditanam di tanah yang subur di kampung halaman yang telah banyak kehilangan para lelaki. Selain ironi yang kuat, imaji auditif juga dapat kita dengarkan lewat tangisan anak-anak karena para ayah gugur di medan perang.

Doa serdadu di bait ketiga menggambarkan konflik psikologis yang ia alami ketika malam turun. Perang yang lebih sering terjadi malam hari menyempurnakan dosa para serdadu yang harus saling membunuh. Makna ini tercermin pada baris 9 hingga 11. Perbandingan kata “malam” dan “warna dosa” mewakili majas asosiasi yang akurat. Kata “malam” diasosiasikan dengan kegelapan. Persis seperti “dosa” yang diasosiasikan dengan kekelaman. Pada saat malamlah “mesiu kembali lagi bicara” (baris 11). Yang juga menarik pada bait ini adalah ketika sang serdadu memohon izin kepada Tuhan: “Waktu itu, Tuhanku, perkenankan aku membunuh. Perkenankan aku menusukkan sangkurku” (baris 12-14). Ia sepenuhnya tahu bahwa membunuh merupakan salah satu pelanggaran atau dosa yang sangat berat. Namun ia tak mampu menghindar dari perbuatan yang sangat dibenci Tuhan ini yang sekaligus juga akan menyempurnakan dosanya. Ia memohon izin karena ia merasa berdosa kepada Tuhan atas perbuatan yang akan ia lakukan.

Bait ke empat semakin menegaskan makna yang telah disinggung di bait ke tiga. Bait ini dibuka dengan majas metafora “malam dan wajahku adalah satu warna.” Sang serdadu mengakui ia telah melanggar perintah Tuhan karena “dosa dan nafasku adalah satu udara.” Sebagai serdadu, ia tak memiliki pilihan meskipun ia menyesal atas perbuatan yang ia lakukan. Jadi, ia ingin mengadu kepada Tuhan bahwa ia tidak bisa menghindar dari perbuatan membunuh karena “tak ada lagi pilihan” (baris 19). Secara kasat mata, bait ini menegaskan konflik batin sang serdadu.

Bait terakhir merupakan klimaks dari puisi ini. Secara tidak langsung, sang serdadu menyatakan protes kepada Tuhan melalui pertanyaan retoris “Apa yang bisa diucapkan oleh bibirku yang terjajah?” (baris 22-23). Ia tahu bahwa Tuhan senantiasa berusaha merangkul umat manusia (bumi) meskipun lenganNya selalu capai. Namun, umat manusia selalu saja “mengkhianatiMu” dengan saling membunuh demi kekuasaan yang ingin mereka raih. Sebagai serdadu, ia hanya menghendaki kebebasan dan ingin melepaskan diri dari para penjajah. Karena itu, dua baris terakhir, yang juga merupakan repetisi dari baris 13-14, merupakan penegasan dari tekad sang serdadu untuk diperkenankan “membunuh” dan “menusukkan sangkurku.” Ironi juga nampak pada bait ini lewat “lenganMu yang capai mendekap bumi.” Meskipun Tuhan telah berupaya keras, perang tak pernah selesai di bumi karena manusia selalu berkhianat dan “lapar” untuk berkuasa.

Secara keseluruhan, puisi Doa Seorang Serdadu Sebelum Perang berhasil menghadirkan perasaan dan pergumulan batin seorang tentara yang akan pergi ke medan laga. Rendra dengan sangat akurat menggambarkan pergumulan tersebut dan memperkuatnya dengan memasukkan unsur religiositas (campur tangan Tuhan). Dalam puisi ini, sang serdadu tidak hanya berperang melawan penjajah yang harus ia bunuh, tetapi ia juga berperang melawan dirinya sendiri: membunuh perasaannya dan mengesampingkan dosa yang harus ia tanggung akibat perbuatan pembunuhan yang akan ia lakukan. Analisis struktural yang sistematis membantu pembaca  menangkap tema dan maksud penyair secara tepat. Melalui analisis struktur fisik dan batin puisi ini pula, pembaca menjadi lebih menyadari amanat yang ingin disampaikan penyair. (820 kata)

Daftar Semua Tulisan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...